pesona dan turistik

kota ini sepertinya sebagian besar pendapatanya adalah dari kunjungan turis yang datang. selain berada di pegunungan. segala sesuatunya telah ditata dengan baik dan mampu memadai apa yang turis butuhkan, apalagi terhadap tujuan wisata yang disediakan di tempat tersebut.

penginapan dari yang harga standar juga tersedia, jika mencari berbagai sovenir dan pernak-pernik unik khas apalagi jangan ditanya, saking turistiknya, ketika beramah tamah dengan penjual, lalu memberikan penawaran dan tidak jadi membeli, kebanyakan dari mereka jutek. aku tak begitu menyukai dengan tempat yang seperti ini, tidak ada waktu untuk kita saling berintim dalam komunikasi, semua harus terjalin ketika terjadi transaksi yang diharapkan.

namun tidak semua seperti itu, masih banyak juga penjual yang besikap ramah, seperti ilmu marketing di mana pelayanan dan kenyamanan menjadikan nilai plus dalam menggaet konsumen. cuman memang harga-harga yang ditawarkan itu mahal-mahal (menurut kantongku).

tapi bersukur money changer di sini sangat kompetitif dan bagus nilai ratenya. aku bahkan menukarkan sisa uangku sekitar 2 juta rupiah di sini, dari pada di kota-kota India lainya. memang ada untung dan tidaknya tempat itu terlalu turistik atau tidak.

jelas sekali makanan juga mahal. akupun tak patah arang untuk mencari tempat-tempat makan sederhana, bahkan terlihat kumuh. di dekat masjid Jami aku mencari gang-gang kecil, siapa tahu mereka menjual makanan di sana dan benar saja. ada beberapa tempat makanan yang cukup murah. dengan membayar 50 Rupee atau 10 ribu rupiah saya bisa menyantap nasi dengan sup kacang merah. untungnya ada garam, aku bisa menikmati dengan nikmatnya rasa gurih sup kacang merah. benar-benar citarasa Indonesia dehk, hampir mendekati.

ketika keesokan harinya aku harus makan di restoran yang desas-desusnya bahwa istri dari pemilik restoran tersebut adalah orang Indonesia, dan memang beberapa menu di tempat itu diberi Nama Indonesia, seperti ‘Nasi Goreng’. aku memilih Ladakh mie, rasanya seperti mie sedap soto tapi lebih enak Mie sedap. cukup mahal harga yang harus dibayar, mungkin yang kubayar sekitar kurang lebih 50 ribu rupiah.

tak begitu ada yang spesial selain aroma kotanya yang indah dan nikmat itu. kenapa juga denganku yang tak bisa menikmati kota berlama-lama. seolah tak ada yang spesial setelah semua tempat wisata dikunjungi. mungkin aku butuh sosial agar bisa nyaman di suatu tempat.

dini hari kami harus meninggalkan hotel. sunyi dan sepi sekali kota yang menarik ratusan wisatawan mampu menghadirkan kesenyian semacam malam itu. kuda-kuda berkeliaran dan anjing membuat perasaan khawatir menggonggong lalu mengejar. 

ahkkk kami harus berangkat, no kursi kami sudah ada yang menduduki, dan keadaan yang dari semula sudah membuat tidak nyaman dengan kursi-kursi belakang yang tak memberikan sensai nikmat sedikitpun. hanya pasrah dan berharap esok berlalu dengan cepat. 19 jam yang akan membunuh diri dari kekhawatiran rasa dingin yang memuncak di ujung kaki.

Image

ImageImage

 

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s