Nahargah dan Amber

penumpang bus semakin banyak, kami tak tahu ini berada di mana? tujuan kami adalah sebuah fort. air hujan yang menetes melalui sela-sela kaca membuat celana sedikit basah.
kami tiba di gate yang terdekat dengan fort. sebuah fort yang gagah berada di atas bukit dan bisa terlihat dari kejauhan. segera turun dari bus dan berjalan dengan gerak cepat, melompat-lompat melewati genangan air, rasanya jijik kalau kaki ini tercelup ke dalam air yang menggenangi jalanan.
perut terasa sudah lapar, saya menemukan restoran muslim lalu makan sendirian. nasi briyani yang lebih terasa sebagai nasi liwet yang dimasak dengan daging ayam kurus dan besar-besar memenuhi seisi piring ukuran besar, saya tak kuasa menghabiskan itu semua.
beruntung hujan segera berhenti, kami pun lanjutkan perjalanan, hujan yang mengguyur sebelumnya telah menyisakan genangan air di jalan. dengan sebuah peta dan melihat bukit dari kejauhan, kami menyusuri perkampungan dan berjalan dengan jarak yang cukup jauh sekali. tapi kami bisa melihat orang-orang yang berada di tengah-tengah pemukiman.
sampailah kami di sebuah tanjakan untuk menaiki bukit, tanjakan dengan batu kapur tersusun rapi mengular menuju ke atas bukit. jalan yang sangat bagus dan kami akan mencoba naik ke atas. letih mulai terasa di beberapa tikungan, ada juga beberapa orang yang nanjak seperti kami. hanya pemandangan kota yang menjadi penghibur hati, karena semakin tinggi semakin indah.
kami tak punya air, dan rasanya sudah haus sekali. puncak sedikit lagi, adakah air di sana atau penjual. setelah berada di atas hanya ada penjual jagung bakar yang menunjukan tong air. saya mencoba minum, tapi tong air berada dekat kuil, lalu kuurungkan hal itu. si penjual jagung bersama temanya menunjukan bahwa ada tukang air di jalan sana.
teman seperjalanan saya malah asyik berfoto ke beberapa lokasi. saya jalan terus dan langit kembali gelap. hujan mulai menetes, saya pun berteriak memanggil teman perjalanan. kami segera mencari warung yang ditunjukan penjual tadi, ternyata tidak ada. entah kami harus berteduh di mana? sedangkan semuanya hanya semak-semak. terlihat di depan ada sebuah pohon besar, pengunjung yang menggunakan ricksau aku berhentikan dan mencoba menawar harga. karena mahal kami tolak dan hujan tak berhenti, tukang ricksau mengatakan bahwa harga segitu memang karena untuk menuju ke benteng selanjutnya sangat jauh.
setelah kami berdiskusi, segera memberhentikan ricksau berikutnya dan naik. berniat ingin irit perjalanan, malah harus ada hal seperti ini. ternyata memang benar, tidak ada warung sama sekali dan jauh sekali. kami malah semakin jauh dari kota, berada di atas bukit yang semuanya semak-semak.

 

cerita versi lain

salah satu fort di Jaipur. sebenarnya malas ke tempat ini, tapi melihat sebuah benteng kokoh berdiri di atas bukit dan terlihat dari kota. jadi menuju ke tempat ini dengan naik bus umum ke salah satu gate di Pink City, kemudian lanjut jalan ke pemukiman warga dan nanjak deh mengikuti jalan yang mengular. gak bawa air dan dalam keadaan hujan, saat nanjak tidak hujan., tapi saat di atas hujan. kami malah terjebak hujan di atas bukit, gak ada tempat berteduh. malah gila-gilaan di bukit. niat mau hemat malah ngeluarin duit dan makin jauh, karena di atas bukit ada 2 benteng. niatku menuju benteng Nahargah. eh ternyata kami nanjak di jalan menuju benteng amber.
gara-gara penjual jagung bakar yang nunjukin ada warung penujual air, kami berjalan menuju nahargah. baru juga 200 meteran hujan turun, warung gak ada dan kami berlindung di pohon besar, hujan terus turun. tukang riksau bersama penumpang india memberikan harga mahal untuk tawaranya. tapi kami berpikir lagi setelah ricksau yang berikutnya datang, kami segera go. ternyata Nahargah sangat jauh.
setelah sampai di jalan cagak kami diturunkan, masih jauh juga ke gerbang nahargah. kami minta turun bukit aja dehkk karena hujan kembali turun, entah harus dimana kami berlindung, baju sudah lumayan basah kuyup, bagaimana dengan kamera dan gadget lainya? tukang ojek ngedeketin dan jelasin, kalo kami mau ke nahargah ya kami haru jalan lagi dari jalan cagak ini, tapi kalo ingin turun bukit ya bisa naik dengan tukang ojek itu.. dengan ojek yang masih muda, kami turun, saya sengaja mengambil posisi di tengah, untuk bisa berkomunikasi denganya dan memintanya berhenti kalau ada view menarik.
pas turun bukit, itu pemndangan gak kalah keren, ada danau dan kuil yang indah. tapi si ojek gak mau berhenti, karena gak ngerti kami ngomong apa. dia malah ngomongin mengenai hubungan intim dengan pacarnya dan kegiatan mandirinya (apa sih, wkwkwkwk).
seru dah pokonya, setelah turun dan nemuin jalan besar, kami harus naik bus yang langsung berhenti di perempatan hawa mahal, tapi kami nyari tukang minum dulu.. sialan warung cuma ada di sini, si tukang jagung nunjuknya seenaknya lagi.
udah beli Lays, camilan favorite dan biskuit coklat, kami jalan dulu liat danau. ada keluarga sedang wisata di danau, ngasih makan ikan jaer. banyak banget itu ikan, roti basi aja abis dalam itungan detik.
ada juga tukang onta, tapi hari sudah sore, kami segera pulang naik bus, dan berfoto sesaat di hawa mahal. jalan lagi deh ke hotel dari PInk City 3 Km-an lah. cape-cape.

Gambar

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s