Perjuangan

aku itu kenapa mudah sekali menangis dan terharu. kadang terlalu sensitif hingga terlalu dalam memikirkan sesuatu. dengan usiaku saat ini aku harus berubah dan membiasakan diri untuk mencapai segalanya dengan action nyata. jika impianku terlalu tinggi dan ngawang sebaiknya tahan dulu untuk mengatakan pada orang lain, tak ada yang peduli bahkan lebih banyak dikatai Omdo sama orang lain. mendingan sekarang waktunya berubah.

aku berpikir keras untuk memulai hal itu, kebiasaan online malah sering menjangkitiku. aku akan membaca banyak buku dan bergadang untuk berlatih bahasa, pada akhirnya aku habiskan waktu berjam-jam untuk ngubek ini itu dan gak jelas. sering sekali menyesali semua itu, tapi esoknya aku ulang lagi. seperti aku ingin sekali menjadi penulis, tetap saja aku lebih suka menulis di media sosial atau bloger, padahal tidak menguntungkan. mungkin karena aku cepat bosan dan lebih menyukai secara online agar orang bisa menanggapi, tetap saja padahal tak ada yang menanggapi. aku rasa percuma, tapi di sisi lain berpikir bahwa ini adalah tempatku berlatih. jadi aku membiasakan diri dahulu untuk berlatih.

siapa sih yang gak ingin sukses, bahkan khayalan menjadi orang sukses selalu ada dibenak lebih dahulu dan hebat kalau bisa membayangkan, tapi itu bagus juga untuk melatih otak kanan dan memanggil kesuksesan itu, juga bisa menjadikan motivasi.

ya aku menjadi bagian dari itu, aku bersyukur orang tuaku hijrah dari Ciamis dan pindah ke Karawang, hidup kami cukup sulit waktu di kampung dan kepindahan kami ke Karawang pertama kali tinggal di rumah pinggir tanggul yang orang bilang rumah itu angker. keadaanya memang iya, sebelah rumah ada pohon kapuk besar yang dianggap orang angker, rumahnya bilik, berdebu, gak jelas, dan kumuh sekali. beberapa tahun di sana cukup nyaman bagiku.

aku juga hampir putus sekolah, pernah ikutan nadah beras yang tercecer dari tengkulak yang ngecek beras di pasa setiap pagi dari pedagang beras yang datang ke pasar, nyoba ngamen sekali-sekalinya. kalau dipikir sekarang aku seperti ini. mempunyai buku-buku, laptop nyala, modem terisi penuh, gadget juga punya. bagaimana jika orang tuaku tak berjuang untuk kelayakan hidup, akankah aku seperti teman-teman kampungku yang aku temukan di facebook dengan foto2 yang mereka upload tentang minuman keras dan gaya mereka yang agak-agak sok bandel-bandel.

bisa saja aku sekarang harus terlunta-lunta bekerja untuk memenuhi isi perut setiap harinya, bekerja di orang lain, bukan mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir. aku menyadari bahwa aku bisa menikmati fasilitas dari orang tua yang sangat cukup untuk mengembangkan potensiku, hingga aku menyadari bahwa aku harus keluar dari ketergantungan dari mereka, bahkan aku harus bisa mandiri. aku juga terpikirkan betapa tidak inginya aku jadi anak manja yang bisa gagal di masa depan atau bahkan aku jadi pemalas. hanya saja terkadang aku juga ingin menikmati kenikmatan ini dan tidak ingin dimarahi karena aku terlalu menikmati.

saat aku menyadari bahwa aku harus mandiri, pertama yang kuinginkan adalah melakukan perjalanan darat di pulau jawa dengan uang seadanya, aku sudah kesal terus dimarahi di rumah meski aku sering membantu mereka, aku kadang ingin kabur. kupikir dengan uang seadanya aku bisa melakukan semua itu, singgah di kota-kota lain dan jalan-jalan gak jelas, nyiksa diri dan nyari penginapan gratis di mesjid atau rumah penduduk. tapi Allah menuntunku ke jalan lain, aku mengetahui ada perjalnan murah ke luar negeri. ya aku pikir realistis dan bisa melakukanya, dan alhamdulilah dengan pengalaman yang luar biasa itu aku semakin selalu bersemangat.

mungkin perjalananku yang tak begitu berkesan bagi jiwaku adalah perjalanan setelah dari India, tapi dengan diriku yang mudah menangis dan tersentuh, aku selalu berusaha agar diriku berpikir mengenai apa sebenarnya rahasia ALLAH dan MaksudNYA menciptakan aku ke dunia ini. 

