Jadi Student di Australia

Sebenarnya gue tuh ragu antara mau melanjutkan pendidikan lagi apa nggak. Tapi, gue begitu nyaman dengan kehidupan di Australia, jadi gue yakin memutuskan kembali ke Australia dengan menggunakan student visa. 

I felt like I’ve spent my time after worked and holiday in Australia. I had been doing nothing for almost 9 months in Indonesia and other country. Ya I traveled a lot and spent much money too.

Bisa dibilang ini semua karena IELTS. Memang ielts itu agak intricate dan harus belajar, gak bisa asal-asalan test aja. Ditambah setelah work and holiday, gue jadi manusia pemalas, buka buku pun kaga mau. Emang gue kaga suka belajar juga sih. Gimana bisa dapatin skor yang bagus kalau begitu. Cuman gue ngerasain dengan belajar ielts, belajar english lebih enak aja gitu. Setelah 3 bulanan gue belajar dengan berbagai cara. Akhirnya gue mendapatkan nilai 5.5. Skor ini sudah cukup sekali untuk mencukupi syarat kuliah cookery.

Gue memutuskan ke Darwin lagi, padahal banyak sekali anak Work and holiday visa holder dari indonesia yang pergi ke bagian utara australia untuk mendapatkan second year visa. Beruntungnya mereka, karena mereka bisa mendapatkan kesempatan begitu. Tapi gue optimis kok, walaupun persaingan di Darwin akan semakin banyak. Gue bisa dapat kerjaan nantinya untuk bayar kuliah.

Bersyukur pula gue pernah kerja di tempat lama dan cukup memberikan kesan yang baik, sehingga gue bisa dengan mudah meminta kembali pekerjaan. 

Nah untuk student sendiri. Gue diperbolehkan bekerja hanya 20 jam dalam seminggu. Tentu ini tidak cukup sebenarnya untuk bayar segala macam. Apalagi biaya pendidikan di Australia terkenal dengan mahalnya. Tapi kalau diimbangi dengan bekerja di Australia, pendidikan di Australia cukup terjangkau kok.

Dalam proses mendapatkan student visa, gue dibantu oleh Nona Fitria yang merupakan senior work and holiday yang kini tinggal di Australia. Dia bekerja di study net yang merupakan agent pendidikan. Nona begitu helpful dan sabar banget. Dia juga yang mentraslete semua dokumenku. 

Ada dua proses inti yang harus dilalui.

1. Mendaftarkan diri ke tempat dimana kita mau sekolah, baik itu college ataupun university

2. Apply student visa.

Nona juga tidak meminta fee. Semua biaya yang gue keluarkan memang untuk biaya kuliah dan permohonan visa saja.

Honestly, pasti normal terjadi pada siapapun yang sedang apply visa. Gue juga termasuk anak yang sering deg-degan atau takut my visa is not granted.

Gue sendiri memilih untuk belajar cookery di charles darwin university dan bakal ambil yang intake pada bulan july 2017.

Gue ambil test ielts pada bulan januari 2017.

Setelah mendapatkan hasil IELTS gue mulai mengirimkan beberapa dokumen yang diperlukan.

1. Passport

2. KTP

3. Kartu Keluarga

4. Ijazah SMK dan Kuliah beserta transkrip nilainya

5. SIUP/Tanda Daftar Perusahan dan surat lainya yang menyangkut usaha. karena orang tua gue memiliki usaha sendiri, gue gak melampirkan slip gaji ataupun NPWP.

Semua dokumen di atas cukup discan dan diserahkan kepada Nona Fitria.

