Males gue sama cewek yang nganggap gue orientasinya traveling

ada yang bilang. “Elu mah jalan-jalan wae.”
kayaknya kalo di lingkungan seperti ini gak maju-maju. nampaknya justru merekalah yang sering jalan-jalan. minggu ini ke sini, ke sana, bentar-bentar ngajak liburan, libur dikit ngajak maen.
setiap orang juga mikir bahwa hidup itu tidak sekedar jalan-jalan. akan ada beberapa hal yang harus diutamakan ketimbang jalan-jalan. kebetulan keluarga gue merupakan keluarga yang jarang bahkan gak pernah. tapi ada orang yang seenaknya aja dan memponis gue bahwa gue orang yang suka jalan-jalan banget karena beberapa negara yang pernah gue singgahi dan kebanyakan upload mungkin.

masa sih gue harus keras melakukan pembelaan pada diri gue, toh banyak juga yang memang banyak melakukan liburan dengan jalan-jalan. gue sih gak suka aja dengan orang yang suka memponis gitu, termasuk gue juga kadang suka memponis orang lain. dan asli itu gak enak juga ya?
gue sih memang lebih saranin untuk melakukan jalan-jalan ke luar negeri. karena jarang sekali ketika jalan-jalan di negeri sendiri memikirkan apa yang jauh lebih banyak sering dipikirkan ketika di luar negeri. contoh simpelnya gini dehk, kalo lu jalan di negeri sendiri, aneka makanan bisa
menjamin lu masih bisa makan. tapi kalo di luar negeri, banyak pertimbangan yang harus dipikirkan apalagi oleh seorang muslim. setidaknya menjaga dari makanan yang memang jelas keharamanya, meskipun masih bisa makan ayam yang dipotong tanpa bacaan doa menurut islam ini juga gak halal tapi kita masih bisa makan karena menganggap ayam adalah hewan yang termasuk halal. asal gak makan yang memang dilarang keras aja udah untung banget, zaman kayak gini semua makanan banyak yang memakai bahan tambahan daging. bagaimana kita mencari tempat makan yang baik? dan perjuangan itu yang membuat perjalanan semakin bermakna, ternyata uang bukan segalanya, meski ada uang tapi tidak bisa semudah itu untuk mendapatkan makanan yang baik. dari hal seperti ini saja sudah mikir.

contoh lain lagi ya. karena gue masih mahasiswa dan belum memiliki kartu kredit yang bisa digunakan di berbagai negara, salah satunya untuk membooking sebuah hotel. ketika gue tiba di bandara, terminal, atau statsiun. gue belum memiliki jaminan untuk istirahat berupa tempat tidur, makanya gue dituntut untuk mencari informasi dan menemukan hotel mana yang paling murah kalo bisa. hemat 10 ribu saja sangat untung karena bisa nambah-nambahin untuk makan. gila gue pernah tiba di sebuah kota itu sore jam 4an, dan gue cari-cari penginapan dan ternyata mahal-mahal bagi gue. dan gue hampir menyerah ingin melanjutkan ke kota lain menuju terminal. tapi setelah gue jalan capek-capek dengan perut lapar, gue menemukan yang harganya lumayan murah tapi juga lumayan jauh dari keramaian.

perut yang lapar dan bingung mencari keputusan apa yang harus diambil membuat kita harus cepat tanggap dalam memutuskan segalanya. rasa lapar ini yang membuat perjalan juga semakin berkesan dan bertambah maknanya. ibarat orang puasa yang dimaknai agar kita mempelajari bagaimana orang lain tidak semudah itu untuk mendapatkan makanan, kita juga belajar seperti itu. ada ungkapan “oh iya ya, dan lainya” yang membuat lu banyak berpikir.

nah dari contoh di atas itu masih banyak hal yang bisa kita temukan ketika melakukan perjalanan di luar negeri. kemajuan bangsa dan budaya yang kita temui akan membuat kita merasa berbeda dan ada kemauan untuk belajar dan mempelajari apa yang terjadi dan terekam oleh mata kita. apapun bentuknya. gue masih heran dengan orang yang masih mikir, alah sok gaya-gayaan katanya. pamer, sombong. padahal ketika ia melakukan perjalanan lebih sombongnya naudzubillah. ampe update terus lagi dimana, makan apa, dengan siapa?
gue malah ngerasa terhindarkan dari hal-hal penilaian yang membuat hati eneg dengernya ketika di luar negeri. gue rasa mereka lebih toleransi dan terbiasa dengan perbedaan. contohnya gini deh lu kalo di kampung pake sorban, lu pasti dikira sok alim atau gimana. tapi kalo lu di india misalnya. banyak pemuda yang pake sorban. untuk menghangatkanlah, penutup kepala ketika terik, untuk sajadah, dan lainya. hahahahahaha loe pikir giring nidji pake sorban mau jadi ustadz gitu. itu tuh sama aja kaya scraft gaya arab keles.

kemudian tidak hanya itu, jarak kita dengan negeri sendiri, keluarga dan lingkungan keseharianya membuat kita berpikir dan merindukan semuanya. gue sering banget merasakan hal demikian, paling sering ketika ada momen sendiri. misal ketika di kereta, bus, atau lainya. bahkan di taman. dan kalo gue juga gak mau traveling itu 5 hari, seminggu atau sepuluh hari. bagi gue waktu yang sempit seperti itu kurang memaknai perjalanan. gue hanya akan terfokus bagaimana gue mencari objek yang menarik untuk koleksi foto gue doang.

