berjalanlah di muka bumi

siapa sih gue, oh iya lupa. alhamdulilah di usia gue yang 21 tahun gue udah bisa ngerasain gimana rasanya ke luar negeri. padahal kalo gue bayangin beberapa tahun yang lalu, keluarga gue pindah ke Karawang. rumah gue di pinggir tanggul, bilik-bilik butut, tak ubahnya seperti rumah gelandangan. semiskin-miskinya orang di desa gue tapi rumahnya masih lebih mending bentuknya dari pada rumah di tanggul itu. ya namanya usaha, segala sesuatunya harus dimulai dengan tekad yang kuat memaksimalkan yang ada meski hal itu bisa dianggap sesuatu yang mengenaskan ketika dilihat sekarang, tapi kami mulai dari rumah itu.

di pinggir rumah gue itu ada pohon kapuk yang gedenya minta ampun ampe orang-orang mengkeramatkan atau dianggap horor. abis magrib suasananya senyap, bapa gue juga terserang penyakit asma. kalo kami buang air besar juga di jamban pinggir tanggul. sebelum rumah gue yang di desa di jual, kami hidup di sana. bapa jarang sekali pulang. kebiasaan saat dia depresi karena pengalaman rumah tangganya yang sebelumnya menjadikan kami juga seperti jarang diperhatikan. bapa jarang sekali pulang, sekali pulang tak membawa uang banyak, padahal usahanya lumayan. dia lebih senang bergaul dengan temanya, minum dan bermain kartu. ampe kadang ibuku suka ribut.

pernah suatu ketika mereka ribut besar, ampe ibuku pulang ke subang, tapi alhamdulillah mereka bisa akur kembali. ibuku memiliki sodara di sini, dan bapaku juga sudah berniat ingin usaha sendiri, berdikari sendiri. mungkin dia sudah merasa pengalamanya telah cukup untuk siap terjun. sebelumnya pun ia pernah buka pabrik donat di desa, tapinamanya di desa. boro-boro ada konsumenya, orang konsumenya aja masih makan singkong. mana ada uang untuk beli itu.

akhirnya keluarga kami urban ke Karawang. dulu ibuku pernah jualan jeruk di depan Pabrik Pindo deli. sebenarnya panggilan ke karawang itu sudah dari dulu, tapi jodohnya sekarang kali ya, jadi kami dapat jodohnya ini pun agak diulur waktu. ayahku pun sempat tertarik karena ada pabrik uang di karawang. juga dulu pernah ada cicilan rumah murah, tapi ayahku gak mau membelinya. akhirnya dengan terulurnya waktu tahun 2000 kami pindah.

rumah/gubuk tanpa lantai, ayahku terus menambah ruangan-ruangan dengan material seadanya. usaha pun dimualai. pagi bekerja membuat produk, sore menggoreng dan malamnya menjual. begitu lelahnya mungkin, hanya semangat keinginan untuk sukseslah yang bisa jadi semangatnya.

dua tahun sebelum kami pindah, ibuku ramai diperbincangkan oleh warga karena kemampuan yang ALLAH berikan padanya, bisa urut orang-orang yang terkilir, bayi yang sakit-sakit badanya, orang tua yang sakit juga badanya dan seabgainya. pendapatan keluarga sedikit banyak bisa kami rasakan. keluarga dari ibuku memang dikenal bisa melakukan hal-hal demikian.

ibuku adalah anak bungsu, tapi dia bukan anak yang dimanjakan oleh orang tuanya, dari kecil ibuku selalu berpikir mandiri, meski gendut dia seorang anak yang riang dan penuh dengan keceriaan. dia selalu bercerita betapa kehidupanya penuh dengan perjuangan, ingin belajar pun nyari pekerjaan untuk belajar dan dia juga mencari uang untuk membayar di sekolah pengajian.

kehidupan kami sudah lumayan, perekonomian negarapun mendukung itu semua. gue pun dulu hampir putus sekolah, pas setelah SD si bapa menyarankan gue untuk kembali sekolah di desa, tapi nenek gue boro-boro daftarin liat pager sekolahnya aja kaga. kemduian tahun berikutnya berkat dorongan ibu, gue bisa sekolah lagi di SMP. bahkan sekarang gue bisa kuliah dan ke luar negeri.

