Mau Gak Loe NIkah Sama Gue (MGLNSG)

ada yang bilang menikah itu penting bagi semua orang, apalagi pernikahan yang pertama kali, bahkan jika duda menikah dengan perawan, pasti pesta bagi salah satu yang baru pertama merasakan pernikahan, pernikahan itu haruslah yang menakjubkan bahkan tak pernah terlupakan. bahasa kerenya ‘even unforgetable and should be everlasting love.” tapi siapa yang bisa menyangka jalanya pernikahan, ternyata setelah hidup beberapa minggu baru ngerasain bagaimana perbedaan antara keduanya, bisa jadi hal ini memuakan tapi yang hebat yang tentu bertahan dan membuat perasaanya memaklumi apapun.

 

bagi gue yang menginjak dewasa ini, tentu pernikahan terbesit dalam keinginan, mengapa tidak? ya manusia butuh sex dan teman hidup. ngerasain kan bagaimana kita hidup sendiri, meski disekeliling kita ada saudara atau keluarga bahkan teman-teman menyenangkan. tetap saja seperti tak ada yang mengikat kita, setiap orang mudah pergi meninggalkan, pada akhirnya kita butuh pendamping hidup bahkan keturunan. pernikahan dalam islam juga diwajibkan sekali, bahkan gak usah ragu untuk menikah dalam keadaan miskin, karena ALLAH berjanji akan memberikan rezekinya. selain itu membuat kita lebih bertanggung jawab dan mau tidak mau itulah fase kita untuk serius menjalani hidup ini, karena tak hanya sex, dalam hidup ini, jadi semuanya harus didapatkan, agama maupun dunia.

 

pernikahan yang suci diidamkan oleh para pasangan, menikah menjadi ritual yang diharapkan hanya terjadi sekali dalam hidup, oleh karena itu pernikahan pertama bener-bener direncanakn dengan matang dan sebisa mungkin berkesan. tapi menarik bagi gue membahas hal ini, apalagi ada status temen yang dikirimi undangan via BBM. jadi membuat gue ingin menulis tentang perayaan pernikahan yang sering terjadi. bahkan gue bisa jadi tidak menginginkan hal demikian.

 

mencari wanita zaman sekarang kayaknya beda dengan zaman dulu, jelaslah itu (padahal gue gak tau bagaimana tipe cewek zaman dulu). setidaknya gue kudu ngaca dulu, apa yang gue punya untuk mempersunting tuh gadis. memang tak semua keluarga menghiraukan hal itu. tapi banyak gadis yang ingin melakukan pernikahan yang hebat, apalagi punya lingkungan pergaulan yang eksis dan medium class, mereka harus menikah dengan cara yang anggun. kalaupun tak menyewa gedung, ya rayain di rumah dengan pesta.

 

nah kalau gue berpikiran bahwa gue ingin menikahi si gadis dengan cara sederhana. gue rasa gue harus cari gadis yang standar biasa kalau ingin dinikahi sederhana atau gadis hebat tapi memiliki pemikiran yang sama. gue risih aja gitu kalau pernikahan gue harus ngedatangin organ tunggal, jaipongan, wayang, lenong, calung, atau semacamnya untuk menghibur orang lain. mendingan duit buat nyewa mereka gue beliin tiket ke luar negeri, semisal bangkok. gue bisa ajak istri gue jalan-jalan setelahnya.

 

terus bukan hanya itu, tentu saja makanan akan tumpah ruah, bahkan bisa-bisa memenuhi isi rumah. keluarga ngadak-ngadak rempong mempersiapkan banyak hal untuk menjamu orang lain. dengan menekan budget mereka mau memasak dan demi kebersamaan keluarga. kalau yang banyak duit dan gak meu ngeropotin serta lebih terorganisir ya pake jasa katering.

