Kenapa Ingin WHV

Traveling ke luar negri mungkin sudah menjadi hobi baruku sejak 2011. saat saya mengetahui adanya working holiday visa dan ulasan pengalaman dari seorang pemegangnya, tentu saja saya sangat antusias ingin mendapatkanya. tapi tahukah kamu itu seperti bermimpi besar. Dari mana saya bisa mendapatkan uang syarat di tabungan dengan saldo $5000 atau 50 juta rupiah?

akhirnya impian itu hanya tertanam dalam benak saja tanpa disiram kembali dengan terus memenuhi syaratnya. begitupun keinginan tinggal di luar negri dan ingin belajar di sana atau mendapatkan beasiswa. semangat-semangat seperti itu menggebu ketika saya membaca buku-buku saja, setelah itu saya kembali kepada rutinitas yang ada di depan mata dan memikirkan tentang pengembangan diri.

ingin sukses, tentu saja, siapa sih yang nggak?
berhubung orang tua adalah entrepreneur dan saya terlibat di dalamnya dan selama 3 tahun menjadi karyawan yang mendapatkan gaji dari kerjaan itu, tetap saja saya ingin mendapatkan hal lebih terlebih dahulu.

bukan ingin mendustakan nikmat Tuhan yang ada di hadapan mata, namun setelah semua alasan sudah dipertimbangkan dengan matang akhirnya saya memutuskan untuk kembali memupuk semangat mengejar Working Holiday Visa.

1. kuliah sudah kelar dan septermber 2014 saya diwisuda.
2. cita-cita saya besar, saya ingin jadi pengusaha sukses, ingin mampu fasih dalam berbahasa inggris, ingin bekerja dan memiliki standar international, ingin punya teman-teman dari berbagai negara, ingin merasakan tinggal di luar negri, dan ingin merasakan jauh dari orang tua.
3. alasan lainya saya jenuh dengan lingkungan tempat saya bekerja.

saya sering kehilangan jati diri saya ketika di rumah, saya tak bisa tertawa lepas dan bahkan tak bisa bercanda dengan karyawan saya. padahal saya itu orangnya suka ngebanyol dan bikin lelucon tapi saya lebih sering menjadi pemurung.

sejak saya mamanage usaha, saya mendapatkan gaji sebulan 3 juta rupiah (bersih), saya jadi tidak mau meninggalkan itu, padahal kerja saya lebih nyantai dari sebelumnya. meski punya uang lumayan tapi saya merasa tidak maju apalagi setelah lulus kuliah, otak tidak berkembang.

aneh karena aura ayahku yang begitu menuntut semua anggota keluarga untuk terus bekerja, saya jadi sering kesal. pagi hari saya sering mendengar ocehan beliau dengan nada yang kurang enak dan sering melihat wajah murungnya, belum lagi kalau marah karena tidak puas dengan cara kerjaku atau aturanku, semua dibahas dan seolah semua itu salah padahal jika dia analisa hal itu bagus untuk dilakukan bahkan hari ini dia nyaman dengan sistem itu.

memiliki usaha sendiri dengan berbagai orang di dalamnya membuat saya pusing, kadang orang tua curhat atau ngambek dengan sikap si A, B, C, D dan lainya. kadang sering kasus serupa diulang berulang kali dan saya kudu siap-siap mendengarkan curhatan orang tua, atau bahkan orang tua yang jadi suka ngomentarin apapun.

organisasi/perusahaan yang bagus adalah yang saling percaya, saya merasa sudah kehilangan hal itu. saya juga muak dengan kebiasaan-kebiasaan buruk orang-orang yang ada di lingkungan ini.

