Memutuskan Tidak Bahagia

Pintu kamar itu terbuka, artinya pria itu telah bangun. anak keduanya masih saja tidur, sedangkan anak pertamanya sudah memutuskan untuk tidak terlibat dalam pekerjaan mereka dan memilih diam di kamar. tiba-tiba dia berteriak memanggil-manggil anak keduanya. anaknya mendengar hinaan pagi dan ocehan ayahnya sebagai menu sarapan, kali ini diawali dengan hinaan terhadap motornya. semua orang muak dengan motor fino nya yang entah kenapa bentuknya tidak enak dipandang. bersandar pada tembok tanpa roda dan seperti barang rongsokan.

kemarahaan lainya karena ada pekerjaan yang tidak beres di tempat usahanya, dia marah-marah dan menyalahkan semua orang, dia seolah tak peduli lagi apakah pegawainya suka atau tidak. istrinya menentang kata-kata suaminya dan memilih membela pegawai “aku stres begini terus setiap pagi, bagaimana kalau pekerja itu pada kabur, itu tuh akibatnya selama ini gak ada pekerja yang betah, segala diucap, ngomong yang lebih baik kek.” suaminya pun tak mau kalah dan tetap egois, seperti biasanya dia selalu mengatakan banyak hal yang tak mengenakan. anak keduanya melawan dan menggertak untuk meninggalkan dirinya, “silahkan, emang gue takut kalian pergi, dulu aja gue gak ketergantungan sama keluarga.” sahut ayahnya.

anak pertamanya hanya berdiam dan mendengarkan sampai mana kata-kata menyakitkan itu keluar, dia hanya menonton youtube dan kesal dalam hati. anak-anaknya telah banyak mengalami kekerasan psikologi melalui kata-kata kasar yang sering keluar. ayahnya yang begitu kuat membangun keluarga itu tetap saja membuat anak-anaknya sering kesal. tuntutan kerja yang tinggi dan tekanan lainya seperti sekarang ini.

ayahnya seorang yang mudah tersentuh hatinya, namun semua perkataanya ketika ada kesalahan begitu menusuk hati. anak pertamanya merasa kasihan dengan keadaan seperti itu, dia pun memutuskan untuk tidak ingin terlibat lagi di lingkungan tersebut di masa depan. 3 tahun anak pertamanya dalam kondisi penuh tekanan sambil merajut mimpi. sebanarnya dia tak tega untuk meninggalkan ibunya dan tentu saja dia pun ingin beri yang terbaik untuk ayahnya. hanya saja impian lain mungkin akan lebih indah untuk saat ini ketimbang berdiam di rumah dengan kondisi nyaman tapi tertekan perasaan.

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s