Kala Itu, Subuh di Srinagar dan Noor Guesthouse.

Srinagar kota yang indah di Khasmir, India. “Gue kudu coba berpuasa besok.” niatku bulat untuk mencoba berpuasa, setelah membatalkan beberapa kali puasa Ramadhan. aku telah membeli roti dan biskuit, sebelum subuh aku mencoba menelan makanan itu, roti yang cukup nikmat yang dibeli tak jauh dari penginapan kami.

aku turun dan membersihkan diri, kemudian meminta izin kepada pemilik guesthouse untuk membukakan pintu dan menunjukan diman mesjid terdekat. awalnya aku ingin mencarinya sendiri, tapi dia (gadis muda yang senang membantu di rumah) itu memintaku pergi bersama saudara lelakinya.

aku menunggu beberapa lama, padahal adzan subuh sudah lama terngiang. aku sedikit jengkel, tapi mau bagaimana lagi. aku menghampiri kamarnya dan memang ternyata dia sedang mengaji. jadi setelah adzan tak langsung ke mesjid tapi mengaji terlebih dahulu.

kami masuk ke sebuah pintu belakang menuju mesjid, melawati gang sempit. jamaah sudah banyak dan subuh dimulai. ternyata memang setelah adzan itu ada waktu senggang untuk melakukan solat sunat atau lainya di rumah dan itu cukup lama. hal ini juga menarik bagiku, mereka memberi kesempatan orang lain untuk mempersiapkan diri sebelum solat subuh.

aku malah miris dengan kondisi di lingkunganku sendiri, di Indonesia. biasanya adzan baru berhenti tak lama kemudian sudah komat. padahal waktu subuh itu sedikit berat, belum lagi harus membersihkan diri sendiri, solat sunat dan lain sebagainya. mereka tak memberi kesempatan dan mementingkan diri sendiri. padahal namanya berjamaah dan hidup bersosial haruslah menghargai dan mengerti.

memang dalam sunnah, memberikan sebagian solat sunnat di rumah itu baik. kagum rasanya setelah mengetahui perbedaan itu. ternyata dengan melihat langsung, kita bisa mencari kebaikan yang belum terungkap atau bahkan tak sering kita bisa pikirkan.

aku juga membaca beberapa kisah perjalanan orang lain ke beberapa negara di Asia Tengah seperti Pakistan atau bahkan Syria. mereka begitu kuat keimananya sampai-sampai bisa menggelora ketika harus membela agama. lah aku ini masih belum bisa menggetarkan hati ketika Nabi SAW disebut. tapi aku semakin tergelitik pada Islam.

aku menyadari ada pemikiran yang mengganjal kenapa Indonesia bisa menjadi negara beragama islam mayoritas, terus kenapa banyak manusia memiliki Tuhan yang berbeda, seperti apa rasanya jika aku menemukan agamaku sendiri dan bukan keturunan tapi berdasarkan riset dan pemikiran? hal-hal semacam itu.

aku senang dengan keberagaman seperti ini, membuat aku banyak berpikir mengenai hal-hal yang masih misteri dalam hidup. aku suka perjalanan tapi aku tak mau melakukanya hanya untuk mengikuti trend dan menjadwalkan banyak perjalanan untuk kepuasan rasa senang semata.

banyaklah di antara para pejalan itu menemukan hal-hal menarik, memang apapun niatnya, dunia selalu menawarkan hal yang luar biasa. tapi aku yakin, aku tak diminta untuk menjadikan itu gaya hidup. sebaiknya aku pergi ketika diri ini membutuhkanya. selamat melakukan perjalanan!!!
Gambar

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s