stranger seketika di hatyai

menjelang pagi hari ketika saya melewati kota penang karena ketiduran saya memutuskan untuk menambahkan kota tujuan berikutnya yaitu phuket. saya tidak memasukan kota ini karena saya tidak ingin menghabiskan banyak uang di kota ini sebelumnya, tapi hati saya tetep kekeh pengen ke phuket.

setelah melawati imigarasi malaysia saya disambut dengan tulisan welcome to thailand, banyak sekali alat transportasa pagi itu, saya semakin mendekat, masih terasa asing karena banyak sekali orang di area tersebut, lebih ramai dari pada pasar atau bahkan terminal.

saya bingung harus kemana saya mengecheck pasport saya untuk masuk ke negara ini, saya bertanya ke pada beberpa orang dan mereka menawarkan jasanya untuk mengurusi, merka sedang berkumpul seperti memainkan catur atau kartu remi, merka menyuruh saya pergi ke sebuah meja menuju seorang wanita berkerudung yang akan memberikan form. mereka meminta saya kembali setelah mendapatkan form tersebut, saya kan cuma bertanya dimana saya bisa mendapatkan kartu form tersebut, malah jadi gini. banyak orang yang mengantri di salah satu gate, mereka adalah rombongan dari bus, seperti wisatawan asal china atau apalah.

saya mendatangi wanita itu, dia meminta pasport saya, di meja itu ada keranjang berisi uang recehan dan saya bertanya dalam hati, bayarkah? benar saja sudah ada tulisan yang menyuruh kami mendonasikan 2 ringgit. ya mungkin itu untuk membayar jasa yang ia berikan tapi saya tidak membutuhkanya, saya masih mampu atau ini hanya polotik orang lokal saja. mau protespun gimana?

rasanya tidak ikhlas memberikan uang tersebut padahal kita sesama muslim, haruskah dia melakukan kegiatan seperti itu terutama kepada saya.

saya kemudian mendekati orang yang menuduhkan kami, sebnernya sih bukan mendekati namun melihat tingkah saya dan orang tadi itu menyurh saya mendatanginya kembali setelah saya mengisi form tersebut, saya di arahakan ke sebuah pos, seorang petugas memintaku mengikutinya. saya ada di dibelakangnya, dia memasuki ruanganya yaitu pos yang berisi komputer, dia menggunakan seragam dan dia memintaku mambayar jasanya sebesar 10 ringgit, karena uang receh ringgit saya hanya tinggal 8 ringgit lebih, saya menawarnya seharga itu, dengan merengek sedikit akhirnya stempel thailand saya dapatkan juga.

saya berjalan lurus, ada beberapa orang menawari saya untuk naik transportasi, saya berfikir karena itu perbatasan mungkin saja terminal tak akan jauh dari situ, saya berjalan lurus berpura-pura mendengarkan musik, saya berhenti ketika melihat teman yang share taxi bareng saya lagi, dia mendekati saya dan bilang kepada saya bahwa jika saya ingin pergi ke terminal untuk mendapatkan bus saya harus menggunakan mini van yang ada dihadapan saya.

saya bertanya apakah ke terminal dekat dari sini, dia menyarankan saya untuk bersamanya naik van, saya pun membayarnya setelah bertanya kepadanya. karena uang saya masih dalam jumlah besar saya hanya memiliki uang lembaran 50bath saja. dia memberiku 5bath lagi dan dia memberitahu bos minivanya bahwa tujuan kami sama. lama saya menunggu ada penjual makanan seperti halnya penjual nasi uduk di dekat rumah, namun yang mereka jual adalah aneka makanan dan sepertinya bihun dan makanan lainya. ada juga bikshu yang pagi-pagi telah berkeliaran dan saya melihat cara warga sekitar meminta doa kepada bikhsu tersebut.

