OMG, Hari Ayah

kalo bukan karena FB. Mana mungkin saya tahu jika hari ini adalah hari Ayah. dan siapa yang peduli lagi dengan hal itu (di keluarga kami). kami tak mengenal deh perayaan-perayaan atau hari spesial untuk seseorang. semua hari adalah seperti biasa, datar. tapi bagi generasi seperti saya, walau tidak diekspresikan terhadapnya. adalah keinginan untuk menuliskan sesuatu sebagai tanda jasa bagi orang tua, khususnya ayah di hari ayah.

hobinya memerintah, sesekali melontarkan bahasa kasarnya serta mengatakan kata yang membuat saya bersikap reaktif. misalkan seperti ini, setelah bekerja aku malas membereskanya atau menunda pekerjaan itu. memang dia baik menasehati agar aku lebih tanggung jawab lagi. tapi nasehat itu justru terdengar memarahi dan kata-kata yang digunakan begitu membentak. seketika saya naik darah dan berteriak atau melemparkan sesuatu.

hal-hal demikian sering sekali terjadi, atau misalnya adeku menggunakan handphonenya untuk maen game, dia membentaknya dengan perkataan kasar dan suara yang sangat keras sekali, teriak.

kadang kala aku kesal dan tidak mau berbicara padanya lagi selama-lamanya, aku sudah muak menghadapinya, komunikasi diantara kami begitu buruk sekali. aku tak bisa menjelaskan dengan baik apapun kepadanya, semuanya aku katakan dengan tergesa dan tak jelas maksudnya, seringkali aku jadi tak nafsu untuk bicara, hingga bingung bagaimana bicara dengan baik ketika menjelaskan.

semenjak kepulanganku dari India, semua berubah. pekerja borongan itu kini beralih menjadi pedagang, ada yang mengoper pekerjaan, seorang pedagang memberikan langgananya kepada ketua pekerja bagian produksi, itupun mereka lakukan pas menjelang lebaran, karena orangtuaku di Ciamis (Kampung halaman) semua. yang memiliki langganan itu berhenti dagang. akhirnya kami tidak memiliki pekerja bagian produksi, sementara ayahku telah membuka cabang di CIkampek dan banyak pedagang yang pindah ingin berdagang. bagaimana kami bisa mensuplai, sementara para pekerja pun tidak ada.

akhirnya mau tidak mau aku bekerja, hampir semua perusahaan kerupuk memang mengalami krisis mengenai pekerja. aku sudah males deh bahas hal ini dengan ayahku, dia tidak mau move on dengan gaya kepemimpinanya dan kebijakan kepada anak buah. hal ini pula yang membuat aku berpikir, bagaimana mungkin aku bisa bener-bener independen dalam mengimplementasikan semua pemikiranku dalam usaha ini selama masih ada bayang-bayang dirinya yang tak mau percaya dan seolah tak mau mendengarkan.

aku pun menjadi jarang mendengarkan apa yang dia jelaskan, dia jadi lebih sering berkomunikasi dengan adiku ketika ingin menjelaskan sesuatu, aku hanya fokus bekerja saja (titik). meski dalam otak ini berbagai gambaran diriku dalam membentuk bisnis ini. aku tak pernah menunjukan iya atau cari muka untuk meneruskan usaha ini, aku muak denganya. semakin hari semakin membuat kesal. aku malah kasihan kepadanya, dia terlalu berambisi mencari kemakmuran hidup di dunia.

aku berpikir lagi, mana iya juga dia gak memikirkan aku, sementara aku juga kuliah. apakah dalam hatinya dia juga menginginkan agar aku tidak terganggu dengan kuliahku atau kegiatanku, meski dia tidak melepaskan diriku 100% dari jenis pekerjaan lainya. aku juga berpikir, mungkin dia ingin melatih mentalku juga, dan secara tidak sadar aku bisa menghilangkan rasa pesimis ketika bekerja. semakin bisa aku bekerja dengan baik, perasaan pesimis seperti dulu tak begitu besar lagi.

ketika aku meminta uang dan dia memberi dengan baik, dia pun sudah mulai menyuruh dengan nada baik. mungkin dia ingin mencairkan suasana, karena aku udah mau berkomunikasi denganya lagi. tapi sekali membentak itu luar biasa menyakitkan, padahal aku sebagai anak, kalo dipikir-pikir rajin banget, tanpa caper atau ingin dipuji, aku bahkan mau bekerja. bahkan tengah malam aku rela bekerja sendirian, padahal kemarinya itu kami saling gondok-gondokan.

aku kasihan melihatnya, kulitnya hitam legam, tak peduli sinar matahari menyengat tubuhnya, tubuh yang begitu berpengalaman menjalani hidup. bagaimana ketika dia dihimpit berbagai masalah, apakah dia meneteskan air mata disela kesunyian. bagaimanapun dia adalah pahlawan dalam hidupku, aku tak mungkin bisa seperti ini, uraian dirinya selalu tak cukup. dan dia yang aku ridukan ketika jauh. aku senang memiliki ayahnya, pria berhati lembut bertubuh baja.

semoga ALLAH membenahi hidupnya agar lebih dekat padaNYA. jaga dia dan beri pelajaran agar dia semakin bahagia mejani hidup ini.

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s