kekesalan yang tak tertahan, haruskah aku sabar?

Seminggu ini perasaanku gak menentu sekali. keadaan yang tak ingin aku miliki sebenarnya tapi mulai aku suburkan dengan kebiasaan yang membuatnya menjadi pupuk yang luar biasa.

gue sering kerja sendiri, malah gue bisa mengerjakan pekerjaan 4 orang sekaligus. tapi suka kesel kalau adik sendiri padahal libur sekolah dan habis Ujian Nasional, jarang sekali bantu-bantu, bahkan membelikan gas pun gak ngerti-ngerti. biasanya setiap hari perkejaan dibantu oleh seorang pegawai, kami bekerja hanya berdua.

sejak syawal yang lalu tidak ada pekerja. aku yang banyak waktu menganggur karena kuliahku juga tidak terlalu padat di semester akhir seperti ini, mau bekerja. lumayan setiap hari bisa dapat gaji. setidaknya aku bisa mengumpulkan uang untuk kebutuhan dan keiginan lainya. aku pulang dari India itu syawal, aku lihat para pegawai yang dulu malah pindah profesi menjadi pedagang, meski masih di pabrik orang tuaku, tapi aku kesel dengan sikap orang tuaku yang membiarkan hal itu.

pabrik kerupuk sudah dilanda krisis pegawai, hampir di banyak pabrik. yang lebih parahnya ayahku itu gak mau meninggalkan budaya perusahaan yang sudah mendarah daging dalam dirinya bertahun-tahun. aku sangat menyangkan hal ini. bahkan kami sering sekali bersitegang karena berbeda pendapat. aku lebih sering dihina sebagai anak Durhaka, gak tahu bersyukur, dan seolah dia sering melaknatku durhaka. aku pun sering pula mengucapkan hal yang sangat menyakitkan membalas perkataanya.

aku mungkin bisa mengatakan bahwa dia itu mengeksploitasi tenaga orang lain. bekerja dari pagi buta sampai sore buta dengan gaji $4 an sedangkan keinginanya semua pekerjaan mereka kuasai dan terampil. sering sekali aku mendengar keluhan pegawai gini lah-gitulah karena gak memenuhi harapanya. bahkan bagi pegawai satu tahun itu harus bekerja setiap hari, tanpa jeda bahkan hari minggu dan tanggal merah.

aku tak mengerti dengan jalan pikiranya, lebih sering aku menangis karena sikapnya itu. kami saling memaki dan sering sekali tak akur. apakah aku berdosa, ya aku sadar aku pun takut akan laknat ALLAH, tapi apakah aku juga harus diam saja.

beruntung kami memiliki mesin produksi otomatis, sehingga jumlah pekerja bisa diminamalisir. tidak ada pegawai yang terbiasa di bidang kerupuk harusnya tak menjadi penghalang untuk menyeleksi pegawai lain. lagi-lagi aku sering mengungkit gaji pegawai dan membandingkanya dengan jenis pekerjaan lain yang lebih ringan dan mendapatkan gaji lebih baik.

aku mahasiswa ekonomi jurusan manajemen, aku malah sering diremehkan dengan cara pandangku, arogansinya selalu ingin lebih unggul dan membanggakan diri serta lebih mengarah kepada menyombongkan diri. mungkin inilah orang-orang yang bebel seperti dalam ayat2 quran, karena aku seolah berhadapan dengan batu karang yang keras. dia malah sering berkata lebih hebat dari pada orang jebolan S1, bahkan bukan hanya padaku, dia sering merendahkan ibuku juga. padahal pendidikanku yang paling mendukung adalah ibu, aku hampir putus sekolah karena orang arogan itu.

