hociminh I am coming

Tiba di hociminh sekitar jam delapan malam, hujan mengiringi perjalanan kali ini. Ya saya sudah memperkirakanya dan melihat ramalan cuaca bahwa sudah memasuki musim hujan. Tadinya saya akan menginap di bandara, mrmang sepi karena hanya pesawat kami yang tiba saat itu. Saya sudah dudum di kursi yang banyak tersedia dan nyaman jika digunakan untuk tidur, sama sepeti kursi tunggu di bandara kita. Dalam buku sihmanto dia bisa tidur di ruang keberangkatan tapi saya bingung mau kemana dan takut ditanyai petugas. Saya kemudian check in dan sedikit ditanyai oleh petugas. Rata-rata petugas pada judes¬† dan menyeramkan pantesan warga sini menang melawan amerika sekalipun. Saya akan menggunakan ojek motor karena mungkin jauh lebih murah dari pada taxi. Bus airport juga sudah off jam segini. Padahal saya telah bertanya ke petugas dimana saya bisa mendapatkan ojek tapi saya malah bertanya kepada taksi ke bui ven street deket ben then market. Supirnya tidak bisa bahasa inggris dia mai. Oke, oke aja dengan permintaan saya. Akhirnya saya naik dan argo dinyalakan, asli ngeselin penghitung uang makin bertambah dan mobil jalanya pelan banget, udah gitu jauh lagi jaraknya tapi saya gak terima dengan harga 190.000 dong. Jauh lebih mahal dari pada harga penginapan, ya sudah say coba ikhlaskan. Saya berjalan dan melihat beberapa hotel, ada dua petugas muda yang kemudiab saya tanyai, “do you know hostel or guesthouse?” si petugas itu malah kebingungan. Lalu muncul bapa-bapa dengan membawa payung dan menawari, saya ingin yang $5. Orang itu malah ngedumel dan petugas tadi malah pada ketawa. Saya jalan dan berulang nanyain harga pebginapan lalu akhirnya saya dapat juga yang $5. Saya bayar dengan menggunakan dong karena harganya akan jauh lebih murah meski beberapa dong saja soalnya saya dapat nilai tukar $1 = 20.800 dong. Lumayan kan nombokin ongkos taksi gila. Naik ke lantai enam yaitu lantai palibg atas, “hah kok gelap, ini pintu kok kebuka?” ada dua kamar yang satu gudang dan yang satunya terdapat kasur rapi. Tapi lantai diluar becek karena ini balkon paling atas sehingga air tergenang dan ada sedikit air yang masuk ke dalam. Saya simpan ransel dan masih bertanya “masa sih gak ada kuncinya?”. Saya kebawah dan menutup pintunya seperti di penginapan biasanya saya tekan tombol penguncinya dan ke bawah. Aduuh gempor dahk naik turun. Kemudian saya tanyakan kwmbali kunci tersebut dan tetap dia bilang tidak ada. “saya menutup pintunya karena takut tas saya akan hilang” dengan bahasa inggria terbata dan lupa apa yang mau diucapkan, dia hanya mengeluhkan dan bilang kalo tidak ada kunci, saya mulai kebingungan dan berkata akan mencobanya lagi. Masih tidak bisa dan saya turun lagi, kemudian kami mengobrol sebentar dan saya pasang muka melas, tapi tetep gak bisa. Dia menyarankan untuk tidur saja di kamar lain dan besok akan diperbaiki, saya ingib berkata “tapi saya tidak enak hati” tapi tak bisa berkata itu cuma bilang sorry saya menyesal. Dia berpikir dan mencoba memanggil orang yang akan benerin, lama kami menunggu dwngan mengobrol sebebtar dan datanglah orang itu. Si empnya penginapan bilang “nanti kasih $1!”, saya keatas bareng orang yang akan memperbaiki dan saya melihat iya membuka kotak kacamata berisi kunci dan cuma diteken tanganya tidak dioprek sama sekali pintu kebuka, padahal tadi ampe saya remes-remes gak kebuka. Saya masuk dan mengeluarkan uang pecahan 5.000 dong 2 lembar, pura-pura bodoh dengan melihatkan uang itu kepadanga. Namun dia tetep mau $2/20.000 dong. Ya sudah saya kasih lalu saya termenung dan mengelua dada. Asatagfirullah. Niat ingin membeli makana. Saya urungkan karena udah badmood duluan, padahal selama di bandara soekarno hatta saya sudah lapar dan ingin makan, hanya memakan bebrpa potong ayam yang dibekal dari rumah. Saya melihat ada pesan dari adiku “aang keur naon didinya?” tak saya balas pesab itu, saya mukai melihat fotonya dan foto ibu. Saya mulai menangis kembali sebentar dan optimis perjalanan kali ini harus bahagia. Tak berakhir sampai disitu saya mulai bingung dengan malam ini, tidak ada kunci dan bagaimana saya bisa tidur tenang kalo keamanan barang-barang saya hilang. Modar aduuuhbmmm saya tak akan bisa tidur kayaknya.n

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s