sejauh ini minimal 20 hari waktu yang gue pilih untuk traveling/jalan-jalan. meskipun baru 4 hari saja gue udah pengen banget balik, karena merasa gue jauh banget dari keluarga. padahal ketika di rumah gue ngebet banget ampe kadang over planed. ternyata kehidupan sehari-hari tak semudah itu dilupakan. dan gue juga lebih suka memilih sendiri, meski berdua kadang bisa membuat biaya perjalanan lebih murah karena sharing dan bisa saling mengisi. tapi kurang berkesan, karena merasa ada temenya.

tapi gue mikir lagi, suatu hari kelak. gue ingin bareng istri gue setiap berapa kali dalam setahun melakukan perjalanan seperti ini. gue akan membiarkan istri gue untuk bekerja, menabung untuk dirinya. uang dia ya uang dia, tapi uang gue ya milik bersama. jadi gue kudu mencukupi keperluan rumah termasuk biaya harian istri, rumah, anak, dll. dan kudu bisa menabung untuk melakukan perjalanan. jadi nanti ketika perjalanan gue punya tabungan dan istri gue juga punya tabungan. dan kita saling membiayai perjalanan masing-masing. dan itupun pengen gue jadikan momen kita di luar zona keseharian yang kadang membuat kita jadi cuek bebek satu sama lain. (ciecie impian).
gue miris aja sama temen gue yang masih berpikiran bahwa orang yang suka jalan-jalan itu sok kaya atau gimana. kalo gue banyak duit gue tinggal beli aja paket tour dari travel agent. tapi gue gak butuh, gue gak mau diatur sama jadwal perjalanan yang hanya untuk nikmatin surga dunia. dunia itu hanya tipu daya doang. kalo tergiur dan mencintai dunia bisa bahaya. tapi banyak juga ayat quran yang memerintahkan kita untuk melakukan perjalanan untuk melihat keAgungan Ciptaan Tuhan.

gue sih ngeliat orang yang suka traveling ke luar negeri malah seneng, karena kok diliat-liat mereka malah suka berbagi informasi dan pemikiran-pemikiran yang mereka lontarkan bener-bener luar biasa. belajar dari pengalaman orang lain lebih murah dari pada membeli pengalaman (mencari pengalaman) tapi lebih berkesan mencari pengalaman itu, karena setiap orang akan memiliki pengalaman yang berbeda meski perjalanan yang dilakukan rutenya sama.
tidak hanya itu sih, mungkin dari kebiasaan mencari informasi dan menggalinya untuk persiapan kita di negeri orang. menjadikan sesuatu kebiasaan yang positif yang berdampak atau berpengaruh pada kehidupan yang lain. contohnya, lu dituntut untuk percaya diri mengenal dan ingin berbaur dengan orang lain di negara orang. itu sudah menjadi dampak ke diri kita, ketika pulang lu akan merasakan berbeda dengan orang lain. dan lu akan merasa diri lu pantas bagi siapapun dan jarang merendahkan diri sendiri.

bukan hanya itu, gue pikir kita juga harus jaga bumi, gue juga gak mau karena sering jalan-jalan akhirnya merusak bumi. makanya kadang gue ngenes, orang malah nganggap yang suka jalan-jalan itu berorientasi jalan-jalan. padahal dari semua itu banyak perjuangan yang tak mudah. harus menabung extra, menggali informasi, membentuk optimisme dari segala macam risiko, bagaimana memahami budaya nanti, dan lainya. padahal kalo diliat-liat ya, berapa banyak komuniatas dalam satu kota. salah satu aktivias yang sering dilakukan tuoring atau mengunjungi objek wisata, hura-hura, belum lagi gak mikirin apa yang telah dilakukan dan dampaknya pada lingkungan, misal lu ketawa-ketawa rame-rame di jalan dengan knalpot gandeng. terus anak muda di pinggir jalan yang tradisional melihat itu keren. dan ketika abis sekolah mereka ingin ke kota, lalu manjadi apa yang dia mau bahkan menjadi yang lebih parah karena gak mampu mencapainya.
kemudian mana mau mereka memenuhi isi kantong celana dan ranselnya dengan sampah yang telah ia konsumsi. mereka buang di jalan. bahkan ketika anda di angkutan umum. seenaknya membuang sampah melalui jendela. jauh sekali ketika anda di luar negeri. bahkan anda menjadi mahluk beretika mendadak. padahal negara kita menjunjung tinggi yang namanya etika, kearifan local, dan lainya.

gue juga gak tau gimana nasib orang kemudian hari. mungkin aja malah yang sering jalan nantinya bukan gue, tapi elo sendiri. tapi mumpung masih muda gue yakin kita harus terbuka dan bersikap mau tau terhadap apapun. ada sebuah lirik yang bagus menurut gue.
“Masa muda adalah kertas, waktu adalah penanya” dan dalam ajaran agama dan petuah manapun selalu diulas mengenai berharganya waktu.

gue juga masih banyak kekurangan dan sering membuang waktu berharga gue. gue gak mau terkesan menggurui. gue selalu niat untuk share. meski gue mungkin terkesan menggurui. tapi yang perlu diingat, gue seneng kalo kita sama-sama membangun dan memberikan manfaat.

semoga elu juga mau menjaga bumi, dan bersikap bijak pada sumber daya bumi dan sensitifkan hati. semoga ALLAH memberikan kita petunjuk yang benar, yang membawa kita pada Surganya.

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s