kadang gue menangis, karena saking cintanya pada dia. aku menyayangkan sebagian sikapnya itu, jauh dari hal itu dia memiliki integritas dan prinsip hidup yang hebat. tapi kami sering pecah dan hampir saja saling menyakiti. aku bahkan sudah muak denganya. padahal dia bisa memanfaatkanku untuk mengelola usaha ini. aku anak rumahan, duit juga suka nabung, kerja juga mau, disiplin, antusias, menjadi pemimpin dan berkomunikasi juga lumayan, tapi seolah itu gak ada dalam pandanganya. mungkin lebih baik dia seperti itu, dia menyukai dirinya yang tak pernah tenang dalam keseharianya bahkan hidupnya menjadi tidak bahagia, hartanya seolah menyiksanya karena nafsu ingin menunjukan pada orang lain atas apa yang sudah diraihnya apalagi kepada orang-orang di kampungnya yang mungkin dia memiliki pengalaman masa lalu yang cukup pahit sehingga ingin menunjukan kepada orang lain.

omongan kasar sering sekali aku terima, bahkan sumpah untuk mati, lebih baik aku yang mati dari pada kehilangan SUmber kekayaanya padahal aku sedang bekerja, dia bicara seperti itu. aku sudah gereget ingin mempekerjakan tetangga dan lainya. tapi dia tak berani membayar gaji pegawai besar.

yang lebih aku kesalkan lagi, dari syawal hingga hari ini dia tidak mencari-cari pegawai tambahan, seolah aku sedang menjadi mesin produksi buatnya. padahal aku ini mahasiswa, anaknya. para karyawan/pedagang lainya hilir mudik melihatku berlumuran tepung. aku jujur senang dan ikhlas, tapi hatiku sakit melihat tidak bergeraknya dan apa isi kepalanya. apakah aku ini bodoh atau gak berarti.ya secara sadar aku berpikir, mungkin dengan cara begini aku bisa mendalami usaha ini dan aku juga mendapatkan gaji, aku bisa kumpulkan dan bersabar.

sungguh sulit kesabaran itu, aku selalu meledak kalau aku melihat seolah aku saja yang peduli. ayah dan adiku selalu keluar malam dan bangun tidur lebih siang. dari sisi lain aku menyayangkan dengan apa yang mereka lakukan, bahkan tidak mau beribadah. di sisi lain aku kesal dan marah dengan perbuatan mereka yang tak menghargaiku. aku suka ngenes dan menangis, sejenak aku lepaskan kerja dan pura-pura buang air besar ke toilet, tapi aku menahan tangis dan mengeluarkan banyak air mata. aku puas, tapi apabila tidak begitu aku bisa melempar apa saja dan merusaknya.

puncaknya adalah minggu-minggu ini. aku yang sering bekerja, bersama satu pegawai itu, kini harus sendiri dulu. karena ibunya pegawai itu meninggal dan beberapa hari dia tidak masuk kerja. adiku padahal ngaggur, tapi dia sering sekali menghindar dan mencari banyak alasan. aku lebih baik tak melihatnya ketka aku bekerja. karena aku sibuk kesana-kemari sedangkan dia enak hanya mengerjakan pekerjaan yang harusnya bisa dikerjakan berbarengan. seolah gak peduli. aku sering marah dan kesal dibuatnya. ibuku pun mengeluh buruknya sikapku, membuatnya gak tenang pikiran selama seminggu ini.

aku sering sekali menangis sendiri. aku juga sadar aku hanya ingin kenikmatan, aku selalu membuat motivasi diri agar sabar. tapi itu cukup sulit. nampaknya aku harus keluar dari rumah ini dan menutup diri untuk memegang usaha ini, karena ayahku tak mungkin sepenuhnya mempercayakan, lebih baik aku tunggu dia meninggal saja. bukan aku tak ingin memegang usaha ini, keinginanku begitu kuat dan impianku juga bukan hanya untuku. tapi aku sudah lelah denganya, aku ingin pergi saja dan lebih baik dia tak meliatku lagi. aku sering sekali merasa tidak diadilkan olehnya. meski aku tahu dia memiliki penilaian terhadapku, meski aku lihat bertolak belakang dengan apa yang dia lakukan, ta

aku sudah benar-benar tak sanggup lagi. lagian aku harus coba untuk berjuang seorang diri. demi masa depanku, semi impianku.

biarlah aku dikira orang durhaka. ALLAH tahu aku sering mengatakan impianku.

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s