Pulang

Aku sudah gelisah, bagaimana aku memberi tahu keluargaku yang ingin menjemputku di Airport. Pesawatku delay sejam lamanya dan aku memprediksi bahwa penerbangan berikutnya tak bisa kukejar. Aku mengutuk diriku yang bodoh karena mengambil dua jam untuk transit.

orang melihatku dengan muka tertekuk hingga mereka enggan menawarkan sesuatu. semakin larut ada seorang duduk di sebelahku sambil membawa tas dan kardus kecil. dia menanyakan jam berapa? lalu mengajaku mengobrol.

obrolan itu semakin menarik ketika dia menceritakan pengalamanya ketika muda harus berjuang keras untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. aku melihat jaket yang dikenakanya bukanlah jaket murahan. apa yang dia kenakan terlihat sederhana dan anggun.

mendengarkan adalah sesuatu hal yang penting ketika sedang mengobrol dengan orang tua, banyak orang yang lebih tua lebih suka bercerita, apalagi ketika bercerita tentang pengalamanya. perjalanan juga membuatku terbuka untuk menerima asupan ilmu dari siapapun, bahkan aku bisa menjadi pendengar yang baik.

pria tua itu bernama Hasan. Istrinya telah meninggal beberapa bulan yang lalu. dia ingin mengunjungi cucu dari anak perempuanya yang kedua yang tinggal di Jakarta. “kalau bapa pergi ke Jakarta, bapa selalu pergi ke terminal Tanjung Priuk. dulu bapa pernah menjadi kondektur bus tiga perempat disana.”

 

 

 

mentok gue, keabisan ide.

 

 

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s