Bagaimana cara keluarnya?

sejak tahu, adanya facebook 4 tahun yang lalu, saya menjadi pecandu jejaring sosial itu, rasanya seperti kehilangan sesuatu apabila tidak mengecek jejaring sosial yang satu ini, saya juga diliputi perasaan yang berbeda dengan adanya hal itu, seperti ingin memperlihatkan sesuatu atau seperti sedang mencari kebutuhan untuk diakui oleh masyarakat maya. kadang ada perasaan malu juga karena terlalu sering memposting status, dan ketika bertemu orang lain serasa ada rasa canggung karena mungkin dia telah membaca beragam statusku.

aku menyadari bahwa ini tidak baik sebenarnya, hanya jejaring sosial mampu mendekatkan manusia di belahan manapun tak terikat ruang dan waktu, hanya saja aku seperti keasikan sendiri, aku anya fokus pada diriku meski di dunia maya, tak perduli harus komentar apa ke orang lain, pokonya aku hanya posting status dan membaca-baca beberapa saja tanpa pernah berkomentar tapi berharap statusku banyak yang komentar. seringkali memang aku menjadi orang yang spontan dan bisa mengeluarkan pendapat-pendapat yang seketika muncul sebagai topik untuk statusku yang menurutku itu menarik.

ya banyak yang bilang, sesuatu hal bisa berdampak positif maupun negatif, banyak hal positif yang telah aku dapatkan, semisal aku menemukan kawan baru, bisa mendapatkan banyak pelajaran dari orang-orang luar biasa, dan aku bisa belajar dari mereka. pentingnya lagi menurutku adalah informasi juga dengan cepat bisa didapatkan melalui media sosial seperti itu. namun aku kelelahan, mungkin sesekali atau saat ini aku hanya harus menjadi silent reader aja dan mengkomentari status orang lain saja sebagai cara perhatianku. aku pikir banyak waktuku dan beberapa hal habis hanya untuk memenuhi perasaan untuk mengkonsumsi media sosial. pernah aku merasa baru beberapa menit aku membuka facebook, taunya sudah beberapa jam aku sibukan hanya untuk melihat-lihatnya saja. bahkan hapeku sepertinya bisa merekam jejak browsingku yang hampir kebanyakan facebook.

begitu juga dengan aplikasi untuk chatingan, ya seperti aku jga terlalu sering ikut dan terlibat dalam percakapan yang tak penting, malah aku sering mengulur waktu untuk tugas utamaku demi meladeni orang lain agar bisa ngakak atau tertarik bercanda dengan tulisan itu. aku sedikit muak dengan diriku, dan menurutku toh semakin hari dunia semakin maju, banyak media sosial baru yang bermunculan, aku tidak bisa ikut-ikutan dengan mudah mengunduh berbagai aplikasi dengan alasan yang tak jelas, selain untuk menghindari penilaian aku terlalu eksis di mana-mana, aku juga merasa bukan saatnya lagi aku menghabiskan waktu untuk hal itu.

aku harus bisa mengalihkan kebiasaan semu itu, aku harus manfaatkan waktu sebaik mungkin, walaupun buka laptop dan media sosial yang pertama, setidaknya ada hal yang baca sebanyak yang aku bisa agar pengetahuan bertambah. dan semakin aku banyak menemukan nasihat agama, aku juga semakin sadar tentang artinya agar jangan tergoda atas kenikmatan dunia, gunakan waktu sebaiknya, Tuhan menyuruh kita hanya untuk beribadah. sekarang dengan fenomena banyaknya media sosial, hampir semua orang menggunakanya, membuat status, mengupload ini itu. apakah yang mereka lakukan juga tak jauh beda, lalu dengan kapasitasku saat ini, apa pengaruhnya diriku untuk media sosial dan keuntunganku dari sisi yang lain?

setiap hari orang-orang melakukanya, membuat status, upload foto dan sibuk untuk saling interaksi melalui komentar atau apalah, kadang juga sampai ada yang sindir-sindiran di media sosial. kalo aku terus terjebak dalam rutinitas seperti itu, padahal aku bisa menggunakan waktunya untuk membaca banyak buku, membuat tulisan, atau belajar kemampuan lain. aku juga sudah menghindari gadget yang terlalu canggih berupa handphone. aku sebenarnya ingin sesuatu hal yang tak mudah aku paparkan dalam tulisan ini, sepertinya kehampaan itu terlalu besar dalam diriku, mungkin aku harus lebih interaksi fisik saja dengan orang lain, rasa kesepian dan ingin mencari perhatian orang lain itu yang membuat hati ini hampa.

aku bikan siapa-siapa hari ini, apa yang aku lontarkan bukanlah sesuatu yang begitu berarti bagi orang lain, aku harus menjadi seseorang agar aku berpengaruh. ada yang mengatakan, mungkin kamu lebih bijak dari pada Mario Teguh, tapi dengan statusmu sekarang, tulisan kamu tidak sehebat tulisan Mario Teguh.hmmmmm ya kali ini benar-benar harus berperang dengan gaya hidup di medsos, alihkan kebiasaan dan berkembang.

semoga bisa.

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s