SAYA SANGAT-SANGAT MERASAKAN PERJUANGAN ORANG TUA, dimata kalian mungkin saya durhaka, karena orang tua gak pernah salah. anda lihatlah postingan-postingan saya yang lainya bagaimana saya menulis rasa syukur memiliki mereka dan saya menulis sambil menangis, jadi jika anda hanya menilai dari sudut pandang anda yang menyalahkan tanpa tahu jelasnya lebih baik anda berkomentar secara general, bukan menghakimi. saya pun sadar mungkin saya yang salah.

di satu sisi saya pun sadar karena orang tua sudah mewanti-wanti diri saya untuk terlibat dalam usaha mereka, saya kan akan dijadikan salah satu pewaris juga. saya optimis sudah menguasai seluruh kegiatan produksi. tapi saya merasa belum puas dengan kemampuan diri sendiri.

mumpung saya masih muda dan orang tua masih kuat meski sudah hidup setengah abad. apa yang saya lakukan ini mungkin bisa jadi benteng dan kekuatan yang akan berguna buat masa depan saya. dan ini pun salah satu bentuk bakti saya terhadap orang tua. karena ingin mengembangkan diri dan menjadi orang yang lebih unggul.

berkat orang tua yang memiliki usaha sendiri juga, saya bisa menabung uang mereka dan memenuhi semua syarat yang diperlukan, saya juga memiliki kemudahan-kemudahan lainya karena memiliki orang tua yang cukup kuat dalam segi financial. jika tanpa mereka entah kapan saya bisa meraih WHV itu, mungkin saya perlu bekerja beberapa tahun.

* pulang dari wisuda (september) saya mengatakan untuk mengejar WHV, saya jelaskan apa itu WHV, mereka belum mengerti benar.
* Okteber – Maret saya terus mengikuti tes toefl karena nilainya selalu kurang dari 450 dan berahasil pada bulan maret
* awal februari saya mendapatkan diri di website dirjen Immigrasi Indonesia pada bagaian rekomendasi visa bekerja dan berlibur.
* Januari saya urus ijazah
* Mei saya dipanggil wawancara oleh Dirjen Imigrasi
* July Surat rekoemndasi dari dirjen keluar, artinya semua syarat yang saya ajukan sudah terpenuhi dan layak mendapatkan rekomendasi.
* July saya lodge ke Avac (kurir yang akan mengantarkan semua dokumen kita ke kedubes Australia)
* July saya menerima email permohonan medical check up
* July saya mendapatkan visanya.

semua proses ini saya lalui dengan perasaan galau dan penuh doa. tes toefl saja saya lakukan sampai 5 kali, belum lagi beberapa agenda yang terpending, sehingga cukup lama pengurusan visa ini.
saya bahagia ketika mendapatkan WHV, saya tak boleh menyia-nyiakan kesempatan itu, banyak hal yang harus saya kejar. semua itu karena pengaruh Orang tua juga.

orang lain menulis alasan mengejar WHV karena carier break, kalau saya mungkin sama dan ingin menemukan semangat dan jalan hidup baru. saya sudah menyerah untuk kembali pada kehidupan yang sekarang. saya ingin bebas, bisa mengerjakan berbagai hal dengan perasaan gembira, saya bisa bermain bersama anak-anak di manapun, saya bisa leluasa melakukan kegiatan volunteering tanpa dihakimi oleh orang lain.

mungkin dengan cara ini saya bisa merasakan kerasnya berjuang dan mungkin perlakuan orang lain bisa jadi lebih keras dari pada orang tua. semoga saya bisa mendapatkan makna-makna baik agar kelak bisa menjadi pelajaran hiduo.

semoga saya bisa mengejar impian lainya lagi.

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

6 comments

  1. Tahu nggak, pas tahu Arip berjuang ngedapetin WHV ini aku udah yakin banget bakalan dapet. Suka gitu nggak Rip, ketika suatu kondisi di mana orang bahkan lebih yakin daripada kitanya sendiri? ๐Ÿ™‚

    Aku bahkan kepikiran juga nyobain WHV kayak Arip, asli, aku jadi sangat termotivasi. Cuma banyak sekali pertimbangannya. Pokoknya sukses terus buat Arip.

  2. Nice article mas, ijin share ya ๐Ÿ˜€
    Btw, sy juga udh dpt visa ini september berangkat menuju Brisbane. Dan kondisinya sepertinya saya sm kaya mas Arip ini, sukses utk kita mas!

  3. Hai mas Arip, terima kasih untuk sharingnya. Kurang lebih mirip dengan kondisi saya saat ini saat memilih WHV.
    Jangan lelah sharing pengalamannya dengan kami lewat blog ini ya.
    Sukses untuk mas Arip selalu! ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s