Undangan yang tak ditepati

Kita tentu pernah mengundang orang lain untuk hangout bareng; nongkrong, makan, holiday, party, dan lain sebagainya atau mengajak orang melakukan kegiatan berguna seperti volunteering, les tambahan, sekolah, dan lainya.

Saya senang ketika melakukan sesuatu itu bareng temen, bahkan sering mengundang temen-temen untuk hangout bareng dan melakukan kegiatan berguna bareng.

Mengajak teman biasanya dilakukan melaui media komunikasi. Apapun bentuknya saya coba agar bisa terhubung dan menanyakan apakah mereka mau atau tidak.

Kecewa memang kalau gak ada yang nyaut sedikitpun, Malah sebenarnya sudah buang-buang energi karena mengundang atau mengajak mereka.

Di lain hal sahabat bisa dengan mudah diajak, beda dengan teman biasa yang terlibat dalam aktifitas sosial kita yang tak begitu mementingkan sebuah ajakan.

Kita tidak boleh menuntut orang untuk selalu mau mengikuti apa yang kita mau. Jadi sebenarnya itulah kuncinya, cukup ajak dan apapun jawabanya ya sudahlah.

Misalnya kita merindukan teman-teman kita dan ingin kumpul bersama, beberapa orang mencoba membuat rencana dan ada yang berhasil ada ya g tidak yang pada akhirnya obrolan kita ngalor-ngidul ditinggalkan satu persatu.

Momen-momen seperti berbuka bersama, ulang tahun teman, nikahan teman, traktiran temen dijadikan momen untuk mengundang teman-teman kita yang sudah tak sering beraktifitas bersama lagi. Namun sayang kadang banyak kekecewaan yanh didapat karena tidak mudah membuat mereka untuk join.

Paling menyebalkan dari semua itu, tidak semua teman mengapresiasi undangan kita, beberapa ada yang nanya banyak hal, tapi menjelang hari H   banyak sekali alasan-alasan yang kurang masuk akal.

Tiba-tiba sakit, udah segede gitu masih gak diizinin orang tua, nganter sodara, kendaraan rusak, anaknya tiba-tiba demam sih masih masuk akal, sampai paling parah hapenya MATI. Ada juga yang gak angkat telpon dan gak balas sms, pas acara udah mau berakhir dia ngasih kabar, SOry tadi ketidurAn. Kenapa gak sekalian aja bilang tadi mati suri atau alzaimer mendadak. Lol.

Ini sih yang membuat sebal. Banyak sekali alasan yang dibuat-buat yang pada intinya kita malas bergerak untuk ikut atau nggak. Banyak mikir dan mengikuti rasa malas itu.

Saya juga kadang terjangkit penyakit kaya begitu, tapi saya mikir lagi, kalau saya udah ketemu orang pasti perasaan saya berubah dan lebih exited lagi. Dan itu benar adanya.

Saya sering menolak undangan pernikahan, bagi saya itu kadang gak terlalu penting. Yang bikin kesel kita baru ketemu satu kali saja sudah berani ngundang. Ada lagi kita berteman cukup akrab, terus lama gak pernah berhubungan bahkan dia gak mau balas chat dan sms kita, komen di media sosial aja gak ditanggapi, eh sekalinya nikahan dia ngundang dan jawab banyak pertanyaan, pas udah nikah boro-boro ada lagi.
Udah gitu di daerah saya tuh uang yang kita kasih di amplop belum tentu ditulis berapa-berapanya, nanti ketika saya undang balik itu gimana urusanya, belum lagi sistemnya disini parasmanan, jadi begitu masuk ke acra pernikahan kita bersalaman dan masuk ke meja makan lalu makan, abis makan ke altar pernikahan dan bersalaman sambil ngasih amplop. Gila saya sering pergi ke acara pernikahan itu sendiri dan isi amplop lumayan, nanti gimana kalau saya undang dia, isi amplop dia tak bs dijamin lebih besar karena kebanyakan lebih kecil dan dia datang bawa bini plus anak yang artinya akan makan untuk 2 atau lebih porsi. Gila kan.

Oke saya mungkin perhitungan tapi saya pun bercita-cita untuk membuat acara pernikahan yang sederhana. Nikah di mesjid ijab qobul, ngumpul keluarga dan makan-makan keluarga, udah. Saya gak mau punya utang dengan harus membayar nanti orang yang datang ke pernikahan membawa amplop, simplenya itu dan bulan madunya yang mahal biar menikmati duitnya, dari pada nyewa organ tunggal dan mamerin penyanyi dangdut dengan body-bodynya rasanya gak etis seperti itu. Mendidik masyarakat ke arah yang kurang baik. Tentu saja impian itu tak banyak dimau sama cewek sekarang, mana ada cewek yang mau sesederhana itu mengingat ada keluarga mereka dan bagi mereka pernikahan terjadi begitu langka sehingga harus wow.

Nah balik lagi ke persoalan tadi. Itulah suka dukanya mengundang orang lain. Beda dengan komunitas besar yang punya banyak member yang datang pun beragam dan bisa ketemu orang baru.

Mungkin kita pernah kesel, sahabat sendiri pun ada yang seperti itu. Oleh karena itu kita harus berusaha untuk tidak banyak berharap tapi kita coba terus aja. Tapi biasanya kalau dengar kata FRee Mereka cukup exited.

Ada teman saya sampai dia ingin hangout tapi gak mau menghubungi yang lain buat nanya apa maubikut atau nggak. Sayalah yang disuruh, dan saya pun akhirnya sama jengkelnya karena teman saya itu juga sering jengkel bin dongkol kalau ngajak teman.

Hahahhahaha
Sebaiknya kita langsung menjawab ketika mendapat undangan. Bilang apa saja kek sesuai keinginan. Apakah bisa atau tidak dengan alasan yang relevan.

Thanks.

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s