banyak anak-anak yang akan berangkat ke sekolah, sama saja seperti di Indonesia jam 7 lewat mereka baru pergi sekolah, menaiki sebuah truk mini yang di desain sedimikian rupa hingga membetuk mobil dengan atap dan kursi panjang di kedua sisnya, ada juga anak-anak yang berdiri nangkel di belakang mobil.

saya melihat perbedaan malaysia dengan thailand padahal mereka berdekatan, saya lihat kabel listrik ruet dan lebih parah dari pada kabel yang ada di atas atap rumah saya. tiang listrik pun sama, ada sebuah hotel di situ dan toko-toko yang sepertinya itu adalah sebuah pasar.

saya pun menaiki van tersebut dan van sudah terisi penuh kami berjalan dan cukup jauh sekali saya sampai terkantuk-kantuk namun kursi tidak begitu nyaman agak keras. saya berfikir apabila harga jasa mengantar saya ke terminal sebesar itu mungkin tempat yang saya tuju jauh juga ya, padahal saya berkata kepada teman saya kalo saya ingin jalan kaki saja, haduh bisa-bisa sore hari saya sampai.

beberapa orang turun dan naik ke dalam minivan tersebut., saya pun mulai melihat keramayan, sebelumnyayang saya lihat hanyalah kebun yang masih belum dimanfaatkan dan aneka usaha pinggir jalan sepanjang menuju ke terminal, kami memasuki area pasar traditioanal. yang unik dari pasar ini adalah payung yang digunakan untuk memayungi jajakan barang yang mereka perdagangkan, tak seperti di pasar kita yang kebanyakan kumuh dan butut, di pasar ini begitu biasa saja namun cukup bersih.

saya bersama orang yang saya temui itu turun setelah mendekati terminal, cukup dengan berjalan kaki sebentar saja maka kami akan menemukan terminal apalagi dia yang termasuk tahu menganai lokasi tersebut, tujuanya adalah bangkok, saya sebenernya merencankan setelah berkunjung dari hadyai saya akan langsung ke bangkok atau surat tani, namun di bus malay yang membawa saya ke perbatasan membablas hingga saya melewati kota penang akhienya saya memutuskan untuk berkunjung ke phuket yang sangat terkenal itu di thailand. awalnya saya berniat untuk menggunakan kereta dengan terlebih dahulu menuju surat tani.

namun saya tetap dan berusaha memantapkan hati untuk tetap ke phuket saja, selain saya memilik buku yang ada petunjuk mengenai kota tersebut saya pun ya menambhkan kota ini.

dengan membeli tiket dan bersusah ria menanyakan ini itu menggunakan bahas inggris. saya mendapatkan bus untuk pergi ke phuket. beberapa saat kemudian pintu bus dibuka, tercium aroma wewangian dupa dan bunga yang bercampur dan masih asing dalam hidungku. mungkin begitu cara mereka berdoa meminta perlindungan dari Tuhan.

saya duduk sendiri di bagian dua kursi, saya tak berniat membeli apapun untuk makanan selama di dalam bus. saya hanya membaca buku mengenai phuket yang tak banyak saya keathui dan tak saya siapkan menganai informasinya.bus pun berangkat dan saya tertidur.

sesekali saya menyadarkan diri utnuk tidak menyia-nyiakan moment melihat sekitar sepanjang jalan di selatan thailan, ada perbedaan dalam motor yang saya amati ketika melihat para pengendara motor, hujan pun mengotori kaca mobil menimbulkan embun.

hutan yang masih lebat dan pegunungan yang selalu terlihat di pinggir jalan, semakin lama semakin banyak sekali gunung atau bukit yang menjungkal seperti batu besar tak beraturan. saling membentuk bentolan besar dan banyak sekali, mungkin inilah kota krabi.

saya membeli dua bunggkus telor puyuh, di dalam bungkusanya terdapat bungkusan kecil seperti kecap namun aneh rasanya, saya tak manyantapnya hanya telor puyuh saja yang saya makan.

kemudia saya was-was di mana sebenernya terminal bus phuket itu.

 

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s