Usaha itu sulit

Usaha di bulan ramadhan mungin agak sedikit berbeda dengan usaha lainya, apalagi yang kami siapkan tak jauh dari hidangan untuk berbuka seperti kebanyakan orang yang melakukanya. ya kami menjual kolak, gorengan, es campur/buah/jeli. ngerjain ini saja cukup rempong karena kami juga harus mengerjakan pekerjaan lainya; kerja/kuliah/skripsi/tadarus/dll.

pagi hari setelah subuh saya kerja seperti biasa sampai siang dan lanjut ke rumah temen di mana kami akan memasak, setelah menjemput seseorang kami pun siap memasak, aku selalu memasak kolak. ya kolak yang aku masak adalah kolak pisang, ubi, sakoteng, kolang-kaling kalau ada. ngulek bumbu, dan nyiapin dagangan lainya.

dari usaha kelompok seperti begini, kami pun bisa menghabiskan waktu bersama, mengenal satu sama lain, bercanda, dan kami bukan sahabat yang setiap hari selalu bareng, jadi beberapa orang belum ada yang mengenal atau maklum dengan sikap-sikap yang kurang berkenan. ya saya sih mikir, bahwa apa yang kita lakukan itu yang akan kita dapatkan. contohnya, mungkin saat ini saya bekerja lebih banyak dan gesit, yang lain tidak, beberapa teman merasa ada kecemburuan. tapi mikir lagi, toh apa yang kita lakukan akan membentuk masa depan kita, jadi kenapa iri, justru kalau iri, apa yang kita lakukan sudah bener, hati kita malah dipupuk keburukan.

seperti halnya penjual lain, mungkin berpikir, di awal itu akan terasa sulit, sudah balik modal saja sudah untung. kami pun deg-degan, terutama saya, apalagi kalau sudah jam 5 sore karena dari jam 3 sampai jam 5 jarang sekali yang beli, dalam otak suka berpikir betapa harus sabar dan terus berdoa. biasanya sekali ada yang beli, segerebek beli, kalau jarang ya jarang. tapi kira-kira 30 menit sebelum bukber biasanya rempong melayani pembeli.ri

setelah kami jalani, justru di awal ramadhan cukup ramai pembeli, kesini-kesininya malah melempem.

kami pun terkadang dirundung rasa malas, untung tak seberapa, cape dan menyita waktu iya, sampai skripsi kami pun juga gak ditengok-tengok meski dalam hati ingin sekali menyentuhnya. ya kami sadar untung dari jualan ini gak seberapa belum lagi harus dibagi rata, tapi ya itung-itung ibadah juga menyediakan makanan berbuka, sehingga hal ini cukup memberikan motivasi.

beruntungnya rumah teman kami itu keluarganya begitu welcome, kami seperti berada di rumah sendiri, bahkan kami tak begitu canggung untuk melakukan ini dan itu di rumah tersebut, setelah jualan biasanya kami buka bersama dengan masakan-masakan yang kami buat bersama ibu teman kami, makan bersama bareng-bareng dan bercanda, saling ledek-ledekan, curhat, dan apa saja. ya cukup menyenangkan dan membahagiakan.

kalau tidak ada kegiatan seperti ini, pernah libur pas pencoblosan capres kemarin, rasanya malah badan itu sakit-sakitan akibat banyak tidur dan malas-malasan. tapi kalau masak, waktu cepat berlalu dan males makan meski lapar. terkadang kami juga malas untuk mencicipi masakan itu, ya sudahlah tergantung nanti saja bagaimana. terkadang juga kalau lagi ngulek atau liat bubuk gorengan, rasanya pengen menjilat/melahap.

mungkin karena kami tidak mencari duit dari hal semacam itu dan niat untuk belajar jualan juga, jadi masih setengah-setengah melakukanya dan gak serius, serta kami terlalu dini jika berharap langsung laris manis, perlu banyak waktu untuk mengenalkan ke banyak masyarakat dengan cita rasa. meski bahan-bahan yang kami sediakan isnya ALLAH yang terbaik, tetep saja ada beberapa pandangan yang meremehkan masakan kami, tapi ada juga yang antusias membeli, seneng jika mereka membeli, kebanyakan sih cowok-cowok yang beli, mungkin karena mereka juga suka malu kalau membeli sesuatu seperti itu. hahaha paling enak kalau liat pembeli-pembeli yang sebelumnya balik lagi, ada kemungkinan makanan kami sungguh lezat di benak mereka atau memang karena mereka malu kalau beli di tempat lain.

ya usaha kaya gini tuh bikin deg-degan, kami cukup terbantu dengan faktor sub-budaya agama seperti ini, karena konsumen sudah bisa ditebak kebutuhanya, nah apalagi kalau kami buka resotoran, seberapa besar lagi kesabaran yang harus dimiliki untuk meraih konsumen.

kenyataan seperti ini jika disharekan menimbulkan pemahaman dan pembelajaran untuk semakin menghargai para penjual, apalagi orang tua. memang benar perkataan nyari duit itu susah, ya kami alami sendiri, mungkin kalau bagi pekerja di perusahaan yang susah itu kan ngelamarnya, tapi enak karena gajinya sudah pasti dapat. kalau usaha semacam ini kan belum jelas, persaingan semakin ketata karena banyak orang yang melakukan hal yang sama. belum lagi cuaca yang tidak menentu dan keamanan serta izin.

kemarin saat sudah masak kelar, gorengan masih numpuk, es buah sudah dibuat, langit mendung dan kami benar-benar deg-degan juga. kami berpikir ini hujan bakal segerebeg/tiba-tiba jatuh dan langsung besar. kami bereskan beberapa sampai tanda-tanda itu benar, beberapa barang sudah dipindahkan ke motor. saat hujan benar-benar turun kami langsung pulang, beberapa barang ditinggalkan. badan basa kuyup, orang yang berteduh memperhatikan kami saat membereskan, saya bisa mengira-ngira apa yang mereka pikirkan ketika melihat kami.

akhirnya adzan sudah berkumandang lebih awal dan kami makan takjil yang sudah kami buat, melihat gorengan yang cukup banyak dan kolak, hanya terjual beberapa. kami berniat untuk menyudahi jualan semacam ini, seperti biasa makanan sisa kami bawa untuk dibagikan kembali. gak biasanya semua masakan hari ini enak-enak dan pas semua bumbunya, sambalnya juga enak, bala-balanya juga, bakwan, risol, kolak, dan es. ya kami tak begitu resah sih dengan produk yang tidak laku. karena dari awal kami pun sudah tahu keuntunganya tak seberapa apabila dipikirkan.

ya kami jadi memiliki keluarga baru dan saling belajar banyak hal, ternyata tidak mudah dalam menjalankan usaha, apalagi kalau usaha bareng-bareng seperti itu, kita harus dituntut lebih toleransi dalam menghadapi rekan kerja, bisa-bisa pecah dan bermusuhan karena tahu masing-masing karakter. bagaimanapun usaha itu lebih baik dilakukan sendiri atau sama pasangan hidup. karena akan jauh lebih menetramkan hati, maksudnya pikiran kita juga tidak tersita untuk memikirkan karakter orang lain. yang jelas, usaha boleh bareng tapi nasib itu tidak bareng-bareng, jadi ngapain iri sama yang kerjanya lelet, gak cekatan dan lainya, kalau kami kebalikan dari dia, pasti rezeki kamu pun akan lebih.

ya semakin memperkaya pengalaman

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s