Keputusan yang Membingungkan

lagi-lagi gue galau apa yang harus gue hadapi, beres-beres tugas akhir juga malasnya minta ampun, buka laptop hanya untuk mantengin yang namanya facebook. sungguh gak berguna sekali sebenarnya, tapi apa mau dikata, lebih seneng eksis ketimbang mementingkan apa yang perlu. apakah hal ini menimpa banyak anak muda ya? gue rasa sih iya, dan sibuk dengan masing-masing media sosial favortinya.

galau gue selalu mengenai masa depan, berulang kali gue mikir sebenarnya gue mau seperti apa dan mau melakukan apa. pilihan satu berat, pilihan 2 kayaknya enak kalau bisa dapatin, pilihan 3 terlalu muluk padahal masih pesimis.

mau pegang bisnis orang tua juga dia gak begitu percaya sama gue, padahal gue bukan orang yang suka kelayaban maen, sering nabung, dll. tetep aja karena dia liat kerjaan gue yang kurang memperhatikan hal kecil selalu ada saja untuk menolak gue.

rencananya beliau akan membuka pabrik produksi di desa, ya kalau dipikir di desa itu susah nyari duit, dan gue bisa saja jaga di sana dan memperkerjakan masyarakat, gue juga bisa sambil mendalami ilmu agama, melakukan kegiatan sosial lainya. di sana pun chanel televisi cukup lengkap, mungkin kalau malam suka lebih sunyi saja. dan kalau gue mampu memegang hal semacam itu gue juga bisa memberikan pengaruh dan impian-impian gue untuk berbakti pada masyarakat secara nyata. akh yang jelas gue juga mungkin ingin pujian.

lalu dengan mengetahui dunia backpacking gue juga banyak masukan, salah satunya melakukan berlibur sambil bekerja di Australia dengan Working Holiday Visa. tapi apakah gue bisa, ayah gue sendiri jarang sekali nabung, tapi kalau berurusan dengan bank sering sekali karena meminjam dana dari Bank. gue juga coba bikin tabungan buat nyokap, tapi rasanya lama juga nabung untuk dapatin 5000 AUD. atau gue kurang bersabar dengan hal itu. belum lagi godaan gue untuk membeli barang-barang, selama setahun ini bahkan gue gak banyak menabung, padahal gue kerja. malah gak melakukan backpacking lagi.

sebelumnya gue juga ingin sekali menikah, hal itu sampai terbawa ke dalam omongan-omongan gue yang agak mengarah ke omongan jorok. ada yang mengatakan “udah nikah aja loe, omongan loe udah gitu.” hahahaha. pas gue berdoa ingin mendapatkan jodoh sesuai dengan apa yang selama ini gue cari, gue pun merasakan cinta pada pandangan pertama, sudah lama gue menjomblo. beberapa kali pula gue coba melakukan PDKT sama beberapa cewek tapi gak pernah ada yang cocok. gue pun berpikiran apakah gue gak normal. sehingga dalam doa selalu yang gue minta jodoh, bahkan kalau backpacking gue suka seneng kalau bisa diam termenung dan memikirkan banyak hal terus aair mata tiba-tiba menetes dan salah satu dalam doa itu mengenai jodoh.

tapi gue juga orang yang gampang bosenan, gue juga aktif menghubungi cewek di awal-awal, kesini-sininya ada perasaan bosan. tapi gue juga ingin memiliki anak, hidup bareng seseorang, meniti karir bersama, backpacking bersama, membangun keluarga dan masa depan anak bersama.

lah gue juga mikir kalau gue nikah muda, semangat gue untuk mendapatkan beasiswa pudar dong. padahal gue gak jago-jago banget dalam keilmuan apalagi bahasa yang menjadi salah satu syaratnya. mungkin karena gue banyak membaca enaknya kalau dapat beasiswa jadi gue juga ada keinginan untuk mengejarnya. padahal WHV dan beasiswa ini menurut gue semu dan gue takut kecewa. ada yang bilang coba dulu. ya karena gue sering gagal dalam mendapatkan sesuatu yang semodel kaya begini, jadi pesimis gue lebih besar.

teman-teman kampus juga kalau diajak usaha pada mau, tapi mereka mau di awal doang, akhirn-akhirnya pada berantem gara-gara tidak bisa menerima dengan cara kerja rekan.

apa gue mending pilih, pilihan yang pertama saja ya, tapi gue lebih sering sakit hatinya kalau ayah ngomel-ngomel. sering kali gue ingin kabur atau meninggalkan mereka. ya ketika jauh gue juga inget mereka dan perjuangan mereka, tapi kalau dekat gue serasa bukan anaknya, ketika orang lain bilang gue itu rajin bahkan ibunya temen bilang beruntung banget kalau punya suami kaya gue. tetep aja di mata bokap gue, gue itu orang yang tak bisa dipercaya.

kalau gue dapetin WHV ke australia, gue bisa nabung dari hasil kerja dan usaha lainya. ya gue juga harus nahan untuk menikah. tapi gue juga mikir, untuk apa gue terlalu mengejar nafsu duniawi, kalau gue ke desa gue lebih banyak belajar dan orang tua gue bisa terbantu. cuman yang gue gak maju-maju malah terus mengotori hati karena serasa tertekan terus, sedangkan keinginan untuk bersenang-senang dan bebas itu lebih besar.

a

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s