hasratku untuk sukses terus membuat aku gelisah, berbagai buku motivasi dan tip atau kiat-kita sukses aku baca dan sukai. aku juga jadi suka membaca sejak awal kuliah hingga aku bisa traveling ke luar negeri, dan aku melihat ornag-orang hebat melalui media sosial, buku biografi, atau apapun, bahkan tukang batu bata yang kutemui. aku selalu tergugah mendengarkan mereka dan aku ingin menerima semua itu, aku seperti kehausan ilmu, tapi seolah ilmu dalam otaku juga terhapus. aku gila dan aneh, 

aku anak yang memiliki masalah komunikasi dengan orang tua, apalagi dengan bapa sendiri, sering sekali aku menerima kata-kata yang disumpahi, dilaknat, bahkan dikutuk, karena suka menentang apa yang dia katakan. sebenarnya aku jengah juga, aku ingin bicara baik, tapi semua itu serasa bulshit, ideku gak pernah didengar, bahkan aku merasa tega sekali dia membiarkan aku bekerja menjadi bawahan di tempat usahanya, selama hampir 8 bulan ini. padahal aku ini mahasiswa semester akhir.

aku senang sekali melakukan semua itu, tapi bukan untuk waktu yang lama. aku pikir dia itu akan menacri jalan keluar dan menerima ide-ide segar dariku, kami sering ngotot hanya untuk memberi tahukan ide. atau dia menasehatiku dengan cara ngotot. aku merasa kurang dihargai, aku faham bahkan aku lebih keras bicara mengenai kesejahteraan karyawan, aku rasa aku kurang care apalagi terhadap bawahan, aku menyadari pekerjaan mereka berat sekali dan tak setimpal dengan apa yang mereka dapatkan. apalagi aku kuliah pada jurusan manajemen, dimana sumber daya manusia itu menjadi aset berharga bagi perusahaan. tapi dia tidak mengerti apa yang aku inginkan.

sesekali aku menangis terisak, apakah impianku ini cukup buruk ya ALLAH. aku juga ingin membuat mereka bahagia, tidak membuat mereka bekerja begitu larut dan mereka tak bahagia sama sekali, seolah beban berat, wajah menghitam dan menua. sering kali aku dikatai tidak bersyukur, aku bahkan melawanya begitu keras, bagaimana tidak aku melawan. mereka tidak tahu aku sering menulis untaian kata tentang bapaku itu sampai aku meluapkan emosi di depan laptop. aku tak peduli aku dikatai durhaka atau tidak. impianku tak seperti yang mereka katakan.

aku senang ketika bisa mengajar anak kecil. bagiku mereka memiliki hati yang masih murni dan suci, aku senang bisa membagikan apa yang terbaik yang aku bisa buat mereka. aku ingin memberitahukan bahwa dunia ini Amazing dan ALLAH itu semakin terlihat ada ketika kita melangkah jauh. aku memang suka dengan berbagai hal yang bersifat sosial. dan aku antusias sekali ketika harus tampil di hadapan publik. aku seolah memiliki kekuatan untuk beridiri dan membuka mulut. padahal awalnya aku suka menahan karena tidak PD dan memilih mengurungkan niat apabila harus mengatakan sesuatu di hadapan umum, bahkan di kelas sekalipun.

aku ini sudah 23 tahun lebih. aku bilang ingin menikah dan alhamdulillah ALLAH mempertemukan aku dengan dia. padahal aku ini lumayan lama single dan pulah-pilih, meski yang sekarang ada hal yang dahulu menurutku kurang, tapi aku mau menerimanya, mungkin itu yang dinamakan cinta, tapi kami tak membuat sebuah hubungan, biarkanlah, kita sama-sama tahu bahwa perasaan kami sudah terikat. aku juga malas untuk pacar-pacaran, menikah saja lah.

semakin aku keluar, ternyata dunia berkembang begitu cepat dan aku rasa ketertinggalanku semakin banyak, aku ingin seperti mereka yang keren-keren itu dari segi pemikiran, pendidikan, bahkan karir. bagaimana aku bisa? itulah yang menjadi motivasi, tapi seperti yang diatas aku ungkapkan konsistensiku untuk sungguh-sungguh.

aku ingin kaya Ya ALLAH, dengan itu aku bisa banyak berbagi untuk orang lain, membayarkan zakat harta dan bersedekah. aku tahu perintahmu di dunia ini adalah hanya untuk beribadah, dijelaskan bahwa orang yang bisa menahan dari nafsu duniawi akan masuk surga yang kekal, dan jangan sampai dibutakan pada kenikmatan duniawi. ya aku harus mengejar duniawi dan bisa beribadah yang banyak, Engkau memiliki maksud dan tujuan bumi ini diciptakan, ciptaanMu luar biasa bahkan orang memujinya karena keindahan dan banyak mengunjungi tempat-tempat indah itu. tapi SurgaMu lebih Indah dan dijanjikan bagi siapa saja yang mau berlomba-lomba mengejarnya. semoga impian Mulia ini yang melancarkan aku meraih apa yang aku mau.

bapa aku ingin sekali meneruskan usaha ini, tapi aku pikir konsistensiku belum cukup, banyak hal yang ingin aku lakukan. sebenarnya aku ingin meneruskan karena waktu luangnya lebih banyak dan aku bisa memanfaatkan untuk hal lain. tapi sikapmu begitu padaku, entahlah aku bingung menghadapimu bapa. mungkin saja itu cobaan bagimu, Anak, harta, dan istri adalah cobaan dari ALLAH, semoga engkaupun bisa membuat dirimu mulia dihadapan ALLAH. I love you Dad.

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s