memikirkan orang lain, tapi belum tentu orang lain.

Jadi pengusaha memang dituntut untuk memiliki jiwa kepemimpinan, whatever about teori, ketika kuliah kami berdiskusi tipe pemimpin seperti apa yang unggul. sometime beberapa tipe itu memiliki keunggulan masing-masing dan bisa saja tipe itu tercipta ketika menghadapi banyak orang di sekitar organisasi/usaha tersebut.

memang seorang pemimpin akan menentukan bagaimana budaya usaha itu selanjutnya, kesabaran benar-benar harus diperlukan dan bagaimana kita mampu memanage emosi dan sikap kita dalam menghadapi berbagai situasi yang akan dihadapi.

saya memang terbentuk untuk menjadi pewaris usaha orang tua, saya merasa ini kehidupan yang harus saya ambil. saya sudah lama turut membantu dan nampaknya itu semua sudah menjadi kebiasaan untuk mulai dijalani sepenuhnya untuk masa depan. bisa saja saya memilih jalan lain dengan membiarkan ocehan orang tua terus terngiang karena saya anak bodoh rela melepas semuanya.

sejauh ini saya belum mau berinovasi banyak dalam usaha orang tua dan masih saja membantu pekerjaan biasanya saja, gejolak hati untuk membentuk diri semakin banyak pengalaman dulu di luar membuat saya masih ragu untuk benar-benar ambisius dalam menjalankan usaha.

memiliki usaha mandiri apalagi kita merupakan seorang pemimpin harus siap berhadapan dengan banyak orang, secara otomatis juga mampu membantu perekonomian orang lain, setidaknya kita membuka lapangan kerja, entah itu impian untuk memperkaya diri sendiri atau bersikap agar mampu membantu orang lain secara otomatis memiliki usaha mandiri mampu melakukan hal itu.

kesiapan mental ketika menghadapi orang lain dengan berbagai latar belakang, dihianati, dimusuhi, dibenci, atau dirugikan adalah suatu hal yang sebenarnya akan banyak dialami.

dalam tulisan ini, poin yang ingin saya ceritakan adalah sesuatu yang sebenarnya banyak orang alami juga, apalagi yang berkecimpung di dunia usaha kecil menengah.

ketika kita setiap hari dipenuhi berbagai masalah dan pemikiran, contohnya saya memikirkan karyawan harus seperti apa? harus bagaimana? tapi karyawan itu sendiri tak mau memikirkan bagaimana orang lain, bahkan cenderung merugikan orang lain.

sebagai gambaran saja, saya memberikan modal untuk berdagang kepada seseorang (bisa dikatakan juga saudara yang tinggal di kampung). dia sering sekali mudik dan sekali mudik bisa sebulanan lebih? lah bagaimana nasib modal saya itu? sedangkan saya sudah mengeluarkan uang banyak. beberapa kali kami beri kesempatan hingga akhirnya kami menyerah dan memintanya untuk tidak perlu datang kembali.

apabila kita memiliki beberapa orang karyawan, bayangkan berapa orang yang akan membuat kita terlibat dengan urusan mereka sendiri sedangkan terkadang urusan diri sendiri dan keluarga sendiri saja masih banyak. kadang bertanya pada diri sendiri “kita begitu memperhatikan orang lain, memikirkan modal buat mereka. akan tetapi mereka? bahkan untuk dirinya sendiri pun lebih baik mereka merusaknya.”

hal seperti ini tentu saja tidak bertanggung jawab dan sudah menyepelekan harta orang lain? apa yang akan dia dapat? kelak memang kerugian akan terus dirasakan sepanjang dia hidup. saya tertarik dengan cerita-cerita semacam itu. jadi saya terkadang mencoba mengikhlaskan dengan tidak mengejarnya, because someday you can get what you plant.

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s