Dance with my father

Dance with my father adalah sebuah lagu yang aku tahu dari Joe Mc Eldery yang menyanyikan lagu ini di saat pertama kali dia ikut audisi. kemudian saya jatuh hati pada lagu itu dan sering menyanyikanya, apalagi suara penyanyi dari yang punya lagu itu (Luther Vandros), keren sekali rasanya dan menyentuh.

 

beberapa kali sering aku menyanyikan lagu ini dan kadang sambil bekerja sambil mata-mata sedikit berkaca karena lyricnya.

 

 

entah kenapa ketika jauh dari keluarga, hanya ayah yang begitu aku rindukan, padahal di ketika di rumah kita lebih sering bertentangan pada banyak hal.

 

 

aku pikir ayahku terlalu berlebihan kepadaku, padahal aku sering bekerja, rajin, jarang main dan cukup nurut, tapi selalu saja ada yang salah dalam beberapa hal dan sering kali memakiku dihadapan banyak orang.

 

aku juga begitu, merasa dia itu memiliki beberapa kegiatan atau kebiasaan yang aku anggap buruk. aku sering menentangnya bahkan melontarkan kata-kata yang kurang baik karena tidak suka dengan kegiatan atau kebiasaan itu.

 

 

aku tahu dia memiliki hati yang baik yang dicover dengan tubuhnya yang keras. terakhir kali sebenarnya dia tak begitu setuju aku pergi, tapi aku ngotot ingin menjalani kehidupan baru dengan sebuah petualangan yang kurasa akan banyak memberi dampak padaku seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya.

 

bedanya kesempatan kali ini aku ingin membuktikan pada diri sendiri bahwa kini aku berani, bisa hidup mandiri tanpa sandaran orang tua, seberapa tangguh aku dan sebatas apa kemampuanku, seolah itu pemicu untuk segera pergi.

 

aku tahu dalam diam dia pun berdoa dan mungkin menangis untuku, aku tahu dia pun ingin aku berada di sampingnya meski aku menjengkelkan, aku tau dia ingin aku membersarkan usahanya, aku tahu dia ingin aku bersumbangsih banyak untuk dirinya, aku tahu dia ingin aku juga memiliki derajat yang baik, aku tahu dia juga sebenarnya bangga padaku, namun dia terlalu angkuh sehingga aku pun sering merasa kalau aku ini seperti bukan anaknya.

 

kita hanya pernah hidup di generasi yang berbeda dan kita tidak bisa saling mengkomunikasikan apapun dengan baik.

 

 

ketika aku menelpon ibuku, aku tahu bahwa dia berada di samping ibuku dan mendengarkan apa yang aku utarakan pada ibuku. sesekali dengan jarak itu pun aku berani berterima kasih dan meminta maaf pada ayahku dengan perasaan terbuka.

 

semakin aku jauh dari mereka, aku semakin mengerti mengapa mereka melakukan hal demikian dalam membentuku, kini aku pun harus benar-benar bisa menunjukan kepada mereka apa yang aku niatkan dan lakukan ini baik dan akan berguna.

 

 

mereka hampir tak mengetahui apa yang ada dalam isi kepalaku, mimpiku dan harapanku. mereka hanya tahu bahwa aku itu selalu membuat kebodohan dan seperti tak pernah serius.

 

sebenarnya aku pun masih merasa belum banyak menunjukan pada mereka apa yang sudah aku lakukan. aku belum melakukanya dan aku harap besok aku melakukanya dengan bimbingan ALLAH.

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s