aku dan keberagaman

aku mengerti, kadang untuk melihat lebih jauh pesona bumi ini, tidak perlulah menjadi seseorang yang fanatik atau berlebihan dalam menanggapi hal-hal yang memang agama tertentu menganggapnya tidak sejalan. melihat dunia luar justru sangat membuat cara pandang kita makin beragam.
saat itu aku memang beralasan untuk melatih dan menambah pengalaman dengan cara melihat negeri orang. ternyata ekspektasi yang aku pikirkan melebihi harapan tersebut. entahlah, aku kesulitan untuk menggambarkan itu semua, yang jelas hal itu yang mungkin membuat orang menjadi ketagihan untuk traveling ke luar negeri.
dari keberagaman itu, tentu saja seperti melakukan study banding. meski perjalanan yang dilakukan sederhana atau tidak memiliki landasan pendidikan formal, aku yakin dengan cara apapun, cara berpikir setidaknya terpengaruh dari apa yang pernah kita alami di perjalanan.
aku tidak bisa menutup buku catatanku untuk kegiatan seberharga ini, ingin aku tambah stempel-stempel negara lain di paspor berwarna hijau ini. karena aku yakin, saat itu aku menjadi pribadi yang berbeda, aku seperti dekat dengan Tuhan, hatiku terus bergetar, ingatanku dan curahan hatiku akan orang tua dan orang-orang yang berharga menyesakan dada.
menikmati kaki yang keletihan akibat dari jalan kaki selama setengah harian, berlomba-lomba untuk semakin susah, menikmati aroma dari toko makanan dengan aneka ragam dan tentu saja terus memperhatikan isi dompet dan menahan nafsu makan.
di jalanpun tak semudah di tanah air, menjadi muslim pun menjadi keuntungan tersendiri, memilah-milah makanan dan berusaha untuk menahan nafsu berlebihan. untuk itu rasa lapar kadang membuatku menjadi peka, membuatku muncul rasa haru, tapi bisa juga membuat amarah, namun tidak dilakukan karena itulah traveling, mengajarkan kita untuk berdamai dan menahan.
dunia ini semakin panas, seorang individu terus mengeluh dan menggerak-gerakan kertas dan benda lebar serta ringan lainya yang bisa memberikan sensai berupa angin, mereka merasakan semakin kegerahan, membeli atau menyalakan pendingin ruangan menjadi salah satu alternatif terbaik untuk memusnahkan kegerahan. namun apa yang terjadi, penggunanya semakin banyak dan tak ada lagi yang peduli bahwa hutan/pohon pun bisa membuat nyaman. itulah kehidupan, kadang kita harus menyamankan diri kita, agar kita bisa mengendalikan diri dari perubahan yang signifikan.

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s