 

bayangin deh keluarga gue belum menikahkan anak satu pun, dan setiap ada pernikahan orang yang kenal sekali aja ngundang. setidaknya orang tua gue kalo kenal ngasih amplop agak gedean, tapi kalo kenal selewat ngasih 20 rebu. itupun yang berangkat cuma ibu atau bapa doang. gak pernah mentang-mentang ada undangan, sekeluarga datang dan makan lalu ngasih satu amplop doang (hahaha SINTING) dan itu sering gue denger cerita kaya gitu juga ada. ada kalanya gue bertanya kepada ibu, “mah kok si bapa A ngundang lagi sih, bukanya udah ngundang ya, terus nanti kalau kita ngundang dia, dia bayar dobel gak?” tentu saja hal ini bikin gondok juga, padahal gue udah tau jawabanya, memang kebiasaan di karawang gitu. beda dengan saat kami di Ciamis, setiap ada undangan dan kita ngasih amplop. terus ditulis dan pulangnya dapat berkat gitu dalam besek sesuai dengan jumlah yang diberikan. bahkan ibu gue nulis orang-orang yang ondangan pas dia nikah. pas saat diundang kembali, ibu gue buka buku tulisanya dulu dan kalau orang bersangkutan dulu ngasih barang ini itu, ya bayar juga senilai dengan ini itu. ini lebih adil menurut gue.

 

nah gue kalau nikah sebagai anak pertama, berapa orang yang udah ortu gue datengin dan mereka diundang. bisa-bisa sapi berapa biji harus disembelih. sayang banget kan. padahal mereka belum tentu ngasih amplop senilai dengan yang dulu ortu kasih, bahkan cerita lebih parah itu banyak. kadang ada yang isi amplopnya cuma goceng dan bisa makan sepuasnya. kan ini gila. di satu sisi mengenyangkan dia, tapi di sisi lain ngajarin untuk berbuat tidak adil dan rakus, lalu masa bodoh. yang tahu isi amplop dan apa yang dia makan hanya TUhan.

 

binatang sembelihan, rempah-rempah, beras, bahan bakar minyak, tenaga manusia, air, listrik, bahan-bahan masakan lain, barang-barang yang tiba-tiba harus dibeli, biaya hiburan, biaya tukang rias, tukang foto, ngasih uang bensin keluarga yang datang dari jauh, bahkan sampai bensin yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menghadiri undangan. ini energi kan luar biasa, dan gue harus bertanggung jawab karena yang buat acara adalah gue. dalam beberapa jam energi ini habis hanya untuk konsumsi doang.

 

mungkin gue dikira aneh dan terlalu rumit dalam berpikir, tapi gue bisa ngasih pilihan yang asik buat calon gue “gue mau nikahin elo dan berusaha menjadikan hidup loe berkesan sepanjang waktu, tapi gue gak mau pernikahan kita terlalu berlebihan, gue punya biaya untuk resepsi pernikahan kita, bahkan gue mampu membayar apapun untuk biaya pernikahan yang standar, tapi gue lebih memilih uang ini kita jadikan untuk mendapatkan pengalaman kita, gue ingin pernikahan kita hanya sederhana, tapi setelah itu kita bulan madu dan pergi umroh lalu ke negara tetangganya dan kita bisa mewarnai awal hidup kita dengan petualangan, semoga Engkau menerima lamaran gue ini.” wedewww sok keren banget ya gue.

 

tapi namanya pernikahan tentu yang menikah itu bukan hanya menyatukan gue doang, tapi keluarga dan berdiskusi dengan keluarga kadang rumit. mereka memiliki penilaian tersendiri dan tentu saja mengajukan permintaan seperti itu akan sedikit tenaga ekstra. tapi pada intinya kita ingin nikah biasa saja. kelurga saja yang hadir. uang resepsi itu entah mau buat kita berpetualang atau digunakan oleh kita sebagai modal usaha saja. dan bagaimanapun, banyak cewek gak peduli dengan hal itu, pokoknya nikah yang keren, perkara mau buat modal usaha atau jalan-jalan ya nanti juga nyari lagi. tapi gue gak mau, lihat dari penjelasan gue banyak enerji yang dibuang, mendingan gue kasihin aja semua uang persepsi buat dia semua, dan pernikahan kita tetap sederhana.

