Mungkin Harus aku tunda

beberapa waktu lalu pas malam Nispu syaban aku meminta maaf, saat itu perasaanku mulai kutata lagi dengan baik. aku tak boleh terjerumus dengan perasaan yang terus membatin dan memperburuk kepekaanku seolah semuanya adalah masalah. ya aku selalu bermimpi tinggi. aku hanya memiliki sedikit masalah dengan sikapku ketika berada di lingkungan rumah. aku selalu memotivasi diriku dan mendengarkan instingku untuk meningkatkan potensi-potensiku meski kadang aku banyak melakukan kemalasan, namun aku rasa jauh lebih baik dari temanku yang lain.

bisa dikatakan aku bersyukur dengan kehidupanku kali ini, bisa dengan mudah mendapatkan uang dan membeli beberapa sarana untuk belajar. hanya tekanan yang membuatku muak adalah, aku menggunakan uang untuk membeli sarana belajar adalah karena pemikiranku, aku berpikir belajar dengan baik akan mampu meningkatkan pemikiranku, tapi situasi yang kuhadapi berbeda, orang tuaku tak seperti itu, mereka juga tak begitu perhatian dalam pembelajaranku di kampus. aku malah harus bekerja pagi buta hingga siang karena hampir beberapa bulan ini kesulitan mencari pegawai.

dari pekerjaan itu memang ada gaji yang kuterima, beberapa bulan sebelumnya aku biasa saja, semakin lama semakin dongkol juga apabila terus-terusan begini. aku seolah bukanlah anak sekolahan, aku ingin dia memintaku untuk membantu dia berpikir memanage perusahaanya, dan bukan terus-terusan menjerumuskan aku ke dalam pekerjaan seperti ini. aku selalu berpikir ulang, mungkin ini memang aku harus rasakan, banyak orang-orang hebat yang menguasai pekerjaan rendah dulu sehingga mereka mampu berpikir hebat. padahal jika dipikir kurang peka apa diriku.

aku kemudian membaca beberapa artikel yang bagus, dan instingku secara alami sudah melakukan beberapa tips itu tanpa mengikuti petunjuk tersebut, ada juga artikel lainya yang memang membuatku berpikir ulang, ternyata sikap2 negatif yang harus segera dihilangkan itu banyak bersemayam di dalam sikapku belakangan ini. aku pun berpikir ulang untuk segera melangkah mengambil keputusan yang bisa mengubah segalanya.

orang tuaku punya pabrik makanan ringan atau kerupuk. aku sudah memiliki beberapa gambaran bagaimana usaha ini seharusnya, hanya belum bisa dideskripsikan dengan baik. aku juga sudah tahu banyak yang bilang kerupuk kami itu enak dan berbeda. ini harusnya jadi kekuatan. aku sudah resah dengan budaya perusahaan kami yang seperti ini. mungkin aku harus bicara pada ayahku untuk mencoba memegan kendali pada keuangan pabrik.

dengan cara itu pula aku bisa menabung dan menambah saldo, juga bisa membuat tabungan itu lebih hidup karena rekening selalu ada transaksi yang dilakukan, disebabkan uang yang didapat akan selalu ditabung dan apabila butuh akan ditarik atau transfer. aku sudah memikirkan bagaimana nanti aku menampung setoran dari para pedagang, kemudian aku tulis pengeluaran harian dan mengakumulasikan biaya lainya litrik, gaji pegawai, dan lainya setiap harinya dan sisanya masuk ke dalam tabungan. aku juga bisa mengkoordinir bagian produksi, membuka lowonganpekerjaan, dan menghitung biaya pembuatan persatuan kerupuk dengan meningkatkan gaji pegawai berapa yang seharusnya agar sama-sama menguntungkan. otaku sudah menjalar kemana-mana.

aku belum mempresentasikan semua itu, aku hanya bicara bolehkah aku mencoba memegang keuangan pabrik dalam kurun waktu sebulan. dia cukup tenang tapi belum pasti. aku pun bicara lagi kepada ibu di lain malam, yaitu malam ini. dia mengatakan semua kekuranganku yang kecil-kecil. aku jadi kesal dibuatnya dan sudahlah mungkin aku cukup kerja jadi tukang cetak sampai desember dan mencoba nabung sampai cukup 5000 AUD dan mencoba merantau di Australia apabila aku bisa mendapatkan working holida visa itu. mungkin disana adalah ajang membentuk mentalku. untuk saat ini aku rasa harus sabar dengan semuanya dan berusaha tampil ikhlas.

yang tak aku habis pikir, aku ini anaknya, aku ini anak rumahan, suka belajar. aku hanya berbeda ketika di rumah saja karena merasa jenuh dan entahlah. memang aku sering judes ke pedagang, sering diem di kamar dari pada mengontrol kegiatan lain, dan lainya. karena aku pikir masih bisa mereka kerjakan, aku masih bisa menggunakan waktu lainya untuk lain hal. ya inilah aku, kurang perfecsionis dan menganggap remeh hal-hal kecil. kredibilitasku di rumah berbeda dengan di luar. ya ALLAH tunjukan jalanMU.

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s