mobil butut menuju ibukota laos

pagi hari telah berkeliling kota vanvieng sendirian, agak sejuk tapi masih terlihat gersang di kota tersebut. sungai yang mengalir berair bersih dan kesibukan warga pagi hari itu, kota ini memang terkenal untuk kalangan traveler yang berkunjung ke laos. namun tak ada yang begitu menarik bagi saya selain wisata sungainya hanya mungkin karena kota ini dikelilingi gunung.

2 teman saya yang berasal dari korea masih belum bangun, mereka berencana hari ini untuk menyewa perahu kecil dan bermain wahana air di sana, tapi mereka seperti memikirkan lagi hal itu karena saya tak akan melakukan hal yang sama. sepertinya mereka ingin melanjutkan perjalananya bersama saya.

si ibu pemilik bungalo menyambut saya dengan menawarkan kopi atau teh yang tersedia di depan gang, saya meminta segelas kopi dengan krim. saya diperbolehkan menggunakan komputer tapi tidak terkoneksi ke wifi padahal signalnya kenceng sekali selama berada di kamar semalam, wifinya nyala terus bahkan saya bisa menggunakanya di kamar semalaman.

beberapa bule menimbang bajunya yang akan di laundri, saya membayar biaya sewa kamat malam tadi seharga 40ribu kips, saya berdiam diri di depan kamar dan menikmati signal wifi yang menghubungkan saya ke internet untuk berkomunikasi dengan teman saya di tananh air.

ibu yang baik hati, ucapanya lembut dan belum bisa berbahasa inggris dia hanya tersenyum-senyum dan mengiyakan semua pertanyaan saya. tak lama kemudia dia berganti pakaian menggunakan pakaian yang indah berwarna biru tua seperti kebaya.

dia berniat akan ke pasar pagi itu, mungkin dia akan belanja sesuatu setelah menerima beberapa tamu hehe.

berdiam di kamar dan mengeringkan pakaian, hanya ada seorang wanita yang sedang membersihkan area bungalo saya mengucapkan salam, kemudian bebenah barang-barang bawaan.

saya berniat untuk meninggalkan kota itu pagi ini. teman saya belum pada bangun, akhirnya saya meninggalkan mereka tanpa berpamitan, udara yang dingin mulai panas oleh sengatan matahari yang semakin meninggi namun jalanan begitu gersang dan berdebu sekali, sampai saya tak tahan dengan keadaan itu, baju, ransel dan sepatu terlihat menggundukan debu di sela-sela.

terminal cukup jauh, bukan cukup lagi malah sangat jauh tapi saya selalu hajar dengan berjalan kaki, setelah sampai di terminal ada dua alternatif menuju ke vientiena yaitu dengan menggunakan truk dengan bak terbuka tapi ada tempat duduk di sisi kiri dan kanan juga terdapat atap yang dapat digunakan untuk menyimpan barang, selain tak nyaman dengan jalanan yang butut sekali di vanvieng, berdebu pula saya lebih memilih menggunakan bus.

berbincang dengan seorang wanita bule, kemudian bus datang aduh jelek banget sih, si supir tak ingin berlama-lama di terminal mungkin mengejar target ya, belanjaan mulai diturunkan dan ya ampun bener-bener dah banyak sekali udah gitu sayuran, daging dan segalanya berceceran air dalam karung sepertinya berasal dari karung yang berisi daging, bau amis. saya mencari possisi untuk duduk, sudah lumayan banyak yang menggunakan bus ini termasuk bule dan warga lokal hingga akhirnya bus meninggalakan terminal.

cuaca yang begitu panas menghembuskan debu yang terus bertebaran, hanya ada kipas angin yang berisik di atas bus untuk mengurangi dan menetralisir debu yang masuk. tidak ada kenyamanan saat itu tapi saya selalu berusaha menentramkan diri saya ketika dalam suatu keadaan hingga saya jarang sekali mengeluh.

lama-semaki lama bus semakin penuh dengan penumpang yang memberhentikan di jalan, dan yang uniknya adalah ketika semakin berjejalan penumpang di kenek yang kebetulan ada wanita yang mungkin adalah istri si supir menarik jok yang orang duduk, contoh saya duduk di pinggir kaca sebelah kiri, saya  disuruh untuk mengangkat pantat saya terlebih dahulu dan si wanita itu menarik sedikit jok agar yang harusnya jok dipake oleh dua orang kini tiga orang pun bisa duduk meski tak begitu nyaman. disebelah saya telah duduk seorang cewek muda seperti pelajar juga tapi eits rejeki kali hehehehhe.

ampun deh ini penumpang ampe dimuat semuanya, jalanan bagus dan berkelok-kelok di dominasi oleh hutan yang tak begitu bagus, masih banyak sekali debu bertebaran mungkin negara ini adalah negara dengan debu terbanyak selain yang memiliki gurun pasir. sapi-sapi berkeliaran dimana-mana dan tiba-tiba bus berhenti.

sinting ternyata berhenti untuk mempersilahkaan para penumpang buang air, dan di tempat yang seperti ini lah mereka buang air, tanpa penutup, air dan tempat yang pasti. sinting udah kaya binatang aja bener-bener kemabli ke alam tuh yang kaya gini kali ya.

kemudian bus berlanjut lagi dan berhenti lagi di pom bensin penumpang pun pada turun, yang menyebalkan adalah para bule, semuanya sebel dan saya pengen teriak membentak mereka karena tak tahan banget sih untuk merokok, dengan santaianya mengeluarkan rokok dan membakarnya sinting apa, gimana kalo bus ini meledak. jadi sebel saya dengan tingkah para bule gak menghargai banget mencontohkan hal yang tidak baik, kebebasan padahal harusnya mereka menghargai norma karena mereka tamu setidaknya membatasi diri terlebih dahulu.

bus melanjutkan perjalanan semakin lama seperti ke kampung banget tak ada kelihatan seperti mau ke kota besar, ibukota gitu loh. agak sedikit ramai semakin lama gedung, wat, toko, mall yang akan dibangun, wah sepertinya sudah sampai. kami berhenti di central terminal dan widih keren juga ibu kota laos. dan turun lalu menghindari tukang ojek, tuk-tuk, taxi dan lainya.

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s