sesingkat itukah di malaysia

check imigrasi di johor bahru, ada beberpa pertanyaan tapi saya kembali menunjukan tiket pesawat kepulangan saya, dan akhirnya saya masuk negara tersebut yang sering sekali bermasalah dengan negaraku, saya kebingungan keluar lewat mana, akhirnya saya keluar dan berhenti sejenak saat melihat counter turism malay, saya mengambil beberapa brosurr yang sangat bagus sekali, berbagai suguhan brosur itu mengenai tempat wisata di malaysia, hebat sekali ya. saat itu counter akan segera tutup, saya pun turun kembali untuuk mengambil bus yang tadi, rupanya itu bus berhenti semua di situ dan saya mesti menunggu bus ke larkin bus terminal untuk seterusnya menuju ke melaka,saya tak memiliki unag kecil hanya memiliki selembaran5o Rm, saya tak bisa menukar di area tersebut bayar pake singapore dollar aja tidak bisa karena susah dan gak mau ribet, kami harus membayarnya sebelum naik bus di pintu bus tersebut, untung ada seorang ibu yang mau membayari saya, saya jadi merasa tidak nyaman kalo di bayarin orang lain, sepanjang jalan saya hanya bersyukur dan memperhatikan jalanan di malaysia. sesampaianya di terminal aku berpamitan dengan ibu dia juga menunjukan dimana saya dapat mencari bus kelas c, meski bus kelas c bus sangat bagus dan bersih begitupun kursinya nyaman banget seharga 19 Rm saya bayar, tiket sudah di tangan saya pergi mandi dan mencari makanan, saya kembali ke bus, bus akan berangkat jam 2 siang, saya menikmati hidangan yang saya beli yaitu nasi dengan ayam yang sambalnya saos dan ada sup hangat.

bus mulai berjalan, ada beberpa bule yang menuju tempat yang sama, di sampingku adalah seorang wanita yang sedang hamil dan cantik, dia adalah istri orang malay yang berasal dari pilifina. dia seoarng mualaf dan akan mengunjungi suaminya atau apalah. kami berbicara menggunakan bahasa english yang saya sendiri terbata-bata sekali tapi tak apalah, saya pun tidur sejenak hingga sampailah saya di melaka.

saya membuka note saya. beberapa alamat penginapan dan tujuan singkat saya tulis, di dekat terminal sebenarnya ada sebuah penginapa yang murah, tapi saya mencari sebuah mall di melaka, saya bertanya kepada orang-orang di mana mall tersebut. saya pun di suruh mengambil bus panorama berwarna merah, lama sekali saya menunggu kedatangnya hingga saya hampir salah bus karena terus bertanya kepada orang-orang.

saya pun naik kedalam bus, ada beberapa bule yang telah masuk kemudian bus berangkat dan masih sangat lowong, saya membayar satu ringgit, saya bingun mau berhenti dimana, kemudian saya masuk ke area seperti kampung china dan melihat banyak wisatawan di area tersebut, kulihat lagi ada bangunan gereja merah bata tua yang banyak saya lihat di foto teman-teman di facebook, saya pun turun karena bus juga berhenti di situ, saya turun dengan kebingungan dan ya saya menjeprat-jepret sebisanya, hanya saja banyak sekali orang asia yang berkunjung saya pun meminta orang china memotretkan saya beserta bangunannya namun pelit dan gak mau, bikin jengkel aja tuh.

saya berjalan kemanapun saya melangkah karena saya tak mempunyai peta kota tersebut, hanya note saya saja yang berisi beberapa nama penginapana, saya pun berjalan-jalan seputaran itu saja dan ya saya tak tahu mau kemana di tempat itu, saya mengelilingi chinatown yang saat itu masih terasa ada perayaan apamah, lupa. karena ada banyak hiasan-hiasan yang terpajang di area tersebut, cukup lama saya di area tersebut dan menjalan malam keadaanya sangat sepi sekali hanya aroma china-china yang tercium di hidung saya dan belum bersahabat dengan indra penciuman saya ini.

bekal saya semenjak dari singapura hanyalah makanan-makana kecil, roti gepeng belum habis saya makan, saya bertanya kepada beberapa orang di mana saya bisa mendapatkan kembali bus ke terminal, saya di beritahu untuk menghentikan bus di jalan, lalu saya ditunjukan kembali ada sebuah pos yang bisa saya gunakan untuk menunggu dan itu pos khusus bagi bus panorama, saya melihat ada jadwal bus itu akan berhenti.

mulai mendung langit di awan yang mulai menghitamkan dunia ini, sudah jam 7 malam namun seperti sore hari, saya ikut menunggu dengan penumpang lainya, tak lama bus datang, kami  bersiap. rupanya sangat penuh sekali saya pun tak jadi menaiki bus tersebut dengan berfikiran kalo bus lain mungkin akan datang dalam durasi beberpa menit setelahnya.

permasalahan dimulai dari sini, saya menunggu hingga beberapa menit, matahari makin meredup, tukang beca di gedung merah tadi sudah kembali dan saya menyaksikanya mereka pulang dengan cepat dan terdengar suara dangdut indonesia dari becak hias mereka, saya memotret bebrepa benda. hujan mulai turun, saya sendirian menunggu bus datang, telah satu jam saya menunggu namun itu membuat saya jengkel dan saya sedih, mata saya telah berkaca-kaca dan saya ingin pulang, ada seseorang yang datang menghampiri, rupanya dia hanya berteduh saja, ada juga orang china yang rumahnya berada di sampingnya sempat menanyaiku hingga dia saksi mata saya menunggu bus panorama hingga beberapa jam.

