remember

mengingat masa kecil dan ibu yang selalu mengulang banyak cerita yang sangat membuat saya sedih dan ngenes. saya bahkan tak mengira semua ini akan terjadi pada kehidupan kami kelak. disaat saya menginjak remaja Tuhan memfasilitasi saya dengan berbagai hal yang tak perlu memikirkanya secara dramatis. dari situ saya sangat bersyukur walau kami belum bisa menunjukan rasa itu.
kami berjuang dengan sangat keras, apalagi ibu kami yang mungkin waktu itu sangat banyak pikiran ditambah 2 anak yang harus diperhatikan, keuangan yang sulit di kampung tersebut dan ayah yang jarang paling atau ngasih wesel ke kampung.
perjalanan itu membuat saya beruntung mengalaminya, ada rasa dimana saya bisa membatasi diri saya untuk melakukan hal yang tak baik dengan melihat masa lalu.
ibu pernah membuka warung nasi di jakarta, dia bercerita begitu lakunya berjualan disana, sehari bisa menghabiskan berkarung-karung beras, bahkan ketika saya ditinggal ibu ke pasar, saya memakan banyak telur yang sudah dikulub, hingga akhirnya banyak bisul di lutut saya hingga membekas sampai hari ini.
siang hari tempat jualan ramai, malam harinya ayah dan ibu tidur di bawah meja jualanya dengan tempat seadanya. ibu mampu membelikan ayah motor Rx King yang bisa dipakai untuk jalan-jalan bahkan ayah berhenti bekerja dan membantu ibu di warung.
ayah kemudian mengajak kami pulang ke ciamis dan membuka usaha donat disana, atas iming-iming teman dan melihat usaha orang lain mungkin. usaha itu tak berjalan sesuai rencana, kami mengalami kebangkrutan dan kerugian terutama ayah saya hingga ia jarang pulang ketika memutuskan berdagang kerupuk lagi di jakarta.
ibu jarang mendapatkan wesel dari ayah, kami hidup terlunta-lunta. ibu semakin mengurus badanya padahal ketika muda dia bilang gemuk.
saya mana tahu ada hal semacam ini karena masih kecil, dibenak saya hanya bisa bercanda, namun saya juga tahu kami hidup tidak begitu senang, bahkan saya dan adik mendapatkan uang jajan yang didapat dari telur ayam kampung yang ditukarkan ke warung kakak ipar ibu. “jang, ka wa iti, mamah ngajual endog” saya membawa telur itu dan uwa saya membayarnya seharga 500 rupiah, saya mendapatkan 300 dan adik 200.
saya sering menyimpan uang di bawah batu yang deberi tanda daung kering di atasnya dan pada saat pulang saya ambil uang tersebut untuk jajan.
saya habiskan waktu untuk bermain dengan yang lain, dari situlah petualangan saya yang tak ada habisnya, saya sering mengajak teman pergi kemana-mana, apalagi kalau sudah berenang di sungai yang berbatu, sudah saya bakal lupa waktu.
entah mungkin karena lapar kala itu, makanan apapun serasa nikmat. tidak ada makanan enak untuk dimakan, bahkan buah-buahan pun asam rasanya.
saya sempat menjual buah jambu, salak ke sekolah. satu biji seratus rupiah. jambu saya dapatkan dari pohon yang ada di depan rumah nenek, saya tak bilang karena mungkin akan dimarahi. entah mengapa buah jenis ini banyak di daerah kami bahkan busuk di pohon karena tak ada yang mau mengambil, tapi dagangan saya selalu habis, itu mungkin karena mereka merasa kasihan atau gimana, tapi masa sih masih kecil mempertimbangkan rasa kasihan untuk membeli. saya berkeliling sekolah ketika istirahat menawarkan kepada teman-teman.
saya juga terkadang mencuri uang, entah mengapa dari kecil saya suka sekali apapun yang mahal, aneh memang.
ketika kami mengalami kebangkrutan, itu merupakan pukulan besar dan masa kelam kami selanjutnya, ibu yang sering ditinggal ayah menyebabkan ia ingin menyusulnya ke jakarta, ibu mencoba meminjam uang kapada saudara dan tetangga, tapi mereka tak ada yang mau memberi bahkan seribu rupiah saja. apalagi nenek saya terhadap menantunya pun tak memberi.
ayah sempat pulang membawa sedikit uang, ketika ia akan kembali ke jakarta pun menyuruh ibu meminjam uang, ibu pulang dengan bingung karena tak ada yang mau meminjamkanya. sedih rasanya.
hampir 4 tahun kami mejalani kesusahan itu, ada anak balita yang ibu pijat karena salah urat atau perut kembung, ibu suka mengurutnya dan anak tersebut selalu sembuh. banyak sekali yang meminta ibu untuk memijatkan mereka, alhamdulillah semuanya sembuh, saya senang sekali kalau ada pelanggan yang membawa banyak jajanan warung ketika ke rumah minta di urut.