 

gila ada ya cowok kaya gue yang mungkin menurut orang lain itu pemikiran zadul. tetap aja bagi gue nilai-nilai kaya gitu tak tepat. dengan keadaan sekarang justru hal itu menimbulkan iri dengki. contohnya, dengan ada kata sukuran, setiap orang kayaknya seneng banget kalau bisa ngundang tetangganya untuk sukuran, terus mereka membeli banyak bahan dan memasaknya. lalu makanan itu habis dalam seketika. “kami ini sukuran ini loh, itu loh, bahkan beli mobil/motor baru.” gue sekali lagi gak mau ngecap mereka buruk, tapi menurut pemikiran gue, rasa syukur itu mendingan uang yang digunakan buat beli makanan sekali habis, mending dikasihkan ke orang miskin buat nambah modal, terus perhatikan apa yang mereka lakukan pada uang itu, apakah beneran buat usaha serta kita dorong. atau kalau nggakpun ya berikan aja kepada orang miskin yang menurut kita pantas dan bisa mengelola uang itu dengan baik. insya ALLAH uang itu lebih banyak mendatangkan pahala, kaya MLM jadinya kalau uang itu berguna kita semakin banyak akar-akar kebaikanya.

 

pada kenyataanya sekarang jadi ajang berlomba-lomba untuk mengadakan sukuran, seolah ingin menegaskan juga pencapaian seseorang hari ini kepada tetangganya. apakah gak kepikiran, mendingan uang sukuran ini gue beliin sejadah/iqro/kitab-kitab/quran terjemahan/speaker mesjid/atau sumbangan ke tempat lainya dan bisa digunakan terus menerus. bukankah itu lebih banyak melipatkan amal kita. gue juga gak berhak mengarahkan apa yang menurut gue benar, belum tentu, tapi selalu akan ada jalan yang lebih baik.

 

sok sekarang lihat, orang-orang ramai ke mesjid karena mendengar tetangganya akan mengadakan sukuran setelah solat magrib misalnya, keliatan mereka jadi rakus dan istilah kata mata duitan atau mau ibadah kalau ada imbalan. bukankah Tuhan juga melihat niat seseorang dalam beribadah. terus gue suka rada ribet sama anak-anak, mereka semangat kalau ada tahlilan. itu artinya mereka senang kalau ada yang meninggal karena bisa tahlilan dan makan-makan. belum lagi dampak lainya, karena makanan dari sukuran gitu agak enak, gaya makan kita pun bisa-bisa berubah, lebih nyandu ke makanan yang berdaging-daging, ataupun jadi royal dalam konsumsi makanan.

 

nah balik lagi ke pernikahan tadi, ya perayaan-perayaan kaya sukuran atau pernikahan sekalipun, rasanya itu terlalu wah sekali dan ngajarin yang dapat merubah kebiasaan. meskipun tak semua, bayangkan setelah acara itu. sampah di mana-mana, ada gitu yang peduli, rusaknya sarana publik, mengganggu tetangga, mendatangkan hiburan dan disalah gunakan oleh sebagian orang, mabuk-mabukan kalau ada hiburan, rakus dan serakah, biaya membengkak, belum lagi apakah pernikahan hebat itu menghasilkan keluarga yang langgeng kah?

 

tapi satu hal yang gue inginkan kalau mendatangkan hiburan, gue akan datangin motivator seperti Ippho Santosa saja. atau motivator lainya yang keren seperti Ippho.

 

maaf kalau tulisan gue salah-salah kata atau ada pemikiran yang kurang baik. semoga kita bisa menerima perbedaan pemikiran. silahkan tuliskan komentar yang membangun yang bisa kita diskusikan bareng-bareng.

 

thanks.

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s