menikmati riverside

malam itu tak berniat untuk menginap di Phnom phen, ibukota Kamboja. seharian muter-muter hingga saya kembali ke night market yang berada di area turistik. cukup jauh siang tadi saya berjalan, mencari kedubes dan masjid.

perut ini sudah sangat lapar sekali, mencari penjual makanan yang membuat khawatir dengan jualnya akhirnya saya memilih untuk membeli makanan di kedai seperti mc donal street tender. rupanya nasi dan fried chicken sudah habis, yasudah terpaksa membeli kentang goreng seharga $1 dan tidak terlalu banyak.

namun dari tadi saya terus melirik penjual makanan yang rame sekali, bukan makanan biasa yang ada daging-dagingnya. kali ini makanan seperti penjual kolak atau sajian manis.

kucoba dekati dalam kebingungan reaksi orang-orang yang aneh melihatku dan aku aneh mau berbuat apa. lalu kutunjukan tanganku ke berbagai baskom aluminium itu, aku mencoba memberi pemahaman padanya agar dia memberiku apapun. lalu kuserahkan uang $1 dan kemudian dia mengambil pelastik lalu membungkuskan beragam jenis, ada kacang merah, kedelai mede, waluh, nasi ketan dan lainya. kemudian diguyur santan yang kental.

4bungkus saya dapatkan, dengan es serut yang disimpan terpisah kini aku membawa dua kantong pelastik besar, tinggal air minum saja yang belum saya beli.

ransel berada di agen bus yang akan saya tumpangi dan membawa saya ke kota candi siem riep. waktu tersisa cukup lama, tak ada hasrat untuk berbelanja di night market yang sepertinya masih baru itu. lalu aku mendatangi kursi-kursi tembok yang berada di riverside. kehidupan malam itu bisa kunikmati dengan berbeda, sungai yang membentang ini memberi sedikit aroma kehangatan. (karena rumahku dekat tanggul)

kulahap makanan tadi, berawal dari kentang goreng. lalu kunikmati bungkusan kacang tadi, satu bungkus sudah membuatku kenyang. beberapa orang tidak waras lewat dan saya berikan kepadanya. tepat dihadapan saya juga ada orang berkulit hitam legam tidur meringkuk dengan pakaian yang sudah kusam. nyanyian rihanna, beyonce terdengar menghentakan tubuh, kulirik ke belakang ternyata sebuah bar berlantai dua. terlihat ada sepasang yang sedang berdialog mesra.

tak bisa aku berdiam cukup lama, kuberika stu bungkus kepada orang gila yang tidur tadi, lalu kembali ke penginapan. dan satu bungkus sisanya jatuh ke jalan. sayang sekali. berdiam menunggu bus menikmati chargeran dan wifi di agen bus virak buntham. ada seorang pria yang seumuran denganku mengjak ngobrol. kami pun berbincang tentang perjalanan dan segalanya. cukup menarik sampai kami harus berpisah.

dan bus pun membawa langkahku ke kota berikutnya. siem riep (angkor wat)

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s