19 jam di mobil kecil

perjalanan ini harus aku lewati, 19 jam akan cepat berlalu dimulai dari dini hari sekitar jam 2 malam. kota itu kini telah gelap gulita dan damai dari hiruk pikuk turis di siang hari. kota yang indah dengan pesona langit secerah layar handphone dengan 16 juta warna bahkan lebih dari itu.
nuansa yang khas ala pegunungan yang dingin dengan tiupan angin yang menyeruak memasuki lapisan kain-kain di tubuh. kami tinggalkan hotel dan segera menemui kumpulan minivan yang siap sesuai dengan jadwal.
di jalan terlihat kuda, kambing, ayam, burung gagak, dan binatang lainya yang sedang beristirahat. bahkan mereka kini mampu masuk ke jalanan tanpa gangguan. segera kukeluarkan bukti pembayaran siang tadi dan naik ke mobil. beberapa penumpang lokal telah ada di dalam mobil, kami tak diberi kesempatan untuk memilih. merelakan duduk dengan kursi yang agak tegak karena rusak. dan kami menghindari perdebatan yang akan membuat kecewa satu sama lain membuat perjalanan ini tidak damai dalam hati.
nampaknya sebuah perjalanan haruslah dipersiapkan dengan baik mengenai kondisi yang akan dihadapi. beruntung masih memiliki jaket dan beberapa kain yang akan membuat hangat. tapi kaki ini akan tetap menjadi sesuatu yang tidak bisa menahan dinginya malam.
pengendara itu masih berusia muda, sepantarlah dengan usiaku. mereka mengunyah suplemen dan tembakau untuk menikmati perjalanan membawa penumpang. gantungan dan gambar dewa-dewa menjadi penyelamat yang mereka percayai, sebagai ganti keheningan. musik india menjadi penyemarak dan selama itu pula aku tak mampu mengerti dan mendapatkan lagu yang membuatku teringat kembali.
subuh menyingsing. keriuhan seseorang yang berkata mengenai salju membuat kami antusias. aku dibangunkan dan hanya sesaat aku mampu menikmatinya. dingin kurasakan kembali. aku hanya menundukan kepala dengan penutup jacket dan kemudian menikmati alunan berpikir yang ingin aku perdalam. aku bersyukur bisa berada di ketinggian 4000 meter di atas permukaan laut. bagaimana keadaan orang tuaku di rumah. lusa adalah hari idul fitri. kalo bukan karena ALLAH dan perjuangan mereka, tentulah aku tak akan merasakan hal semacam ini.
aku coba nikmatin tidur kembali, semalam tadi selama di mobil, kami selalu berhenti untuk melakukan checked identitas diri. hanya kami turis dalam mobil itu, sehingga menyebabkan para penumpang lain harus menunggu. begitulah nasib kami, tak henti-hentinya harus melakukan checked seperti itu.
beberapa pondok yang menawarkan tempat beristriahat menjadi tempat pemberhentian untuk menyantap sarapan pagi. kami pergi ke tempat-tempat yang nyaman untuk melepaskan semua sampah di tubuh di alam terbuka. memang seperti itu, tak ada yang akan mengawasi kamu dan memarahi kamu, asal kamu juga cari tempat yang baik. pegunungan yang menawarkan keagungan dan kemegahan membuat diri ini mengkerut betapa besarnya kuasa ALLAH menciptakan isi bumi ini.
siang hari di sebuah pondok aku menyantap mie Meigi dengan telor dadar. tidak begitu nikmat namun cukup baik untuk makanan yang entah seperti apa dan berapa lama agar aku siap dengan makanan mereka.
kini perjalanan harus kami lanjutkan kembali. bibir masih pecah-pecah tapi terlihat berwarna pink. punggung sudah tak rela untuk menikmati jok itu. tapi apa daya kami harus siap sapai sore ini tiba di kota yang sejuk di kaki gunung yang subur di saat musim buah apel. aku dan temanku akan merayakan idul fitri di sana.Gambar
Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s