Kesepian Hati

“saat ibu mengingat betapa kurang kasih sayang suami, ibu sering sendiri menangis di dapur sebelum memasak. kamu dapat melihatnya nak, ibu tidur di warung dan ayahmu di kamar. ketika kami tidur bareng pun ibu tak pernah mendapatkan kehangatan bahkan sentuhan. kehidupan kami cuek.”

ada kalanya pasangan itu berantem hebat, bahkan sampai keluar permintaan cerai. setiap pertengakaran itu terjadi ayah tidak pernah mau menceraikan istrinya. namun permintaan cerai tidak lagi terjadi beberapa tahun ini.
ibu adalah istri kedua yang memiliki wajah tidak terlalu cantik namun memiliki jiwa pejuangan dan semangat yang tinggi. istri yang dipertahankan karena begitu hebatnya, begitu sederhana dan bagus untuk dibawa usaha. mereka adalah duda dan janda yang menikah karena sebuah cerita unik dan aneh.

15 tahun menjalani usaha dan cukup sukses tidak membuatnya berubah gaya hidup, ibu terus mencari uang dengan bekerja, bahkan mampu memiliki tabungan besar dari usahanya.semua hasil usaha dipegang oleh suami dan setiap harinya dia mendapatkan nafkah.

akhir-akhir ini ibu sering mengeluh capek karena bekerja, hal itu menyadarkanya bahwa dia sudah tua. di usia hampir setengah abad dia belum memiliki menanatu bahkan cucu. dia kesepian, seperti memiliki keluarga tapi dia benar-benar seperti sendiri. anak-anaknya sibuk dengan kegitan masing-masing, dalam tidurnya dia selalu terjaga, bahkan bisa mengetahui siapa yang masuk dan keluar padahal dia dalam kondisi tidur.

anak laki-laki pertamanya akan meninggalkanya untuk beberapa lama. ibu yang sudah merindukan bertambahnya keluarga dalam kehidupanya kini harus menunggu lagi, entah sampai kapan anak-anaknya akan memiliki sebuah keluarga.

“mah, rasanya jika ada kesempatan bagi ujang untuk tinggal di sana lebih dari satu tahun, saya memilih di sana aja ya mah, saya ingin sekolah lagi, mungkin jadi chef. mah ujang merasa tidak bahagia di sini, apa yang ujang lakukan selama mengurus usaha kalian tidak ada gunanya, sering sekali ujang merasa sangat sakit dan menangis sendiri karena seringnya diperlakukan seperti itu, seperti tidak dihargai. kemarin ketikan bapa tidak sering tinggal disini, kita merasakan sangat tenang, bahagia menjalani bisnis. tapi sekarang saat dia kembali ujang jadi sering murung, sering sakit hati, sering merasa tidak adil. ujang tidak bisa melakukan bisnis seperti ini, lebih baik ujang memulai sendiri melalui perjuangan ujang.”

bersambung.

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s