Surat untuk ayah

Ayah kenapa kita tidak seperti yang lain, begitu akrab dan hangat. aku tau aku belum bisa berbuat untuk kalian, dan aku juga masih minta-minta terhadap kalian. tapi kenapa ucapanmu begitu keras terhadapku, bahkan terhadap individu dalam lingkungan hidupmu.
sudah seringa kau memarahiku dengan alasan yang sama pada satu inti, kau seakan kurang puas terhadapku, aku seakan tak ada gunanya dan hanya membebani kalian.
ujang bukan gak mau membantu bapa, ujang juga sedang memikirkan ujang mesti bagaimana, tapi bapa selalu saja mengotori hati ujang supaya ujang kesel mendengar ucapan bapa, selalu ujang yang jadi bahan komplen.
kami rajin bekerja bapa begitu senang, saat kami tak kerja bapa mengira kami leha-leha, alasanya aku gini, gitu. bahkan suara alarm pun kau kira aku sedang bertelpon ria dengan orang lain, kapan aku melakukan itu. aku tidur jam 8 malam bangun pagi buta, ibu tak mau mencucikan bajuku, aku cuci sendiri, hanya karena aku jarang membantu pekerjaan bapa, bapa sebegitu kecewanya terhadapku seolah aku tak pernah berbuat apapun di rumah ini.
ketika pulang kuliah aku selalu berat untuk menginjakan kaki bahkan pulang dengan muka lesu, tapi aku selalu inign pulang ke rumah kalian, karena aku anak rumahan.
bapa berpidato sekencang-kencangnya, semua orang mendengarnya, pedagang, pekerja bahkan tetangga. aku di aniyaya, dirusak imageku.
setiap kau menggerutu seperti kuliah saja, atau terkadang seperti aku dituduh maling diantara jutaan manusia. kenapa kau begitu terhadap aku. bahkan kau berteriak menganjing-anjing ketika adiku belum bangun atau aku yang selalu disalahkan.
aku ingin sepertimu, aku ingin melanjutkan usaha ini. aku selalu mengatakan pada Tuhan bahwa kalianlah yang membuat aku seberuntung hari ini, aku memiliki ibu yang hebat, memiliki kamu yang pemberani, memiliki segalanya. aku sadar aku didiamkan tanpa kau bicara pun aku tak akan berfikir, tapi tadi pagi bapa sangat menyakitkan hatiku hingga aku tak ingin menghormatimu lagi.
ayah, aku pun memiliki pemikiran yang baik, ayah yang tak mau mendengarkan aku, kami, ketika aku berucap 1 kata ayah berucap 200 kata tanpa jeda, aku ingin mengembangkan usaha ini, tapi kau lebih senang aku bekerja seperti buruh yang lainya, waktuku lebih baik dihabiskan untuk bekerja, memang kami harus mengetahui dasarnya tapi aku kan kamu sekolahkan, bahkan kau selalu mengolok-olok aku bahwa percuma kuliah pun apalgi aku lebih tolol dari pada ayah yang tak banyak memakan bangku sekolah.
aku pun tak ingin hidup seperti ini, aku lebih baik tak lahir dalam kehidupan ini, aku malu dengan gelarku sebagai seorang pelajar hingga sekarang, aku harus bertanggung jawab pada masa depanku yang entah melayang dan gak tau seperti apa, aku sedang mengalami proses untuk mencari siapa aku, tapi kau ingin aku seperti apa? ingin aku cepat sukses atau gimana? aku pusing dengan kemauan bapa, yang bapa sukai hanya aku bekerja dan bekerja padahal selama ini aku bekerja pun aku selalu menjadi sampah yang teronggok tak ada yang memungut.
aku tuh mesti gimana sih? haruskah aku membangkang meninggalkan kalian, membiarkan ibuku bekerja kelelahan, melupakan kalian, aku tak tahan dengan kata-katamu yang bagaikan orang demo terdengar dimanapun dan tak tau tempat, aku bagaikan dilempar hingga keras menerima semua perkataanmu,
aku juga sedang belajar untuk segalanya, kenapa kau bilang aku tuh tolol, tak tau bersyukur dan segalanya yang buruk mengenaiku yang lebih sering kau mengucapkan hal yang aku takutkan, meramalkan nasibku yang buruk karena kau pikir aku leha-leha, menggunakan laptop, bermain ini itu.
kenapa kau tak mau berkomunikasi seperti yang lain denganku, kau tak tau betapa aku memiliki ide yang canggih buatmu, tapi kau tak mau mendengar, aku tau kau sayang padaku bahkan kadang kau memperhatikan aku ketika aku diam sendiri. aku pun tak tau aku begitu sayang pada kau Ayah yang keras.
yang aku mau jika kau inginkan aku menjadi pemimpin, aku belajar dengan caraku dan kau pantau, toh aku gak banyak gaya seperti yang lainya,, kau memiliki mobil aku tak ingin menggunakanya, aku tak banyak maen diluar, aku ikut membantu kalian. yang tak kau tau dan tanyakan adalah pemikiranku seperti apa.
kau terburu-buru menghujatku dengan berbagai hal, ini-itu kau sebut dan semua unek-unek terhadap diri kamu,
ayah kau adalah pemimpin keluarga dan pemimpin usaha ini, semua ini telah kau raih dengan perjuangan yang tak lama yang membuat aku terurai air mata ketika mengulasnya, aku bangga denganmu, sikapmu yang otoriter dan keberuntunganmu. aku takut kau harus mempertanggung jawabkan semuanya, berapa banyak orang yang telah membantu kita, aku takut kau begitu keras terhadap mereka dan terlalu menuntut. aku bukan bermaksud untuk mengajari orang tua tapi selama itu bisa dirubah ya perlahan mari kita rubah, tapi ayah semakin kesini bukan semakin menua malah seperti anak muda yang sedang berambisi.
jika memang berambisi sekali, mari kita bantu mensejahterakan yang lain, beri orang lain kesempatan, perlakukan mereka dengan sifat pemimpin yang lebih arif, mari kita kembangkan untuk lebih besar lagi. mari kita tambah pasilitasnya dan manajemennya mari kita perbaiki, tak usah melihat dan mematok aturan serupa pada bidang yang sama, karena ini usaha kita sendiri, kita yuang mengatur, kita yang punya andil. mari berdayakan masyarakat sekitar dan beri kelayakan.
banyak sekali ilmu yan gmasih belum aku dapat darimu, bahkan kadang teori otoritermu memang berguna untuk mengatur ketimbang menggunakan cara yang baik. ayah aku belum tau apa tujuanku apa yang menjadi fokusku. aku sedang memikirkan segalanya.
tolong ayah dan mari kita perbaiki semuanya!
bersambung/

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s