saya memutuskan untuk jalan kaki, padahal waktu sudah larut saya takut saya tidak akan mendapatkan bus menuju ke penang malam itu, saya pusing saya harus segera cepat untuk sampai ke terminal padahal itu jauh banget. saya terus berjalan dan menengok ke balakan jalan, takut kalo ada bus dan saya malah jalan terus. sambil jalan saya menengok ke belakang terus dan tak ada bus yang seperti bus panorama saya pun bertekad untuk jalan kaki, melewati gedung-gedung yang tinggi, hotel-hotel, sekolah dan tempat umum lainya, saya terus saja jalankaki sambil bingung melihat jalan yang seperti jalan tol ketika belok kiri dan di pinggir jalan ada pembatas jalan yang tak menyediakan jalan untuk pejalan kaki, saya malu kepada orang-orang ketika saya berjalan mepet-mepet dipinggir sisi jalan. saya terus berjalan dengan perasaan campur aduk, saya sempat berfikit untuk tidur di pinggir jalan di rumput yang dihalangi oleh pohon-pohon yang baru di tanam. tapi saya tak berani senekad itu, saya pikir sebentar lagi saya dapat menuju ke terminal.

sepanjang jalan saya lalui rasanya saya ingin menangis, seperti biasa saya berjalan dengan cepat dan sedikit berlari kecil karena takut ketinggalan bus, mendekati sebuah mall yang lumayan besar dan bagus, di lampu merah saya baru mendapatkan bus tua yang bertuliskan tujuanya ke terminal, saya menaiki dan membayar ongkosnya, ternyata terminal tidak begitu jauh dari situ. setelah saya turun di terminal saya langsung menuju ke tempat dimana saya dapat mendapatkan bus menuju penang butterworth. beberapa orang menujukan dimana saya dapat membeli tiket bus tersebut.

di dalam sebuah ruangan yang didalamnya terdapat beraneka macam counter bus membentuk lingkaran saya mendapatkan bus dengan satu harga, semuanya hanya memberi pilihan 1st class untuk malam hari, sehingga mau tidak mau 45 ringgit saya bayar, saya sempaat menawar beberapa ringgit dan diberikan sesuai harga yang saya mau meski berkurang hany 3 ringgit. saya membeli air minum dan pergi ke toilet.

saya duduk sesuai dengan nomor kursi, tapi kemudian si penjaga counter tadi yang sangat ramah dan lucu melihat tingkah saya dan masih sangat muda itu menyuruh saya untuk duduk di depan dekat dengan televisi. hmm

namun tak ada acara yang membuat saya asyik, tidak ada selimut di kursi itu, hanya kursi yang disediakan sangatlah nyaman sekali, banyak penumpang yang telah masuk dan kami pun berangkat, saya duduk di lantai dua bus. jalanan sepanjang jalan sangatlah bagus sekali dan saya tidur dengan nyaman, saya mengamankan barang-barang saya dan kembali tidur.

sampai-sampai butterworth saya lewati, suara supir dari mic sangatlah kecil, saya sempat mendengar sebenernya. saya pikir bus itu tujuan akhirnya adalah butterworth makanya saya santai-santai saja, hingga sampai pagi hari saya tiba di kota perbatasan malaysia dengan thailand, saya ditegor oleh supir. dari senbuah mic saya hanya mendengar “mau berhenti dimana kalian?” saya pun berhenti karena disitu adalah pemberhentian terakhir. saya pun kebingungan saya bertanya ke bebrepa orang, dan mereka mengatakan bahawa kota yang saya tuju telah terlewati, akhirnya dengan muka kusam baru bangun saya memutuskan untuk ke hatyai saja. di sepanajang jalan dalam bus tadi hati saya sangat resah sekali, saya menyadarai bahwa tujuan saya telah terlewati.

karena tujuan saya ke hatyai akhirnya saya mendapatkan seorang teman yang sama juga akan pergi ke perbatasan tersbut, etah siapa dia, kami akhirnya memeututskan untuk pergi bersama dengan menggunakan sebuah taxi kaena tidak ada alteratif lainya untuk sampai ke perbatasan, saya kemudian seutju dengannya dengan membayar masing-masing 10 ringgit, setelah sampai di perbatasan saya check untuk keluar negara tersebut, pria itu akan menunggu nanti di perbatasan thailand, karena dia tidak perlu check keluar negara tersebut. saya sebenernya ingin buang air kecil tapi keadaan toiletnya jelek banget, yasudah saya memutuskan untuk menaahan keinginan saya itu, beberapa pertanyaan dilontarkan ke pada saya, tapi lolos aja tuh, ada orang yang menawari saya transportasi tapi saya menolaknya, saya memilih jalan kaki saja, saya beratnya kepada tentara malay yang sedang berjaga disana karena saya tidak enak saya akan berjalan kaki menuju perbatasan thailand. setelah saya menunjukan identitas saya, mereka mempersilahkan saya untuk berjalan lurus, ada banyak anak muda yang sedang dilatih atau telah belajar, banyak sekali tentara di dalam area yang berpagar itu, saya sendirian berjalan dan saya berfikir bahwa mungkin orang yang tadi telah pergi

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s