Ke Jakarta naik Kereta

kalo ingin murah ke Jakarta ya pake kereta, meski pake bus juga tidak begitu mahal namun harganya 24% dari tiket bus. harus murah dan harus berangkat lebih pagi, maklum saja 2 kereta disiapkan untuk mengangkut orang-orang yang siap berbisnis ke kota seputaran jakarta. bedanya di kereta ini kalo weekend tidak terlalu banyak penumpang, beda dengan pas hari kerja yang bisa masuk ke dalam aja udah bersyukur.

ada dua kereta dengan harga sama dari Karawang sampai ke Jakarta kota itu Rp. 2.500,- dan kereta yang pertama berangkat dari purwakarta dan keberangkatan dari karawang sekitar jam setengah enam pagi. sedangkan kereta yang langsung dari statsiun karawang berangkat jam enam pagi dengan harga tiket yang sama, tentu dengan berangkat dari karawang kursi kosong, dan akan semakin penuh ketika mengangkut di beberapa statsiun menuju jakarta.

sekitar dua jam, karena kepagian saya pilih kereta yang paling awal. memang beberapa kali naik saya selalu lupa jam-jam keberangkatan kereta. memakirkan motor dan pergi, saya pun dapat tempat duduk dan ya menikmati perjalanan selama 2 jam lebih menuju statsiun Kota dimana kebetulan acara yang akan saya hadiri berlokasi di Musium Mandiri Kota Tua.

karena acara akan dimulai pada jam 11 pagi, dan saya telah datang lebih awal akhirnya menuju pusat Kota tua, berkeliling sekitar dan membeli camilan juga sarapan. kala itu saya memilih bubur yang rasanya ilfil untuk dimakan, para pedagang tidak serius, keliatan jorok dan saya tak begitu nafsu jujur buburnya gak enak, harganya mahal lagi sepuluh ribuan. saya pun berkeliling melihat orang-orang dengan komunitasnya atau sedang melakukan syuting. begitupun anak sekolahan. melihat anak perempuan yang masih SMP merokok di belakang mobil dan berkata tidak patut dicontoh lah. sampah dimana-mana, bangunan tak terurus, jalanan yang terus diperbaiki (kapan pemerintah berubah, di ibukota aja banyak yang mesti diperbaiki), bikin ngeselin dan gak bangga sama sekali.

saya pun melihat tukang pembaca garis tangan, tapi malu hanya mengamati mereka, lalu saya kembali ke pusat kota tua. ada hiburan dari oraganisasi seni jakarta saat itu, saya pun duduk di pos pengamanan. terlihat beberapa bule serombongan sedang jalan-jalan. melihat kota tua yang seperti itu aduh kalo saya jadi bule pasti mengeluh “betapa gak menariknya tempat ini, gerobak dimana-mana, air bau, sampah belatak, tanaman gersang, pagar-pagar kecil gak ditata serius, weleh banyak dehk”.

sekitar 50 menit di pos pengamanan dan duduk sambil smsan, lalu saya menuju ke musium karena beberapa teman sudah hadir. nah kali ini saya mencoba garis tangan karena mengamati mereka dan si pembaca menarik saya. saya pun tergiur sih karena saya suka dengan hal-hal kaya gitu. (cerita baca kartu nanti ya)

setelah acara berakhir saya mengecek ke statsiun yang tak jauh dari musium, rupanya masih ada dan jam 17.33 kereta akan berangkat, ada satu jam lagi rupanya. saya pun ingin makan nasi dan memilih untuk masuk ke CFC. saya memilih paket 3 yaitu nasi, ayam dan coke seharga Rp. 19.900,- dan saya ingin kentang goreng lalu menambah kentang goreng dan total harganya tuing jadi Rp. 37.500,- gila mahal banget. saya gak peduli saat itu. lama-kelamaan sya ingin mengeceknya di kertas bukti belanja. dan liat harga kentang goreng senilai Rp. 14.500 dan itu gak ukuran gede, ukuran kecil gila mahal banget. kalo 20.000 aja dapet 3 item ini 15.000 cuma dapet 1 item kecil gila lebih mahal dari pada ayam goreng. ya kesel lah saya mau mengeluh ke siapa lagi. (maaf ya CFC tapi masa sih semahal itu kentang apalagi krisis kentang saat ini).

lalu saya naik kereta dan membaca buku, anehnya perjalanan kali ini memang tidak berhenti di beberapa statsiun di jakarta, namun lamanya minta ampun ampe banyak yang kegerahan, beberapa orang mulai kesel dengan hal ini, saya selalu mendiamkan dan menyamankan diri.  dengan kesabaran yang ingin murah ya mesti tetep tenang. udah gitu banyak penjual lusuh banget, saya tak semangat untuk membelinya. saya cuma berpikir jangan salahkan INDOMART atau ALFAMART karena mematikan usaha para penjual kaki lima, ya karena orang sekarang bukan lagi pada produk yang dijualnya, tapi pelayanan terhadap segalanya dan yang paling penting sadarnya kebersihan. melihat kondisi kereta seperti itu juga sepertinya sih memang cocok dengan mereka yang berada disana, apalagi kereta dengan harga murah yang siapa saja bisa masuk tanpa batasan dan aturan baik. bahkan para pembersih yang  digaji KA pun tak ada gunanya sama sekali hanya tinggal ngecek apa yang telah dibersihkan si tukan sapu yang meminta duit setelahnya.

saya menggunakan kereta dari bangkok ke Chiang mai sekitar 11 jaman dan kereta dilengkapi window terbuka dalam jumlah banyak, dan ada kipas angin pula, tapi malam hari tidak dingin sama sekali, tapi ini udahmah tidak ada batasan penumpang, ampe metet dan jendelanya seperti jendelan kebanyakan. sinting banget setidaknya sirkulasi di dalam kereta terjaga dan baik untuk penumpang. meski murah ada baiknya dan kerenya kalo bekerja dengan serius. saya yakin orang-orang bisa berubah.

memang perlu waktu lama untuk merubah masyarakat dengan kondisi ekonomi yang sangat kecil dengan pola hidup yang lebih baik, karena mereka pun bekerja pada tempat yang membuat dirinya berlaku dan bergaya hidup dibawah kelayakan, tapi jika seperti ini terus sepertinya kriminalitas itu sendiri dibangun oleh pemerintah, tidak ada yang mau meningkatkan nilai hidup seseorang untuk lebih baik. mereka malah seperti terlihat banyak beban dipundak dan semakin buruk kelakuanya. membiarkan jendela-jendela menjadi lubang pembuangan sampah, sehingga penyebaran sampah itu merata sampai pelosok tanah air, melihat hutan-hutan yang daunya bergaul dengan sampah yang menempel. huh kapa ya ada perubahan. yang paling mengerikan tidak ada yang serius menjual produk dirinya sendiri. udahmah miskin pola makan maruk tapi jorok jadi banyak penyakit.

belum lagi pembangunan sarana transportasi yang taka da habisnya di pulau jawa saja. kapan sih pulau lain diperhatikan jika di ibukota dan kota-kota di pulau jawa saja belum tuntas. (kesalahan pada orang yang tukang borong dan pemerintah yang memberi kepercayaan pada pembangunanjalan yang ingin murah terus) akibatnya gila jalan cepet rusak agar cepat diperbaiki lagi, biar banyak duit yang dapet tender.

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s