Alasanya mengasah mental

udah beberaa kali merencanakan usaha mandiri, tapi selalu ggal, hanya jadi omongan belaka, lalu akhirnya temen-temen bilang omdo. tapi gue sih gak peduli dengan apa yang mereka katakan, toh mereka juga kuliah cuma gitu-gitu doan, nulis di blog gratis aja gak pernah.

akhirnya gue kembali selalu ingin mencari sampai mana kemampuan diri gue untuk action, walau dalam kepala sudah membuncah banyak keinginan dan ide, tapi gue belum percaya diri sama sekali, dan untuk jadi pede harusnya gue turung dan melakukan sesuatu. karena pancingan temen di facebook dan akhirnya kami sepakat untuk coba usaha di bulan ramadhan.

ya karena faktor sub budaya (agama) juga jadi mungkin jualan di bulan suci akan mudah, kami membuat kolak, gorengan dan es buah. kami mengumpulkan modal masing-masing 100 ribu rupiah, membuat meja jualan, membenarkan kompor dan memasak. sorenya sekitar jam 3 kami siap menjajakan makanan.

kolak sudah dibungkus, gorengan juga sudah tersedia, kami menunggu pembeli. memang awal ramadhan adalah hari minggu, jalanan cukup ramai, tapi jarang sekali yang mau berhenti, gue gak optimis sampai menjelang magrib, sesekali ada pembeli, sekalinya ada pembeli langsung banyak, jarang lagi. tapi menjelang detik-detik adzan magrib kami sibuk melayani beberapa pembeli.

alhamdulillah jualan hari pertama cukup memuaskan, walau es buah yang kami buat kurang manis sekali. kami pun bisa mengambil laba cukup lumayan, hari-hari berikutnya malah menurun jumlah penjualanya. kami kebingungan, kolak selalu tersisa dan laba cuma sedikit. keluhan-keluhan juga sudah terdengar dari beberapa orang. gue pun harus sabar menanggapi hal itu.

bagi gue ngapain gue bela2in keuntungan yang sedikit dari usaha ini, belu lagi dibagi 5 orang. tapi bagi gue ini sarana belajar, gue gak mau nyari untung dan gue malah seneng bisa membantu orang lain dan menyajikan makanan-makanan untuk yang berbuka. seru sih ketika harus berhadapan dengan orang lain dan mereka mau membeli apa yang kami buat. gue juga mencoba untuk selalu bersikap lebih bijak, okelah beberapa orang memang kurang maksimal dalam bekerja, tapi toh kalau kita sungguh-sungguh suatu saat kita bisa menjadi sukses karena berbeda dari orang lain. meski kita satu team, nasib orang tetep aja milik perorangan, jadi ngapain juga iri karena dia kurang maksimal kerjanya, kerugianya bagi dia dan gue malah akan rugi kalau jadi pembenci dan cari-cari kesalahan orang lain.

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s