Menumbuhkan semangat

aku kembali membaca buku, sambil nyetak kerupuk di mesin cetak yang gak mesti dituntut terus dipantengin, membuatku bisa melakukan banyak pekerjaan selagi menunggu kerupuk yang keluar dari mesin cetak persatu-dua menit sekali. buku-buku yang kumiliki masih banyak belum dibaca, apalagi buku yang lumayan tebel-tebel dan dari kemarin buku mengenai beasiswa selalu kubawa-bawa ketika beraktifitas, mengajar anak-anak TPA. aku menunjukan pada mereka dan memberikan motivasi. 

kuambilah buku tersebut dan kubaca, sebelumnya buku tintin telah selesai dalam waktu beberapa jam saja dan kini giliran buku mengenai kisah orang-orang yang mendapatkan beasiswa sekolah di Luar negeri.

sampai berakhirnya waktu kerja, hampir kulahap semua isi buku, beberapa kisahnya bikin aku merinding dan terkadang ingin meneteskan air mata. aku serius sekali dan tak berakata apapun ketika bekerja jadinya. aku kembali menemukan semangat diriku yang jarang sekali aku dapatkan dari luar beberapa hari terakhir ini, bahkan aku belum menuliskan banyak kisah mengenai perjalanan ke India, entah mengapa males nulis dan inipun aku tulis di warnet sambil upload foto dan keyboardnya lebih enak.

memang aku ingin sekali mendapatkan beasiswa, tapi aku kembali harus mikir mengenai keberlanjutan usaha orang tua yang semakin kesini semakin krisis pekerja, sebenarnya tidak begitu, hanya saja budaya ayahku tidak bisa dirubah dan diskusi bersama dia terasa begitu sulit. tapi disisi lain juga aku harus bersyukur dengan hal ini, aku bisa bekerja dan mengumpulkan pundi-pundi, namun namanya juga manusia, terkadang apa yang dia kerjakan hari ini tidak diinginkan tapi menginginkan melakukan sesuatu yang ada di pikiranya.”andai gue bisa pegang komputer dan gak kerja, pasti udah banyak yang akan gue pelajari.” ya seperti gitu-gitulah.

ada kisah dari salah satu orang di buku tersebut yang membuatku berkaca-kaca, yaitu orang yang tuna netra tapi akhirnya bisa luar biasa dengan kehidupanya. semua kisah itu memberikan banyak sekali keinginan dan pemikiran baru.

memang bisa saja aku mengejar impian dapat beasiswa, tapi dilain hal, jikapun aku tidak mendapatkan hal itu, aku bisa hebat seharusnya dengan cara yang lain. tapi apakah ini wajar yang dialami oleh anak seusiaku, dimana seakan membingungkan apa yang harus aku lakukan di masa yang akan datang.

aku ingin menjadi bagian dari orang-orang yang menurutku telah hebat dalam hidupnya, contoh paling dekat adalah ayahku, atau teman-teman yang aku temui beberapa tahun ini, aku merasakan aura yang berbeda dan semangat yang berbeda, bisa menjadikan mereka sosok yang inspiratif dan aku bisa memunculkan pemikiran-pemikiran yang bisa membuatku semangat terus. aku selalu bersyukur terhadap jalan ALLAH ini, aku beruntung sekali bisa mengetahui dan memiliki cara berpikir yang seperti ini. 

kini impian apapun harus aku usahakan dahulu, termasuk menjadi unggul dari pada yang lain, mengumpulkan poin-poin yang akan mendukungku di masa yang akan datang baik secara materil atau secara suport dan doa. 

 

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s