ALLAH itu maha Besar. terima kasih atas rezekinya. gue selalu mengambil nilai inspirasi dari siapapun, bahkan dari temen gue. dan itu menjadikan semangat gue untuk gue berpikir bahwa gue harus semakin giat belajar.

kadang juga gue gak optimis pada diri gue sendiri, tapi gue selalu berikiran terlalu tinggi dan inginya tuh hal-hal yang besar. karena pesimis itu gue harus kudu belajar lebih banyak lagi agar gue mampu optimis. semoga ALLAH mengabulkan semua apa yang gue minta.

yang gue inginkan itu sebenranya simpel. gue ingin memiliki sumber penghasilan yang banyak, dan gue bisa mengamalkan uang-uang itu untuk orang banyak. gue ingin memberikan beasiswa, modal-modal pada orang lain dan sebagainya.

gue seneng juga bisa ke luar negeri, gue bisa mengambil banyak pelajaran dari itu semua, bahkan gue jadi seneng membaca, menulis seperti ini dan wawasan gue juga jadi terbuka dan gue juga jadi banyak keinginan. tapi gue gak mau keinginan gue ini hanya untuk jalan-jalan terus. gue emang ada keinignan untuk itu, tapi gue manahan diri untuk tidak. gue ingin hal itu hanya untuk menjadi saat-saat gue harus berintropeksi diri dan mengambil pembelajaran dari perjalanan itu.

gue gak mau merusak bumi ini dengan melalakukan banyak perjalanan dan mengkonsumsi produk atau jasa secara besar-besaran. memang tanpa gue pergi ataupun gue pergi pesawat, kereta, bus tetap pergi dengan penuh atau kosong. tapi kalo semua orang melakukan hal itu tentu peningkatan jumlah tuntutan kebutuhan dan keinginan semakin besar. pangsa pasar semakin luas.

gue juga gak mau seperti binatang, yang hanya hidup biasa aja. gue setuju dengan teori kebutuhan Maslow. setiap manusia memiliki fase hidup. semakin gue berjalan gue juga bisa lihat berbagai macam orang, seperti orang yang hanya sibuk untuk mencari uang seharian penuh dan bahkan pendapatanya tak lebih banyak dengan apa yang gue keluarkan sehari ketika traveling. gue gak mau seperti itu. gue ngeliat mereka juga jadi sedih. nah enaknya kalo gue bisa keluar  negeri juga seperti itu, beda kalo gue hanya di negeri sendiri, gak begitu dalam gue memikirkan hal begitu. tapi kalo di luar negeri, gue liat ibu-ibu nyuapin anaknya juga berasa gimana gitu. atau liat tukang ricksau/sepeda beca gitu ampe ongkek2an ngayuh pedal sepeda. gue jadi bisa nginget-nginget lagi apa yang udah orang tua gue lakukan.

gue seneng jalan-jalan ke negara miskin atau biasa aja gak modern. mereka menunjukan sisi-sisi yang bisa menumbuhkan pemikiran spiritual, meski gue gak bisa ngejelasin seperti motivator, tapi gue yakin kalian tahu hal itu. gue gak mau gue pulang hanya mendapatkan foto-foto narsis doang. gue sungguh ingin merasakan bagaimana gue bisa tertekan dengan suatu kondiisi yang membuat diri gue harus mengambil keputusan secara cepat. gue juga bisa berekspresi semau gue tanpa halangan nilai dari orang lain. yang penting gue masih jaga batas-batas kesopanan.

ALLAH semakin terasa benar adanya. megahnya dunia benar-benar bisa dilihat oleh mata hati ini. getaran-getaran yang bisa membuat diri ini menangis, merasa kecil dan tak berarti. kemudian lantunan doa-doa mulia bisa terungkapkan.

 

ya ALLAH berikan rizkimu yang baik. semoga Engkau meridhoi kami.

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

2 comments

  1. Mengaminkan untuk kalimat terakhir. InsyaAllah, rezeki bagi orang baik akan datang dari sudut-sudut tak terduga *kata om Mario Teguh* semoga Arip juga bisa menjelajahi dunia sehingga makin banyak kisah yang dapat diceritakan di blog ini 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s