Bersyukur

Ada istilah ‘tidak ada yang kebetulan di dunia ini.’ namun biar enak dan kekinian saya mau menceritakan beberapa kisah yang seperti ‘kebetulan.’ kenapa? karena saya ingat-ingat lagi kok bisa ya, seolah diantara kerisauan, kegundahan atau kegalauan yang dialami ketika menginginkan sesuatu ALLAH seperti menghadirkan banyak hal yang solah hal itu seperti kebetulan.

waktu umur 21 tahun, saat itu saya merasa harus melakukan petualangan mandiri dengan modal nekat dan uang seadanya, saya menunggu libur kuliah dengan rencana ingin mengunjungi beberapa tempat di pulau jawa. intinya saya harus bergerak, gak boleh diem di rumah terus untuk melatih mental saya. tiba-tiba saya melihat acara tv dan mengenal namanya ‘backpacker.’ jalan-jalan hemat dalam dan luar negri dengan mengatur segala kebutuhan secara mandiri. dari situlah saya mulai searching banyak informasi dan bisa berkenalan dengan salah satu bintang tamunya yaitu mba Elok Dyah yang merupakan founder Backpacker Dunia, akhirnya berkenalan dengan dia dan menceritakan keinginan saya, menanyakan beberapa hal. paling terasa adalah support dia sebelum sampai ketika sedang di perjalananya.

kemudian saat saya pulang dari India saya pengen sekali menikah, kuliah beres tahun depan, ya mungkin dengan menikah saya bisa serius sama usaha orang tua dan juga bisa berkomitmen dengan diri sendiri untuk lebih punya tanggung jawab. saya coba dong ngehubungin orang-orang yang pernah dekat dengan saya, biasanya saya cuek banget sama pesan-pesan mereka di media sosial, saya coba jalin lagi percakapan itu. ternyata saya itu tidak mudah jatuh cinta dan tidak tertarik sama mereka. saya belum pernah pacaran, hanya pernah berkenalan dan bertemu sebagai obat rasa penasaran, namun sangat sulit sekali bagi saya untuk membuat suatu hubungan dengan mereka. sampai saya bertanya “apakah saya itu mau jadi single seterusnya, tapi masa iya, apa kata orang? sepertinya lucu kalau punya keluarga, saya membangun kehidupan bersaa dia.”

entah kenapa saat itu mesjid di kampung akan membuat organisasi anak muda, yasudah saya hadir dan gereget dong sama penjelasan ustadznya ketika dakwah, ya biar anak muda itu semangat dan bergelora, saya  maju ke depan dan tertarik pada satu wajah asing yang membuat saya ingin mengenalnya lebih dalam. ketika sudah mengenalnya wah ini anak luar biasa sekali. banyak keterbatasan yang dia miliki tapi dia memiliki potensi diri yang menurutku akan bagus buat masa depanya. tapi saya juga belum memastikan bahwa dia itu yang menjadi jodohku, karena ya bisa jadi saya juga menemukan orang lain lagi. hehehe tapi saya sendiri sering merasa banyak kebetulan-kebetulan yang tak terduga setelah mengenalnya.

kemudian saya ingin  sekali memiliki pengalaman tinggal di luar negri itu, melihat orang lain yang dapat beasiswa ataupun pernah melakukan pertukaran pelajar, kok ngedengernya begitu luar biasa. saya jadi semangat dong untuk banyak belajar apapun. akhirnya ada tulisan mengenai WHV di grupnya mba Elok juga. saya baca, “kok menarik sekali gitu. tapi ada syarat yang lumayan, apa iya aku bisa mengejarnya.”

syarat yang lumayan sulit itu adalah memiliki uang 50 juta, selebihnya saya bisa usahakan. saya jadi semangat kerja dong. traveling ke luar negri off sementara, pernah sih menyerah dan akhirnya saya belikan kamera uang tabungan dan jalan-jalan ke Bangkok.

menjelang akhir kuliah, bapa saya sudah memberikan tanggung jawab keuangan perusahaan. saya mengatur keuangan dia. berulang kali saya kena marah karena sedikit sekali pemasukan buat dia, saya selalu beralasan bahwa karena hutang kita banyak dan jumlah produksi kita yang terus naik, sehingga bahan baku yang dibeli harus banyak, dan memang hasil produksinya banyak sehingga dia percaya juga. saya pun berhasil mengumpulkan uang dengan saldo 75 juta dan saya berikan ketika menjelang ada tanda-tanda akan granted.

8 bulan lebih mempersiapkan sambil mengikuti setiap prosesnya, di grup WHV Indonesia ada yang posting, namanya pa Rudi yang menawarkan pekerjaan serta rumahnya untuk menginap di awal-awal ke Australia. wah saya langsung antusias dong sama dia, tapi ada sih rasa curiga. ya setelah kini beberapa hari saya di rumahnya, sangat betah. tinggal bersama keluarga dan beberapa orang yang tinggal/ngekos disini. salah satunya adalah mba Desi istrinya mas Adil yang tempo hari saya share tulisanya di Kompasiana. ketika saya liat tulisanya itu masih 0 orang yang share, tapi ketika saya share linknya itu tulisan langsung banyak diberanda, bahkan di share oleh kompas.

senang sekali rasanya, apalagi pa Rudi ini juga membantu banyak sekali, membuat beberapa dokumen. bahkan memberikan jatah-jatah part time job buatku.

semoga kelak saya bisa menemukan orang-orang baik juga ya ketika saya ingin mencapai sesuatu. dulu ayah saya selalu marahin kalau saya itu gak mau dengar apa perkataan dia. saya anggap dia itu selalu marah karena selalu ngomentarin cara kerjanya. ternyata sekarang saya harus banyak belajar dari banyak orang agar bisa bekerja dengan baik.

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s