Awal Sebuah Cinta

Andi memutuskan untuk berlibur dan mendamaikan dirinya di Vientien, ibu kota Laos. Dia memiliki sahabat yang sedang bekerja di sana dan sudah lama ia kenal. Rani adalah teman semasa kecil Andi di Jakarta. mereka berpisah saat menginjak bangku SMP. Ibu Rani bekerja di Korea sebagai pembantu dan mendapatkan suami warga negara Laos. Kini Rani tinggal bersama ibu, ayah tiri dan saudara tirinya.

Rani tinggal di rumah yang iya sewa sendiri, dia memutuskan untuk tinggal terpisah dengan keluarganya setelah mendapatkan pekerjaan dengan baik sebagai seorang akuntan. Kehidupan Rani biasa saja, kenangan masa lalu selalu membuatnya teringat akan sosok Andi. Andi sudah seperti seorang kakak yang selalu membantu dan menjaganya di masa kecil.

Andi merupakan seorang petualang, sudah ratusan gunung dia daki. Pria dengan tubuh gemuk dan tinggi ini memiliki kulit yang hitam dan rambut yang hitam legam. banyak wanita yang menyukai pria yang memiliki lesung pipit mungil dan dagu yang tirus. Dia tidak pernah terlibat dalam urusan percintaan, baginya susah untuk menemukan seseorang yang membuatnya bergetar.

Sebuah album yang sudah lama tak pernah Andi buka menarik perhatianya. matanya terpaku kepada sebuah foto gadis kecil yang menjadi sahabatnya dulu. Andi mengingat kembali, lalu dia pun mencari tahu tentang Rani melalui Facebook. Rani ternyata sudah berteman dengan teman-teman semasa Sekolah Dasar dulu di Jakarta. Andi pun menemukan profil Rani dan membuka semua isi profil Rani.

Andi sedang dirundung kebingungan, dia memiliki kehidupan yang menyenangkan sebagai seorang petualang, namun hatinya hampa dan merasa kesepian. percakapanya dengan Rani melalui chat membuatnya berniat untuk bertemu dengan Rani. tiket murah pun dia dapatkan dan segera mengabarkan bahwa Andi akan segera ke Laos.

Laos adalah negara yang tidak pernah ada dalam keinginanya untuk dikunjungi, Andi hanya ingin bertemu sahabat dan menikmati ibu kota yang sederhana seperti yang dikatakan Rani. Rani menjemput Andi di Airport, pemandangan yang Andi lihat begitu biasa saja. Andi melihat Rani nampak berbeda dari foto-fotonya yang ada di media sosial. Rani begitu sumringah dan tak berhenti tersenyum. Rani sudah hampir lupa berbahasa Indonesia

Andi mendapatkan tempat berisitirahat di ruang tamu, dia menolak tawaran Rani untuk tidur di kamarnya dan Rani tidur di ruang tamu. layaknya teman lama yang sudah lama tidak bertemu, banyak sekali obrolan yang dibahas. sesekali mengenai masa kecil mereka dan pengalaman traveling.

hari berganti malam, Andi dan Rani berjalan menuju pasar malam untuk mencari makanan. ada restauran sederhana langganan Rani, kari ikan di tempat itu begitu enak. Andi begitu menikmati Kari ikan dan tom yam yang rani rekomendasikan. Rani selalu mencuri pandang ketika Andi sedang makan, dia membayangkan Andi yang masih kecil ketika sering ikut makan bareng keluarga Rani.

“kamu liat apa Rani?” Andi memergokinya.

“ahk tidak, aku takut kamu gak suka saja sama makanana.”

“tidak, ini begitu enak sekali, terima kasih ya.”

senyuman andi membuat Rani berbunga, ingin sekali rasanya dia membalas senyuman itu dengan kesumringahanya. setelah makan usai, mereka berjalan kaki menuju pulang, melihat toko bunga yang sedang sibuk.

“aku senang kamu di sini.”

“aku juga senang bisa bertemu kembali, aku merasakan perasaan yang sama saat kecil.” seru Andi.

“How about Vientine?” Rani mencoba mencari topik baru.

“oh, if you didn’t invite me, I wont come here, and this city is simple but lovely couse I walk with you.”

“kamu sekarang tinggi dan gemuk, padahal dulu kamu kurus.” Rani menggoda.

“ibuku selalu membuat makanan enak, I am getting fat. kue di rumahmu juga enak-enak tadi.” Andi menatap matanya.

“bagaimana dengan kuliahmu?”

“Aku jarang masuk kuliah, ini sudah semester ke 6. I don’t know.” Andi tak begitu suka membahas hal ini.

tak terasa mereka sudah sampai di rumah. andi mencuci kaki dan membereskan sofa tidurnya. Rani mendekat dan duduk di samping. mereka menonton sebuah acara dari Thailand, acara yang Rani sukai. Andi mengambil gelas yang berisi teh, dan menikmati mangga yang Rani potongkan.

Semakin larut Andi menarik selimut dan tidur, Rani sudah berada di kamar. tak lama kemudian Rani membawa selimut dan meminta Andi untuk memperbolehkanya tidur di sampingnya. Andi pun tak merasa risih, kehidupanya sebagai seorang petualang sudah membuatnya terbiasa dengan hal seperti itu.

 

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s