Mengharapkan Apa yang Samar di Depan Mata

Beruntungnya saya memiliki orang tua yang memiliki usaha rumahan, sehingga saya tak perlu was-was untuk mencari kerja atau tak memiliki uang ketika harus berhenti dari pekerjaan seperti temen-temen saya. sahabat saya cukup rajin dan pinter dia sehabis lulus SMK kerja di Ramayana Mall, sudah menginjak 4 tahun sampai sekarang. aneh memang kenapa dia terus bertahan di tempat itu, padahal dia cukup memenuhi kualifikasi untuk bekerja di perusahaan. sekarang alhamdulillah dia sudah kuliah, sesekali dia juga suka pinjam uang ke saya dan dibayar ketika gajian. sekarang dia sudah lunas membeli motor meskipun nyicil setahun, barang-barang elektronik lainya juga, dan sekarang kuliah pun mungkin dia akan bayar dengan hasil kerjanya karena saya tahu kondisi keluarga mereka. saya mendoakan dia agar semakin hebat mengingat potensi dia lebih dari teman lainya.

saya tak bermaksud membahas hal itu, hanya saja meski saya juga bekerja di rumah dari pagi-pagi buta sampai sore hari, bahkan bisa dikatakan saya bener-bener kerja jadi bawahan sampai saya kadang berubah mood dan sering marah mengapa ayah saya memperlakukan saya seperti itu hanya karena tak ingin membayar pegawai lebih besar dan kekeh terus dengan budaya kerja yang monoton, kaku, dan membosankan.

saya memiliki impian (bisa dikatakan besar) intinya saya orang yang selalu was-was dengan masa depan sendiri karena banyak mendengar cerita orang-orang yang gagal menjalani hidup karena kesalahan dirinya sendiri. saya juga bersukur sebagai anak sulung yang mampu lebih rajin dari pada adik-adik saya dan saya terlalu sensitif sehingga gak tegaan. adik saya masa bodoh gak ada yang kerja juga, kalau saya mana bisa, apalagi ayah kami yang pedas omonganya kalau kami gak bekerja jika tidak ada pegawai.

perjalanan ke luar negri saya mulai karena inisitif diri saya untuk semakin mengembangkan diri, kalau saya tak seberuntung ini mungkin dalam pikiran saya adalah cari kerja, atau nyari duit doang. memiliki orang tua yang saya bisa bantu dan bisa mendapatkan tambahan uang jajan meski uniko sebagian membuat saya bisa memiliki kesempatan menabung lebih banyak dari orang lain karena tak perlu memikirkan uang makan, bayar kosan, kuliah, tugas, dan lainya.

perjalanan ke luar negri tidak bisa saya katakan murah, saya hanya mengetahui cara para backpacker yang bisa membuat perjalananya hemat dengan memilih alternatif-alternatif. perkara murah atau nggak tergantung gaya hidup masing-masing, bisa saja kita sama-sama nginap di penginapan yang 50 ribu rupiah tapi cara makan kita berbeda dan harganya juga berbeda.

saya tak mengatakan jauh-jauh hari mengenai keinginan saya berkunjung ke negara orang lain, lebih sering saya bicara beberapa hari sebelum berangkat dan itupun kepada ibu saya. terkadang memaksakan diri meski tak ada perkeja sepertinya saya harus tetep jalan, sudah bosan beberapa bulan saya seperti itu dan ayah saya nampaknya tak begitu peduli (meski dia juga mikir susahnya nyari pegawai).

kemudian setelah acara wisuda saya tergerak untuk membicarakan apa yang sudah saya ketahui sejak lama dan belum tentu saya juga bisa, saya juga sedikit menggertaknya. saya memiliki kemunduran dalam berpikir beberapa bulan terakhir ini, mungkin karena jarang lagi menulis dan karena kerja di rumah itu menggantikan pegawai, saya jadi lebih sering berpikiran buruk. beberapa kali saya mengalami sikap tidak diakui juga, padahal jika dilihat saya juga sudah banting tulang dan memikirkan sebisanya.

ketika mendapatkan perlakuan yang agak keras dan tidak adil itu saya berpikir untuk mantap ingin keluar dari rumah ini, dan kebetulan ada program working holiday visa ke australia yang mungkin bisa saya ikuti, perlahan saya mengumpulkan uang tabungan. dan saat kemarin itulah saya mengatakan mengenai hal ini kepada ayah saya.

dia pun diam seribu bahasa, keesokan harinya dia tidak suka dengan pilihan itu dan menganggap saya lebih suka melakukan hal dalam satu grup. padahal sama sekali saya tak seperti itu, hanya kebetulan dulu saya pernah merencanakan akan membuat usaha bersama, dan sampai sekarang saya dinilai seperti itu. dan saya hanya menjelaskan yang general kepadanya, ternyata dia belum cukup mengerti malah menyepelekan pekerjaan yang akan saya ambil jika di sana. dia berkata kalau saya itu ingin mencari apa yang tak pasti, padahal di depan saya ada yang harus kamu kelola. mungkin juga itu dikarenakan ambisinya yang ingin membuat cabang di desa dan mengumpulkan banyak harta di desa agar dia bisa dilihat oleh tetangganya yang dulu bagaimana pencapaian hidupnya.

saya hanya bisa berpikir dan sesekali merenung kenapa, saya ingin maju dan melihat dunia luar. saya tak memilih maupekerjaan apapun, bahkan pekerjaan hina dina, asal saya bisa belajar banyak hal, ditekan sama orang, butuh duit, bekerja bener-bener agar dapat duit, takut belangsak, takut jadi gelandangan, bisa berkomunikasi dengan banyak orang, melihat banyaknya perbedaan, menghargai dan dihargai, diakui, menemukan jati diri, menemukan seberapa bisa saya dalam menjalani hidup mandiri. ya this is adventure, dan restu orang tua nampaknya agak sulit. bingung, dan nampaknya saya akan memaksa. isnya ALLAH.

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s