Kemudian syarat tambahan lainya adalah;

6. SOP atau surat yang menyatakan kenapa sih kita kuliah pada bidang itu. (Menggunakan bahasa inggris)

7. Bukti pendukung yang bisa memperkuat alasan kenapa ambil kuliah jurusan tersebut. Gue sendiri melampirkan slip gaji di beberapa tempat kerja saat gue work and holiday dulu.. kebetulan gue banyak kerja di bidang kuliner. (Menggunakan bahasa inggris)

9. Surat pernyataan dukungan dari orang tua yang ditandatangani diatas materai (menggunakan bahasa inggris). Surat ini ada yang ditunjukan kepada sekolah dan embasy.

10. Syarat yang paling berat mungkin adalah mengenai keuangan:

Selama work and holiday gue cukup bisa menabung banyak, jadi tinggal kurang sedikit lagi. Saat itu juga bertepatan dengan ortu gue yang baru pinjam duit ke bank untuk beli tanah. Gue pinjem dulu lah, sebelum mereka beli tanah. Alhamdulillah gue bisa menunjukan bukti keuangan yang cukup besar.

Bukti keuangan yang dilampirkan bisa scanan buku tabungan, bank statmen ataupun rekening koran. Gue sendiri memilih menggunakan bank statment. 

Untuk mengetahui berapa biaya yang dibutuhkan atau berapa saldo yang bisa ditunjukan sebagai bukti keuangan bisa ditung kasar. Misalnya begini.

Biaya kuliah gue pertahun itu 14.000 $AUS + Biaya hidup pertahun 19.000 + 2000 biaya apa gitu.. jadi kurang lebih yang harus ditunjukan di saldo sekitar 35,000 $… lebih bagusnya kalau kamu nunjukin lebih. Biar tenang aja gitu.
Kayaknya negara australia itu gampang deh untuk urusan apply visa, asalkan semuanya terpenuhi dan masuk akal, yaudah granted gitu.
Nah tantangan selanjutnya bagi gue adalah gimana bisa membayar biaya pendidikan dan hidup selama di Australia nanti.

14,000 : 52 minggu = 269.2$

Biaya accomodation = 120

Biaya makan = 100

Biaya lain-lain = 100

589.2$ perminggunya harus bisa gue dapatin untuk mencukupi biaya pendidikan gue.

Sedangkan gue cuma boleh kerja 20 jam aja, yang dimana gaji bersihnya itu rata-rata $17/ jam * 20 jam/minggu = 340$ ini hanya cukup untuk biaya makan hidup doang. Gimana dengan biaya kuliahnya.

Ada beberapa bulan dalam setahun dimana gue bisa kerja full/unlimited. Nah saat itulah gue bisa menggunakanya untuk mengejar biaya kuliah. Makanya harus nyari tempat kerja yang bisa ngasih jam kerja panjang.

Ini cuma itungan gue aja ya. Pada kenyataanya di Australia juga banyak kok jenis pekerjaan yang bayaranya cash, cuma tergantung di mana kamu kuliah. Di kota besar mendapatkan pekerjaan dengan bayaran cash itu lebih mudah jika dibandingkan dengan darwin. Jadi gue juga bisa nyari uang tambahan dari pekerjaan yang ngasih bayaran cash. Cuma ya gak bisa banyak juga. Hehehe

Kita lihat ya, gimana gue bisa bertahan di Australia. Setidaknya, gue gak minta duit lah ke ortu untuk semua biaya yang gue butuhkan ini. Gue pun seneng banget bisa kembali ke Australia lagi.

Gue salut sama temen-temen yang di INdonesi dulu, mereka hebat, bisa bayar kuliah sendiri. Di Australia pun banyak sekali student yang kuliah dengan biaya sendiri, bahkan biayanya jauh lebih mahal dari pada bayaran kuliah gue.

Yuk mumpung kita masih muda, kita push diri kita sampe limitnya gimana sih. Berjuang keras. Gue yakin suatu saat kita bisa juga jadi bagian dari orang-orang hebat.
Guys thanks ya udah baca…

Advertisements

Written by Arip Hidayat

Saya suka belajar banyak hal, asik buat ngobrol, royal, suka ketawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s