IBUku sayang dan hidupnya

hentakan batin mengusiku dalam pemikiran jahat pada keluarga ayahku. kadang dia selalu membodohkanku, karena gayaku yang tak begitu serius atau sering membalutkan ucapan dengan candaan atau terkesan tidak memahami kondisinya. begitupun ketika ayah dan ibu marah, pasti ayah berkata bahwa keturunan ibuku yang bodoh, lalu ngomong ngalor-ngidul. aku sering menyaksikan hal ini sejak dari SMP sepertinya.
kembali ke masa ketika aku telah lulus sekolah dasar, awal karir ayahku dirasa belum cukup mampu untuk membiayaiku sekolah di kota, dan dia mengirimku kembali ke Ciamis untuk sekolah, dia meminta ibunya atau neneku untuk mendaftar ke SMP di desaku. boro-boro dapat formulir, liat gerbangnyapun tidak sama sekali. aku sih tidak begitu peduli kala itu, aku bisa bermain di kampung sepuasnya. namun beberapa bulan kemudian, aku kembali ke Karawang.
saat itu masih satu semester, di SMP Sanawiyah sepertinya masih bisa untuk mendaptar dan mengejar ketertinggalan. namun semua berkas tertinggal di Ciamis dan aku pun menunda kelanjutan sekolahku selama satu tahun. jadi setelah SD saya libur satu tahun tanpa kegiatan yang menambah ilmu di bangku pendidikan.
Ayahku keterlaluan cueknya, aku dan Ibu pergi ke SMP 6. disana aku mendaftar dan bisa masuk, biaya pertama saja sayang untuk dikeluarkan olehnya. ya Ibu berjuang untuk pendidikanku. sampai saat ini, jika aku mengingat hal itu. Ayahku sebenarnya yang BODOH dan bukan ibuku. dia sama sekali tidak berniat membentuku untuk naik kelas sosial. aku mungkin tidak akan seperti ini tanpa dukungan ibu, mungkin aku tidak bisa menulis blog dan bergaul bersama orang-orang dalam lingkungan pendidikan.
kejadian itu benar-benar memuakan jika diingat, dan aku semakin kesal jika benar-benar aku tidak sekolah sampai hari ini, Ayahku. entahlah apa yang menaungi pikirnya, hingga sampai sekarangpun rasanya pendidikan yang aku dapatkan seolah tak bermakna untuknya. ‘percuma elu sekolah, percuma elu jungkir balik solat’ dan lainya sering dia lontarkan. hujatan dan hinaan yang terngiang menjadikan mentalku haruslah sekuat baja. padahal jika dilihat dari apa yang dia miliki sekrang, harusnya tak perlu risau dan gelisah. istri yang sangat baik dan solehan, anak-anak yang rajin, rezeki yang makin baik.
kenyerian ini mungkin nuansa yang harus kami jalani dalam keluarga ini, aku selalu percaya bahwa jodoh itu menyatukan sifat kita dengan personal yang melengkapi kita. senyeri apapun cerita ibu yang kudengar akibat pertengkaran/perselisihan malam lalu, aku cuma bisa berkata, bahwa bagaimanapun kalian telah disiapkan untuk siap dengan perlakuan masing-masing. namun seperti ‘adat sudah kekurung iga’ sifat egoisme dan keangkuhan ayah sudah melekat menjadi jati dirinya, tak ayal sebenarnya dia banyak mempertanyakan masalah-masalah yang datang pada dirinya, padahal jawabanya adalah cara kepemimpinanya yang sudah BASI.
ibuku sayang, sudahlah, jangan hanya mengejar duniawi lagi. engkau telah cukup lelah dari kecil hingga sekrang selalu pak-pik-pek dengan pekerjaan. kau sungguh mulia, ayah yang sudah memiliki duniawi saja, kau masih menggunakan uangmu untuk keperluanmu dan sebenarnya lebih banyak dirimu yang menyokong anggaran rumah tangga. sempatkanlah untuk ibadah, karena sesibuknya kita, asalkan bisa menyempatkan itu pasti bisa dilakukan. banyak berzakat dan lebih mendekatkan diri padaNYA. sudah terasa, materi banyak kalian dapatkan, namun hati semakin risau dan gelisah.
aku mungkin akan mencoba melupakan mimpiku untuk Working Holiday Visa dan Beasiswa S2 di Eropa. aku akan segera bekerja, agar bisa membuatkan istana dan menyamankan dirimu pada kegiatan yang benar-benar bisa engkau nikmati. maafkan aku jika semua terlihat terlambat, engkau kini tak mendukungku untuk kuliah sampai setinggi langit, engkau bilang gak perlu kuliah, kerja saja di perusahaan. aku ingin marah mendengarnya, tapi engkau ibuku, aku akan buktikan dari hasil perkuliahanku.
meski ayah tetep tidak bisa ditempas sifatnya itu, jujur aku lebih merindukanya ketika berada di luar. dia membuat aku memiliki rasa rindu yang tak terkira, ya sekolahku hampir putus karenanya, tapi dia itu orang baik banget, sempurna banget, seorang pria galak dengan hatinya yang sensitif dan lembut. pria yang semakin hitam legam karena melelahkan dirinya sendiri, tidak mendengar ide-ide yang dapat meringankanya. aku muak denganya tapi aku mencintainya.
kalin orang-orang yang hebat di hidupku, kalian memiliki dunia yang orang lain inginkan, tapi kalian masih hidup dalam kesederhanaa, bahkan tidurpun di kamar yang sempit dan menghirup asap obat nyamuk.
semoga kalian berumur panjang dan diberikan pemikiran baru oleh ALLAH SWT.

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s