Merajut Harap

29 juni saya memiliki jadwal terbang ke chongqing, China. Perjalanan kali ini gak begitu exited, sampai saat ini saja saya belum membuat plan mau kemana aja dan mencari informasi apa saja yang ada di beberapa kota yang ingin saya tuju, bahkan saya tak memiliki keinginan untuk ke tempat yang terkenal di China.

Tapi ya traving seperti wajib bagiku setiap tahunya, udah lama gak jalan juga, lagi-lagi saya usahakan untuk solo traveling saja. Dulu ke India bareng temen agak kurang gereget, nah sekarang saya ke China diusahakan sendiri.

Belum urus visa juga sebenernya, jadi mungkin awal bulan depan akan saya urus.

Saya sedang menunggu surat rekomendasi dari dirjen immigrasi Indonesia untuk mendapatkan rekomendasi working holiday visa.

Namun sayang dirjen belum juga mengeluarkan surat untuk gelombang 52 sedangkan saya termasuk gelombang 55.

Awalnya saya gaj begitu optimis bisa mengajukan whv itu karena uang tabungan, tapi karena dirasa mungkin sehingga akhir tahun 2014 saya coba daftar online ke dirjen immigrasi. 4 kali selama menunggu dipanggil wawancara oleh dirjen immi saya coba test toefl dan 4x tes baru saya lulus dengan nilai yang diharapkan, uang tabungan memadai dan orang tua sudah mengijinkan.

Sayangnya sekarang malah pending, padahal saya ingin segera menginjakan kaki ke australia, saya sudah berkhayal saya akan kerja sungguh-sungguh, belajar apa saja di australia dari mulai bahasa, sistem kerja, manajemen sebuah bisnis, dll. Selain itu saya juga bisa traveling di Australia, ketemu banyak orang disana dengan berbagai karakter yang unik. Akh rasanya hati ini sudah menggebu sekali untuk kesana.

Memang saya tak bisa banget untuk 100% optimis tapi dalam hati berusaha meyakinkan kalau saya bakal kesana dan dalam tahun ini.

Saya juga sempat berpikir untuk mencari kerja saja, karena di rumah sudah agak bisa terkendali dan gak enak numpang di usaha orang tua, tapi saya gak begitu memberi pengaruh besar. Saya ingin aktif diberi tugas yang agak berbobot biar bisa mikir atau mungkin lebih tepatnya butuh suasana kerja baru yang gak gitu-gitu aja.

Bayangkan pagi saya bangun dan entah mau ngerjain apa, siang bantu nerima setoran pedagang dan saya manage keuangan pabrik hingga akhirnya saya bisa menabung banyak untuk keperluan working holiday visa.

Waktu saya habis untuk melihat layar handphone, padahal hati selalh mengajak untuk berubah, membuat jadwal lagi, kegiatan sehari-hari mesti tersusun dan termanage dengan baik sehingga bisa dimaksimalkan.

Nyari kerja juga agak males, pernah nanya-nanya ke temen tentang pekerjaan dan kebanyakan memberi tahu juga.

Saya juga aktif dalam aksi relawan mengajar di beberapa tempat, kadang juga di sekitar rumah, tidak saya kerjakan setiap hari tapi saya juga berusaha untuk mengangkat kreatifitas dalam kegiatan mengajar. Salah satu komunitas yang saya ikuti juga memberi kabar bahwa mereka akan ke Papua, karena di sana juga ada kawan sesam komunitas yang juga membuat aksi sama. Tapi belum fix waktunya.

Karena saya merasa kurang maksimal dalam memanfaatkan waktu, dan saya juga ingin buru-buru beraksi atau menghasilkan sebuah karya. Usia udah 24 dan saya masih begini-begini saja. Saya mulai memikirkan kira-kira bisnis apa yang akan saya kelola. Saya pun bigung, kalau bisnis itu menyita waktu saya gak belum bisa karena kan ada beberapa impian yang sedang saya proses. Saya ingin punya restoran atau cafe, saya juga ingin mengelola sebuah usaha di kampung halaman untuk membantu perekonomian di sana, dan banyak lagi.

Saya galau terus tiap hari.

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s