tebing tinggi

kedekatan ku kepada seorang ayah rasanya kurang sekail, saya malah malu untuk bertanya duluan atau kami saling bicara sebagai teman, kadang apa yang ingin disampaikan melalui emosi atau bentakan, tapi saya sadar saya tak mau membangkang pada mereka, saya menjadi anak rumahan sejak kami pindah ke karawang, jarang sekali saya maen hang out bareng temen, kebanyakan waktu saya adalah di rumah, meski gak banyak aktifitas. menurut saya itu jelek ya, saya jadi kurang banyak berinteraksi dengan teman sebaya atau siapapun, saya malah gampang deket dengan orang tua, aneh memang. saya merasa sulit untuk dekat dengan teman sebaya tapi apabila udah klop kami akan sangat deket, tapi saya memiliki sifat yang konyol, penghibur dan gak ngebosenin hanya saja itu saja yang gak bisa aku kuasai yaitu mudah bergaul dengan orang.

kalo sedang di rumah pun saya kadang diem sepanjang hari, beda sekali ketika saya berguyon dengan teman saya, di rumah itu saya pendiem banget. makanya yang jadi kendala saya adalah saya kurang bisa berkomunikasi dengan para karyawan di rumah, kadang saya meresa mereka benci ama saya karena kalo kerja say diem dan khusu, saya juga mereasa jadi tidak nyaman banget dengan keadaan seperti itu. saya tak tahu harus mulai dari mana untuk mengubah sikap saya, saya jadi terbiasa mendiamkan suasana. lalu saya akan berpikir saya merasa terkucilkan akhir-akhir ini, atau saya kurang menyapa mereka. maknaya saya sekarng jadi males untuk membantu orang tua nyetak krupuk sejak kejadian hal ini, saya kurang nyaman ketika berada di lingkungan kerja, membaut saya tidak betah. saya berdiam di kamarpun hanya akan membuat orang tua saya ngomong dan membenci prilaku saya. tapi saya harus bagaiamana?

tadi pagi saya meminta maaf karena tidak bisa banyak bantu, saya juga tidak bisa menjelaskan apa alasanya, karena saya ucapkan pun saya akan terlihat seperti mencari-cari alasan saja, kami pun mengobrol, saya hanya mendengarkan apa yang ia katakan, saya tak banyak berucap karena saya tak tahu apa yang mesti di katakan, karena ayah saya justru menasehati ke materi lain, rupanya saya dianggapnya masih kurang bersyukur, masih belagu, dan buruk. memang tidak ada orang tua yang memebnci anakanya, dia mengatakan saya akan seperti apa di masa depan? dia takut saya akan kebingungan nanti jangan sampe pas ia tinggalkan saya akan menderita dan belangsak, dia menyampaikan kamu harus bisa meraih orang-orang, harus fokus, mencari apa yang saya inginkan, saya hanya diam saja mendengarkanya.

dia membandingkan saya dengan adik saya yang belakangan ini sering bantu, saya tak sepertinya yang mudah berguyon dengan orang lain, memang banyak yang mengatakan yang bakal meneruskan usaha orang tua itu adalah adik saya, ketika saya di vietnam saya mengirimi ayah saya pesan singkat, berisi saya mencintai mereka, maafkan saya dan sebagaianya. tapi saya dan ayah saya kurang komunikasi, saya malah berdiam dan tak banayk oceh. mungkin hanya Tuhan yang tau seberapa besaarnya pengaruh mereka pada kehidupan saya, saya mudah terharu dengan hal mengenai mereka, tapi saya malah ternilai kurang memliki rasa syukur, saya pun pernah berucap kepada adik saya, saya mungkin tak mau meneruskan usaha ayah, kamu harus lebih rajin, saya  sempat ucapkan perkataan itu.

yang jadi masalah saya sekarng ini, masa depan saya akan seperti apa, saya diberikan PR oleh ayah saya apa kemauan saya jika tak mau meneruskan usaha ini, saya sebenernya mau banget, berulang kali saya mgenjukan ususlan, tapi hanya sebatas seperti ocehan burung saja, dia justru menyalahkan saya, saya kan kuliah manjemen tapi saya tak menggunakan ilmu saya, padahal saya sering berontak membuat peraturan atau pemikiran saya agar usaha ini berkembang, yasudahlah saya menyerah. saya harus mencari apa yang akan jadi pegangan saya di masa depan. saya gak tau saya mesti gimana? haruskah saya menghindari terus kegitan ruamahan saya, mereka sibuk bekerja saya terus menghindarinya, karena saya kurang nyaman dengan keadaan seperti itu. mungkin dengan cara pelan-pelan saya harus lebih mendekatkan diri pada mereka.

di dalam doa saya ketika di depan danau west lake itu pun saya banyak berdoa, Tolong beri kami kemampuan untuk mengabdikan diri pada orang lain, mudahkan urusan kami, jaga orang-orang yang telah membantu kami, beri mereka imbalan yang baik Tuhan, saya ingin memkmurkan mereka, terima kasih saya bisa merasakan hal ayng demikian, harusnya mereka yang merasakan ini semua, beri mereka kemurahan rizky Tuhan! banyak banget yang saya doakan untuk mereka yang telah membantu keluarga kami, saya sangat beruntung bisa sampai sekarang dan pergi ke negara oarng.

ayah sebernnya sangat baik, meskipun dia keras, dia sangat memeperhatikan kami meski membuat kami kesal terlebih dahulu, saya memiliki keluarga yang sangat baik meski banyak maasalah terus berdatangan tapi saya rasa mereka dijodohkan pada saya dan saya sanagat berterima kasih pada TUHAN. hal lainya yang membuat mereka bergitu sayang pada anak-anaknya entah apa, kami diperlakukan adil tapi karena saya anak pertama saya mungkin agak diperhatiin, tapi masalah apapun kami diberikan hal yang sama, hanya saja saya banyak nurutnya dan gak aneh-aneh.

saya jadi terbebani, saya sebesar ini belum bisa memberikan apa-apa, hanya bisa menuntut kepada mereka, bahkan say abelum tau apa masa depan saya, saya selalu khawatir dengan semuanya, saya ketakutan setiap saat. saya belum cukup kompeten mengahdapi kehidupan ini, maknya saya berusaha untuk mengutakan kepribadian saya, mungkin saya harus berpetualang dengan nekad, saya ingin saya tergodog matang, saya selalu merasa kesediahn dan bicara pada Tuhan “tolong aku Tuhan!”.

aku memang banyak mendapatkan keberkahan dan keberuntungan yang terus berdatangan, entah mengapa ini bagaikan mimpi saya merasakan hal yang tak mungkin aku dapatkan sekarang,semuanya nyata. kami mengarungi kehidupan ini, makanya saya suka gak enak hati kalo berdiam diri, tapi saya kadang menikmati kemalasan saya, semakin kesini saya semakin malas saja, saya memikirkan karma, kejelekan ayng akakn aku terima di masa depan, pokonya biar saya bisa memerangi kemalasa saya . ayah saya tak suka kalo kami hanya berleha-leha saja di rumah, semuanya mesti beraktifitas, kadang saya merasa dia berlebihan mmeperlakukan kami dan orang lain, kami mesti kerja, dan kerja, dia berkata agara saya bisa dan tau.

entahlah ap ayang mesti saya lakukan sekarang, saya mesti kuliah dengan sungguh-sungguh, mencari masa depan saya, dan menggodog kepribadian, mungkin backpackeran di dalam negri selama mungkin. hmmmmm pusing!

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s