di jakarta pun sama, ketika kami libur sekolah ibu mengajak kami pergi menyusul ayah, ibu juga banyak memijat orang lain, dan selalu mendapatkan pujian.
aku sempat mendengar saat aku sudah remaja, saat muda ada seorang ibu china tua yang kakinya kesakitan, dokter menyarankan ia untuk di amputasi. ibu melihatnya dan memegang kakinya, lalu ibu menwarkan jasanya untuk memijat kakinya. semua anaknya marah hanya ada satu yang memperbolehkanya. ibu bahkan akan dihukum jika memperparah keadaan wanita tersebut, tapi ibu berniat menolong dengan ucapan ibu yang menerima ancamanya ibu ikhlas membantunya, hingga lama-kelamaan semakin membaik dan sembuh TOTAL. ibuku ingin dijadikan menantunya karena anaknya pun menyukai ibuku, bersyukur ibu entah gimana ceritanya tidak jadi, karena kalau seperti itu mungkin saya tidak akan lahir.
ibu sering menerima fasien, saya senang. kami sering diantar jemput untuk memijat seorang bidan, saya menunggu ibu sambil melihat akuarium besar berisi ikan lele kuning dengan corak hitam dan hiasan.
ibu pernah disangka berselingkuh tapi saya tak mengetahui hal itu, ayah mulai berkeinginan mencari tempat usaha di karawang, karena saat itu ayah membantu pembangunan rumah saudaraku di daerah teluk jambe dekat pabrik pindo deli, ayah dan ibu juga sempat tinggal mengontrak di sana, namun kali ini ayah seperti mendapat semangat.
dia pulang dan memberitahukan keinginanya, peralatan pun ada yang akan menjual dan ayah membelinya, seakan banyak jalan saat itu dari Tuhan, ayah juga mendapatkan tempat untuk usaha, dan di pulang ke kampung untuk menyiapkan segalanya.
ayah banya menebang bambu, entah untuk apa? kemudian saat urbanisasi tiba.
saya dan adik ditinggal setahun karena kami masih sekolah dan usaha ayah belum berjalan sehingga kami tinggal bersama nenek.
ayah, ibu, kerabat dan orang-orang yang membantu pergi. ayah tak mendapatk sepeser pun kucuran dana dari ayahnya/kakek.
saatnya saya menyusul mereka, saya diantar oleh paman dan ketika saya datang biasa saja tak begitu kaget dengan keadaan, yang penting saya bisa berkumpul dengan orang tua, setelah sekarng saya suka sedih kalau mengingat itu dan menjadikan motivasi saja.
perjuangan ayah sangat ekstra kala itu, saya mulai beadaptasi dengan lingkungan kota, di belakan pojok kanan rumah kami ada pohon randu besar, yang konon kata orang disana angker sekali, rumahku pun tepat di pinggir tanggula johar. kalau sudah magrib heningnya minta ampun padahal tak jauh dengan keramaiana, memang agak angker lokasinya namun selama kami tinggal disana suasana seperti itu tak ada tuh, bahkan setelah kedatangan kami jadi ramai, orang lewat jam tengah malam pun sekarng makin berani, kalau dulu boro-boro.
tak terasa usaha kami sudah beberapa tahun, ayah memikirkan untuk membeli tanah dan banyak sekali yang menawari, kami sekarng memiliki lahan yang cukup luas dan tenang sudah memiliki tanah sendiri, tapi ayah tak mau membuat rumah yang nyaman untuk kami, dia hanya membuat pabrik-pabrik, bahkan kamarku segede ruangan small karokean dan ibu tidur di wateg, tak ada ruang keluarga, tamu, makan dan ruangan lain. tapi saya bersyukurlah.
saya bisa mendapatkan pendidikan hingga sekarang, tak seperti anak muda lain yang harus bekerja ekstra seperti kebanyakan pegawaiku.
ayah dan ibu sampai sekarng tak pernah berleha-leha, tidur paling larut dan bangun paling awal, hebat sekali mereka. aku tak akan bisa seperti mereka.
saudara saya yang dikampung semua tak ada yang seperti ayah saya, mereka kadang jadi tergantung kepadanya. ayah memang hebat dari dulu ia selalu membimbing banyak orang hingga ia mampu sampai sekarng, ia juga loyal pada pekerjaanya. namun orang-orang banyak sekali yang berpikir negatif.
saya banyak belajar dari mereka, bagaimana mereka menjalani semua,mungkin pada dasanya orang lain pun sama seperti itu, namun saya tak ingin berbuat buruk untuk mereka, ada banyak yang menjadikan saya berpikir ulang ketika ingin melakukan ini dan itu.
sungguh luar biasa, semoga saya bisa sepertinya dan ayah membeli tanah di kampungnya, karena semua tanah ia jual ketika akan pindah, hanya ada warisan.
rencananya kami akan membuat kolam ikan dan saung tempat kami istirahat ketika mudik.

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s